PERPISAHAN YANG TAK BISA UNTUK DITAHAN! | DAILYPOST.ID
Headlines

PERPISAHAN YANG TAK BISA UNTUK DITAHAN!

Foto: istimewa

ARTIKEL,DAILY– Saya tentu rela membutakan waktu dengan banyak orang, berselisih paham dengan mereka akibat membela sang pujaan hati. Rela bertahan dengan sekuat-kuatnya asal ia tak kunjung pergi. Parahnya lagi separuh waras-ku ku abaikan. Apapun itu rela bersedia melakukanya. Asalkan tetap bersamanya.

Rela melonggarkan kepentingan yang lain demi kepentinganya.hal ini menjadi hal yang lumrah pasca moment bersamanya, selain itu panjang rentang waktu kami lalui saya mencoba menjarak-kan masalah sejauh-jauhnya demi rela mendapati hubungan yang rapi.

Saya Mencoba menekan ego dan mengedepankan sikap Bijaksana sebisa-bisanya, perlahan saya pijaki dengan hati-hati, namun seperti bahasa pepatah “tak ada Jalan yang tak berlubang”
kami tetap menyinggahi perselisihan, Problem semacam ini sudah dipastikan dia datang dan dia akan menang dalam hal saling debat memperebutkan “kebenaran”.

Loading...

Hingga saat itu, saya memulai pertengkaran Hebat dengan dirinya, pertengkaran dimulai degan masalah yang terbilang sepeleh, namun berputar berulang kali, memakan waktu menghabiskan energi dalam sebuah persoalan yang membuat dilematis.

Hal ini terus terjadi, puncaknya kita berdua kehilangan kendali, perlahan ego naik memuncak, memaksa darah naik hingga ke kepala, rasa takut kehilangan terus menghantui menyelimuti separuh isi kepala, sontak otak memerintahkan untuk melakukan pembenaran memaksa semua harus dijelaskan dengan berharap hasil tak menyakitkan jika mendengarkan, alih-alih untuk mendapatkan pembenaran kita berdua malah tenggelam dalam konflik yang berkepanjangan.

Ia mengahakimi saya, entah menutupi kesalahanya atau sengaja menjadikan saya Lemah dalam mengarungi hubungan ini. Demikian saya dengan niat yang penuh Optimis ingin menanyakan semua kejadian yang begitu kental dengan keanehan.

Loading...

Kami mengakhiri semua itu, saya mendapatkan pembenaran lewat penjelasanya namun semunya belum bisa menawar kenyataan yang Aku ketahui itu adalah pedih.

Semua itu pada akhirnya berakhir dengan Perpisahan. dengan argumen-argumenya yang meluap menjawab semua pertanyaan saya, dengan kata ia berucap “Aku lelah” kita sudahi saja ini “Aku Ingin Kita berpisah” ucapnya. Parahnya lagi ia menambahkan dalam ucapanya melalui Via telepon Whatsapp, ia merencanakan akan menutup semua kontac dengan saya, Ucapanya begini “Aku akan blokir kamu di semua jejaring sosial media, entah itu FB, WA, maupun Instagram,” tegasnya.

Saya tertegun diam, memasrahi keadaan yang sejujurnya sakit bila di dengar Apalagi untuk menerimanya.

Di dalam fikiran bekata, padahal itu semua adalah aplikasi yang Kerap kita gunakan untuk saling berbagi rindu, meluapkan ganasnya Cinta lewat VideoCall, hingga saling terlelap diatas ranjang hingga terbangun kembali, kemudian membuka mata lalu mengambil handpone yang terletak diatas kasur tempat tidur, sekedar memastikan apakah panggilan masih berlangsung atau tidak, jika tidak atau panggilanya telah mati, pasti kita bertanya-tanya hingga banyak dugaan menghampiri, menanyakan semalam hingga pagi apa yang terjadi hingga sambungan telepon kita berdua tiba-tiba mati, akhirnya saya memutuskan untuk percaya bahwa itu adalah kesalahan jaringan sebab sudah berulang kali terjadi.

Kembali kepada moment sebelumnya, ia terbawah dengan kondisi, wajahnya seketika marah mengambarkan sosok harimau menyeramkan yang siap menerkam lalu melarikan diri.

Saya tertegun diam tak berkutik, melihat keadaan yang sudah pasti memposisikan saya di pojok walaupun saya merasa tidak pernah melakukan kesalahan, saking emosinya ia melampiaskan beberapa kalimat yang tak enak di dengar, aneh bukan, ia segera menyudahi telfon yang sedang berlangsung, tak lupa saya bergegas menimpali ia dengan beberapa kata untuknya, kata saya dengan berat hati “Oke kalu itu mau mu, Aku terima “ucap saya.
terakhir ku tambahkan “Aku minta Maaf” lagi pula, saya meyakini kemarahan tidak akan menyelesaikan masalah.

Setelah itu saya mencoba mengingat kembali Kejadian di waktu bersamanya, hal itu memang memalukan jika apa yang kulakukan kemarin adalah perbuatan yang tidak perlu saya lakukan apalagi untuk seseorang yang menutup hatinya terhadap besarnya luapan Cinta yang sekarang berganti Duka. Ingatan saya mulai mengingat, hasilnya saya pernah menjadi pengecut, memungut cinta darinya, membunuh nalar demi bisa membuatnya bahagia.

Panjang waktu berlalu, saya Iklas sebatas kata, hati tak kuasa menahan luka, saya mencoba membuka ruang terhadap orang lain, berharap ada sedikit ketenangan yang kudapat, wajah saya terlihat suram, sontak teman saya bertanya-tanya, saya mencoba menjelaskan, teman-teman saya menanggapi salah satu dari teman saya mengatakan untuk memperbaikinya dan segera minta maaf, ada juga yang mengatakan sudahi saja, kau pasti akan mendapatkan yang lebih baik darinya. Perasaan saya tak tentu arah, Kekecewaan adalah hasilnya.

Entah kenapa saya masih berfikir untuk ingin menutupi kesalahanya dan menginginkan ia kembali, Saya bernisiatif untuk memperbaiki semuanya, saya mencari energi yang tersisah, segenap kemampuan itu bertujuan untuk menyerangnya agar hatinya dapat dikuasai kembali. Mirisnya hal itu tak kunjung terpenuhi, pada kenyataanya Ketidak Pedulianya begitu tinggi, ia mencampakan saya bak seorang tokoh komunis yang hidup di era-dlu.

Saya mengalami kekecewaan yang cukup dalam dan Jatuh tersungkur bersimbah luka, semakin lama, hari-hari telah dilalui, namun yang di dapati masih belum berbeda rasanya. Pada kenyataanya luka lebih dalam meskipun telah menguburnya dalam-dalam.

Kita berdua mengakhiri cerita dengan kepedihan, kau merampas kebahagiaan yang seharusnya itu di bagi untuk kita berdua.

Penulis : Alwy Satingi
Loading...

Comments
To Top
Aktifkan Notifikasi DAILYPOST.ID?    Yes No