Awas!!! Trend LGBT di Gorontalo, Alan Pakaya: KPA Harus Bangkit!

  • Bagikan

DAILYPOST.ID, Gorontalo – HIV/AIDS sudah menjadi isu kesehatan di dunia, bahkan menjadi ancaman mematikan. Namun sayang, dua tahun belakangan ini isu tersebut seakan “mati” tertimbun oleh Pandemi Covid-19. Padahal, HIV/AIDS justru lebih berbahaya dibanding Virus Corona.

Data terakhir, sesuai laporan Ditjen P2P dari Kemenkes RI, tanggal 25 Mei 2021, jumlah kumulatif kasus HIV/AIDS di Indonesia sejumlah 558.618 yang terdiri atas 427.201 HIV dan 131.417 AIDS.

Jumlah kumulatif kasus HIV/AIDS yang terdeteksi pada priode Januari – Maret 2021 sebanyak 9.327, terdiri atas 7.650 HIV dan 1.677 AIDS yang dilaporkan 498 kabupaten dan kota dari 514 kabupaten dan kota di Indonesia.

Diketahui bersama bahwa HIV/AIDS bisa menular melalui berbagai hal, contohnya penggunaan jarum suntik, tranfusi darah, dan yang paling berisiko adalah seks bebas. Seks bebas sendiri juga berkaitan dengan LGBT atau lesbian, gay, biseksual, dan transgender yang disebabkan oleh pergaulan yang menyimpang.

Berbicara mengenai resiko tentu ada juga upaya pencegahan. Upaya pencegahan inilah yang harus dibackup dengan edukasi dan sosialisasi yang intens kepada masyarakat.

Seperti disampaikan Alan S. Pakaya, S.I.Kom selaku kader penanggulangan dan pencegahan AIDS di momen Hari Aids Sedunia, Kamis (1/12/2021).

“Di Hari Aids Sedunia ini, saya selaku kader penanggulangan dan pencegahan AIDS di Gorontalo ingin menyampaikan beberapa hal. Pertama, perlu diingatkan lagi bahwa HIV/AIDS ini adalah penyakit yang tidak ada obatnya. Jadi, tidak ada obat untuk menyembuhkan, tapi obat untuk menekan virus itu ada. Namanya anti-retroviral virus atau ARV,” kata Alan.

“Nah, di Gorontalo sendiri angka HIV/AIDS itu sudah mencapai enam ratusan lebih. Dengan posisi pertama itu adalah Kota Gorontalo kemudian disusul Kabupaten Gorontalo lalu ada Pohuwato, dan yang paling terakhir itu kalau tidak keliru ada Gorontalo Utara,” tambah Alan.

Baru-baru ini, Alan yang dipercayakan sebagai Manager Ekakraf Multimedia Gorontalo berhasil mewawancarai Anggota KPA Provinsi Gorontalo dalam acara Podcast “Garis Depan”. Dalam segmen tersebut, dirinya memperoleh data bahwa kasus yang sedang marak terjadi sejak 2019 di Gorontalo adalah penyuka sesama jenis.

“Ya, kasus yang paling marak di 2019 itu adalah lelaki suka lelaki. Jadi, data dari Komisi Penanggulangan AIDS (KPA) Provinsi Gorontalo itu yang paling banyak adalah lelaki suka lelaki atau LGBT,” bebernya.

Mantan Ketua Organisasi Persatuan Remaja Ichsan Sadar Aids (PERISAI) itu mengatakan, kasus seperti ini perlu mendapat perhatian khusus oleh pemerintah. Oleh karena itu, ia mengharapkan KPA di Provinsi Gorontalo perlu diberikan eksistensi dalam melakukan sosialisasi dan edukasi kepada masyarakat.

“Masalah LGBT ini perlu diperhatikan. Makanya, upaya pencegahan itu memerlukan peran penting dari KPA. Nah, di tingkat kabupaten/kota juga ada KPA. Hanya saja, saat ini saya selaku kader penanggulangan dan pencegahan aids menilai, KPA belum berjalan secara maksimal. Untuk itu, pemerintah perlu menghidupkan kembali KPA di kabupaten/kota ini,” tandasnya.

Informasi mengenai HIV/AIDS ini, lanjut Alan tidak kalah penting dengan informasi mengenai Covid-19 yang hingga kini gencar dilaksanakan. “Olehnya, kami sangat mengharapkan, Hari Aids Sedunia 1 Desember ini menjadi momentum kebangkitan KPA di kabupaten/kota se-Gorontalo,” ujarnya.

Alan mengisahkan, di Gorontalo pernah ada seorang ODA (Orang dengan HIV/AIDS) yang dijauhi. Tidak ada yang mau berdekatan dengannya, tidak ada yang mau berteman sehingga merasa terintimidasi.

“Padahal, virus HIV/AIDS ini bisa menular lewat darah atau hubungan seks, baik melalui (maaf) vagina maupun dubur/seks anal. Meski sangat jarang, HIV juga dapat menular melalui seks oral. Berbeda dengan Covid-19, virus HIV/AIDS kan tidak akan menular lewat jabat tangan, makan sepiring atau berdekatan tapi seorang yang mengidap HIV/AIDS masih saja dikucilkan. Hal seperti ini tidak lain disebabkan oleh minimnya edukasi dan sosialisasi, dan peran itu melekat di KPA,” kata Alan.

“Stigma tentang pengidap HIV/AIDS harus kita rubah. Sekali lagi itu butuh peran KPA, dan KPA sendiri butuh dukungan dari pemerintah sebab tugas KPA itu sangat penting,” tutupnya. (daily02)

Artikel Awas!!! Trend LGBT di Gorontalo, Alan Pakaya: KPA Harus Bangkit! dimuat via news.dailypost.id.

Awas!!! Trend LGBT di Gorontalo, Alan Pakaya: KPA Harus Bangkit!
  • Bagikan