Kenapa Menjadi Pemikir (Filsuf) Justru Peluang Menjadi Jomblo Sangatlah Besar? | DAILYPOST.ID

Headlines

Kenapa Menjadi Pemikir (Filsuf) Justru Peluang Menjadi Jomblo Sangatlah Besar?

Foto: istimewa
Oleh : Alwy Satingi

ARTIKEL DAILY- Ironi memang dalam memaknai Jodoh para orang bijak atau para pemikir (filsuf) Justru mengalami kekacaun dalam menyikapi persoalan Jodoh, bahkan dalam hidup, Jodoh termasuk dalam hal prioritas. Alih-alih ingin mendapatkan kebahagiaan dalam memaknai Jodoh, Justru hal semacam itu bisa saja membuat para filsuf terjebak dan bias dalam menentukan pasanganya terlebih pendamping hidupnya.

Mungkin tidak sedikit para Filsuf yang tidak menikah, Entah apa yang merasuki mereka, sebut saja Rocky Gerung filsuf yang sering nongol di acara tv indonesia, selain itu pada abad ke-20 ada Nikola tesla dan banyak Ilmuan yang melajang selama umur hidupnya.

Siapa yang tak mengenal Nikola tesla orang Amerika yang berkebangsaan Kroasia ini dikenang berkat penemuanya
Yaitu mekanisme alternating current (AC) dalam bidang kelistrikan dan prediksi jeniusnya tentang dunia nirkabel. orang-orang mengenang namanya, kini namanya ada dimana-mana, dikenang akibat penemuanya.

Penting untuk diketahui bahwa filsafat dalam artian secara umum adalah sebuah pemahaman mengenai Kebijaksanaan, kita bisa mengetahuinya secara spesifik dalam mengartikan filsafat secara terminologi yang mengartikan Cinta akan Kebijaksanaan.

Banyak yang berasumsi bahawa filsuflah yang memahami segalanya terlebih dalam urusan Penemuan, tak ayal filsuf terkesan hebat akibat pengetahuanya yang cenderung lebih Produktif.

Namun kita kembali ke kutipan paragraf awal, Meskipun filsuf terkenal dengan Ide maupun penemuan Cemerlangnya namun belum bisa menetukan posisi dalam meneguhkan pendamping hidupnya.

Dalam menentukan arah kita kembali ke pengertian sebenarnya apa arti filsafat, yaitu “Cinta akan Kebijaksanaan” disini kia akan cenderung lebih kontras dalam memahaminya.

Meskipun pemikir (filsuf) mengadalkan peranan logika dalam mengambil keputusan namun hal ini apakah wajar jika harus dipergunakan pada konteks romansa.

Baca Juga |  Bupati Nelson Minta Daftar Penerima Bantuan Dipajang Secara Transparan

Terlebih jika pemikir justru membaca serta melihat keadaan mengunakan logika ketimbang hati.

Lebih jelasnya, filsafat mungkin bisa dikatakan sebagai usaha untuk memastikan sesuatu. Itulah sebabnya rasa ingin tahu menjadi patokan utama ketika kita memaknai arti filsafat sebenarnya, karena pada dasarnya kita akan cenderung berusaha mendapatkan sebuah kepastian.

Bukan hal yang tidak mungkin jika pada akhirnya para filsuf (pemikir) akan selamanya menjomblo. Poblemnya akan sulit diurai jika pemikir masih terjebak dengan dominasi logika yang memaksa mereka bersembunyi dalam aturan yang ilusif dan dominatif. Parahnya lagi kita akan mengalami kekacauan dalam mecari sebuah kepastian, misalnya: jodohku harus multi-ability begini begitu, harus cantik, pengertian, dan tentunya cerdas, akhirya dalam memenuhi keiginan berfikir kita, tak satu pun realitas yang terpenuhi.

Kemungkinan besar para pemikir masih belum bisa menentukan posisi dalam mencari pasangan hidup yang sesuai dengan apa yang cenderung dipikirkanya, bagi pemikir mereka selalu khas dengan nuansa mempertaruhkan sisi Individualismenya, selain itu Kegamangan menjalani hidup bersama orang lain juga bukan tidak mungkin menjadi penyebab ia akan selalu menetap menjadi bujang meskipun merasa tidak sendiri dan terkesan hidup ditengah-tengah orang banyak.

Pada Hakikatnya pencarian jodoh itu tidaklah harus dipaksakan terlebih menyesuaikan dengan model pola pikir kita yang cenderung tidak fleksibel, selain itu penerapan metode seleksi agar mengetahui bahwa ia selayak-layaknya orang yang pantas dimiliki adalah hal yang tidak perlu dan ilusif, namun lebih dari itu, kita harus merasakan bahwa ia sepenuhnya manusia yang betul-betul berharga

Pada kenyataanya kita wajib menuntaskan kewajiban kita selama menjalani sisa hidup hal itu dibarengi dengan kesan positif dan objektif. Hal ini disebabkan karena arti hidup manusia belumlah final sebelum menghadapi kematian. Justru setelah kematian, arti hidup manusia bisa dimaknai seperti apa.

Baca Juga |  Cegah Covid-19, BSG Cab Limboto Imbau Nasabah Manfaatkan Aplikasi Digital

Kita harus kembali memahami apa yang sebenaranya harus dipahami, terlebih jika ingin memaksakan mencari jodoh yang terbilang sempurna.

Comments
To Top