AKBP Golfried Hasiholan Pakpahan, Perwira Densus 88 yang Kini Mengawal Boltim di Usia Bhayangkara ke-80

Biro Kotamobagu

DAILYPOST.ID ,BOLTIM – Jabatan bisa diberikan dalam hitungan menit. Namun kepercayaan masyarakat selalu membutuhkan waktu untuk dibangun.

Prinsip itulah yang kini sedang dijalani AKBP Golfried Hasiholan Pakpahan, S.H., M.Si. sejak dipercaya memimpin Kepolisian Resor Bolaang Mongondow Timur pada pertengahan 2026.

Datang dari Sumatera Utara, ia bukan putra daerah yang sejak lama dikenal masyarakat Bolaang Mongondow Timur. Nama Pakpahan bahkan terdengar asing bagi sebagian warga. Namun bagi perwira menengah Polri itu, diterima masyarakat tidak pernah cukup diraih melalui pangkat di pundak. Kepercayaan hanya bisa lahir dari cara seorang pemimpin bekerja.

Perjalanan Golfried menuju Boltim bukanlah lintasan karier yang biasa. Sebelum memegang tongkat komando sebagai Kapolres, ia menghabiskan sebagian perjalanan dinasnya di Detasemen Khusus 88 Anti Teror, satuan elite Polri yang identik dengan operasi-operasi berisiko tinggi.

Di satuan itulah ia ditempa menghadapi tekanan, mengambil keputusan dalam hitungan detik, sekaligus memahami bahwa kewenangan yang dimiliki aparat penegak hukum selalu harus berjalan beriringan dengan tanggung jawab.

Kemampuan sebagai penembak jitu menjadi salah satu bagian dari perjalanan panjang tersebut. Ketajaman membidik sasaran bukan sekadar persoalan teknik, tetapi juga latihan mengendalikan emosi dan menjaga ketenangan di tengah situasi yang paling sulit sekalipun.

Kemampuan itu pula yang masih ia buktikan ketika berhasil meraih Juara II pada Kejuaraan Menembak Kapolda Cup 2026, tidak lama setelah mengemban amanah sebagai Kapolres Boltim.

Namun sesungguhnya, tantangan terbesar di wilayah yang kini dipimpinnya bukanlah perlombaan menembak.

Yang jauh lebih penting adalah bagaimana menghadirkan kepolisian yang benar-benar dirasakan manfaatnya oleh masyarakat.

Di lingkungan internal, Golfried dikenal sebagai sosok yang disiplin. Di tengah masyarakat, ia memilih membuka ruang komunikasi. Mendengar lebih dulu sebelum mengambil keputusan menjadi pendekatan yang ia bangun sejak awal bertugas.

Cara itu perlahan menjawab berbagai pertanyaan yang sempat muncul ketika dirinya pertama kali datang ke Boltim.

Ia tidak membawa janji-janji besar.

Ia datang membawa cara bekerja.

Momentum Hari Bhayangkara ke-80 pada Rabu, 1 Juli 2026, menjadi salah satu kesempatan baginya menegaskan arah pengabdian tersebut.

Di Lapangan Apel Polres Bolaang Mongondow Timur, Golfried memimpin langsung upacara peringatan Hari Bhayangkara yang diikuti seluruh personel Polres Boltim. Hadir pula Wakapolres Kompol Verry A. Liwutang, Ketua Bhayangkari Cabang Boltim Ny. Joice Golfried, unsur Forum Koordinasi Pimpinan Daerah, perwakilan Kodim 1303, Kejaksaan Negeri Kotamobagu, DPRD Boltim, Pemerintah Kabupaten Boltim, para sangadi, serta sejumlah tamu undangan.

Namun peringatan itu tidak dimaknainya sebagai seremoni tahunan semata.

Tema “80 Tahun Mengabdi, Polri untuk Masyarakat Republik Indonesia” menjadi pengingat bahwa keberadaan kepolisian pada akhirnya akan selalu diukur dari manfaat yang dirasakan masyarakat.

Dalam amanat Presiden Republik Indonesia yang dibacakan pada upacara tersebut, seluruh jajaran Polri diminta terus memperkuat profesionalisme, menjaga integritas, meningkatkan kualitas pelayanan publik, serta mampu menjawab tantangan baru, mulai dari kejahatan siber, perkembangan teknologi digital, hingga meningkatnya ekspektasi masyarakat terhadap institusi kepolisian.

Pesan itu menemukan relevansinya di Boltim.

Wilayah yang terus berkembang membutuhkan aparat penegak hukum yang tidak hanya hadir ketika persoalan muncul, tetapi juga mampu membangun rasa aman melalui pelayanan yang cepat, adil, dan humanis.

Di hadapan seluruh personelnya, Golfried memilih menyampaikan pesan yang sederhana, namun sarat makna.

“Kita datang untuk melayani, bukan ditakuti. Hukum itu tajam seperti parang, tetapi harus diayunkan dengan adil. Yang benar harus dilindungi, sedangkan yang melanggar hukum harus diproses tanpa melihat siapa orangnya.”

Kalimat itu bukan sekadar arahan kepada anggota.

Bagi mereka yang mengenal perjalanan kariernya, pesan tersebut mencerminkan prinsip yang sudah lama ia pegang sejak meninggalkan kampung halamannya di Sumatera Utara.

Di balik nama besar yang kini melekat sebagai Kapolres Boltim, Golfried tetap membawa nilai yang diwariskan keluarganya sejak kecil—keberanian berpihak kepada kebenaran dan keteguhan untuk tidak tunduk pada ketidakadilan.

Perjalanan itu masih panjang.

Keberhasilan seorang Kapolres tidak pernah ditentukan oleh seberapa lama ia menduduki jabatan, melainkan oleh jejak yang ia tinggalkan setelah masa tugas berakhir.

Dan di Bolaang Mongondow Timur, AKBP Golfried Hasiholan Pakpahan tengah menulis jejak itu, selangkah demi selangkah, dengan harapan bahwa seragam yang dikenakannya bukan sekadar simbol kewenangan, melainkan lambang kehadiran negara yang mampu memberi rasa aman bagi setiap warga. (Salman)

Share:   
https://wa.wizard.id/003a1b sa shop gorontalo
Korek Api Keren Touch Screen
Exit mobile version