Meski Ditawar Miliaran Rupiah, Bapak ini Memilih Wakafkan Tanahnya untuk Masjid

  • Bagikan
Pasangan suami istri, Ismeth Faisol (66) dan Nur Hasbiah (54), mewakafkan tanahnya untuk Masjid Al Majid di Bukit Kemuning, Lampung Utara. [Suaralampung.id/Santo]

DAILYPOST.ID, Network – Tanah seluas 17 Hektare milik Ismeth Faisol (66) pernah ditawar dengan harga di atas Rp3 Miliar.

Bagaimana tidak, lokasinya yang strategis membuat tanah tersebut menjadi incaran para pengembang bisnis.

Namun, Ismeth yang diketahui merupakan pensiunan PNS itu, lebih memilih untuk mewakafkan tanah tersebut pada pembangunan Masjid Al Majid di Bukit Kemuning, Lampung Utara.

Ia menggambarkan, jika tanah seluas 17 hektare lebih itu dijual, uangnya untuk beli mobil mewah atau benda berharga lainnya. Namun kata Ismeth mobil mewah dan benda berharga tidak akan menjamin dirinya ketika di alam barzah kelak.

“Sebelum tahun 2014 beberapa kali pengusaha mendatangi kami, menawar tanah kami dengan harga fantastis di atas 3 miliar waktu itu tapi tidak saya lepas, karena saya dan istri saya ada rencana yang lebih berharga, lebih besar nilainya dari Rp 3 miliar itu,” tegas Ismeth.

Dikutip dari lampung.suara.com, Sabtu (16/10/2021) tanah tersebut terletak di sekitar Jalan Lintas Sumatera.

Masjid Al Majid di Bukit Kemuning Lampung Utara. [Suaralampung.id/Santo]
Ismeth mengaku, selama dua tahun telah mencari sebuah lembaga atau yayasan yang mau menerima tanah yang hendak diwakafkan.

Di tahun 2016 Ismeth menemukan yayasan yang tepat melalui saudaranya yang berdomisili di Jakarta, yayasan tersebut yaitu Dompet Dhuafa.

“Tepat 2016, dimediasi oleh keluarga kami di Jakarta, terjadi pertemuan dengan petinggi Dompet Dhuafa, dan terjadi sebuah ikrar progres pemanfaatan lahan yang kami wakafkan,” ucap Ismeth Faisol.

Setelah terjadi kesepakatan dan sepemahaman antara yayasan tersebut dan keluarga Ismeth, lahan seluas 17.490 meter diwakafkan. Rencananya lahan 17 ribu meter diwakafkan sementara 490 meter disisakan untuk tempat tinggal penunggu masjid.

“Alhamdulillah 2018 yayasan Dompet Dhuafa berhasil membangun masjid yang megah ini, dan bermanfaat bagi banyak orang. Tinggal progres kedepan pembangunan rumah sakit swasta yang rencana masih satu lahan dengan Masjid Al Majid ini,” imbuh Ismeth.

“Motivasi saya dan istri saya mewakafkan lahan seluas 17 hektare lebih ini untuk dibangun masjid dan rumah sakit, agar ketika kami dipanggil Sang Khalik, bisa menjadi amal baik kami dan menjadi teman abadi kami ketika sudah dipanggil Sang Khalik,” tutupnya.

Sementara itu, Muammar (35), seorang takmir Masjid Al Majid mengatakan, masjid tersebut tidak pernah lengang dari kunjungan umat Muslim. Bahkan setiap hari dijadikan tempat menimba ilmu (ngaji).

Setiap hasi Selasa dijadikan tempat ibu-ibu dengan jumlah 30 jamaah untuk melakukan pengajian, setiap habis magrib bapak bapak mengaji, setelah Isa diisi oleh anak anak muda untuk mengaji, dan sesudah ashar anak-anak dibawah usia 12 tahun juga mengaji di Masjid A-Majid tersebut.

“Itu orang orang yang rutin, sementara hampir setiap waktu jadwal salat ada saja pengguna jalan dalam perjalanan jauh, melepas lelah sembari menjalankan ibadah salat wajib di masjid ini,” kata Muammar.

Meski Ditawar Miliaran Rupiah, Bapak ini Memilih Wakafkan Tanahnya untuk Masjid

  • Bagikan