Oleh: Sity Nur Anisah Djaafar, S.M (Aktivis Muslimah)
Opini – Ada satu ironi yang sedang dialami Generasi Z. Mereka lahir di era teknologi yang mampu membuka akses terhadap ilmu pengetahuan, peluang kerja, dan jejaring global hanya melalui layar ponsel. Namun kenyataannya justru berbanding terbalik. Di tengah kemajuan yang begitu pesat, semakin banyak anak muda yang hidup dalam bayang-bayang kecemasan, ketidakpastian, dan kegelisahan terhadap masa depan.
Berbagai survei menunjukkan bahwa fenomena ini bukan sekadar persepsi. Data GoodStats yang mengutip survei Jakpat terhadap 1.158 responden Gen Z Indonesia menemukan bahwa 60% Gen Z mengaku cemas terhadap masa depan. Kekhawatiran tersebut menjadi faktor terbesar yang memengaruhi kesehatan mental mereka, melampaui tekanan finansial (57%), ekspektasi sosial (42%), dan perasaan tidak berdaya terhadap situasi di luar kendali (36%). Dampaknya pun nyata, dimana 62% mengalami perubahan suasana hati (mood swing), 50% mengalami gangguan tidur, dan 38% mengalami kecemasan berlebih. (Sumber: GoodStats, “60% Gen Z di Indonesia Cemas akan Masa Depan”, 2026).
Temuan tersebut sejalan dengan berbagai penelitian lain. Survei yang dilakukan Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat, dan Keperawatan Universitas Gadjah Mada (FK-KMK UGM) bersama mitra internasional menunjukkan bahwa sekitar 26,7% remaja Indonesia mengalami gangguan kecemasan, kondisi yang berpotensi memengaruhi perkembangan sosial, pendidikan, hingga produktivitas mereka di masa depan. Sementara itu, Kompas menyebut Indonesia tengah berada di ambang krisis kesehatan mental remaja, ditandai dengan meningkatnya tekanan psikologis yang dialami generasi muda.
Kondisi ini tentu tidak muncul begitu saja. Gen Z tumbuh di era media sosial tempat orang saling membandingkan kehidupan tanpa henti. Ruang digital membentuk standar baru, yang menuntut harus selalu produktif dan berkembang, dan tampak “baik-baik saja”, ketika ketika kenyataan hidup tidak seindah apa yang tampil di layar, rasa cemas pun mudah tumbuh. Di saat yang sama, mereka juga dihadapkan dengan kenyataan meningkatnya biaya hidup, persaingan kerja semakin ketat, sementara masa depan terasa semakin tidak pasti.
Fenomena ini bukan hanya terjadi di Indonesia. Di berbagai negara, Generasi Z menghadapi kegelisahan serupa akibat ketidakpastian ekonomi dan perubahan dunia kerja yang dipicu perkembangan teknologi. Di Indonesia, kondisi tersebut tercermin dari data Badan Pusat Statistik (BPS) yang mencatat sekitar 9,9 juta penduduk usia 15–24 tahun berada dalam kategori Not in Education, Employment, or Training (NEET), yakni tidak bekerja, tidak bersekolah, maupun tidak mengikuti pelatihan. Data ini menunjukkan bahwa kecemasan Generasi Z bukan semata persoalan psikologis, tetapi juga berakar pada realitas sosial dan ekonomi yang mereka hadapi.
Di balik tingginya angka kecemasan itu muncul fenomena lain yang mulai banyak disoroti, yakni gelombang resistensi Generasi Z. Di balik berbagai tekanan yang mereka alami, tumbuh keberanian untuk mempertanyakan banyak hal, budaya kerja yang eksploitatif, ketimpangan sosial, hingga pentingnya kesehatan mental. Kegelisahan itu tidak selalu berujung pada keputusasaan. Sebaliknya, ia mulai berubah menjadi kesadaran kritis yang mendorong mereka mencari akar persoalan dan jalan keluar yang lebih mendasar.
Di Balik Kecemasan Gen Z: Sebuah Krisis Peradaban
Sulit rasanya melihat kecemasan yang dialami Generasi Z hanya sebagai persoalan kesehatan mental. Apa yang mereka rasakan hari ini sesungguhnya merupakan bagian dari krisis yang lebih luas, yakni krisis multidimensi yang sedang melanda dunia. Krisis ekonomi yang berkepanjangan, konflik geopolitik, perubahan iklim, disrupsi teknologi, hingga ketidakpastian pasar kerja bukan lagi sekadar berita yang dibaca di media, tetapi telah menjadi realitas yang membentuk cara pandang generasi muda terhadap masa depan.
Tidak mengherankan jika banyak anak muda mulai kehilangan keyakinan pada “rumus-rumus lama” yang selama ini dianggap menjamin masa depan. Dahulu, pendidikan dipandang sebagai jalan menuju pekerjaan yang layak, dan kerja keras diyakini akan berbuah kesejahteraan. Kini, keyakinan itu mulai dipertanyakan. Mereka melihat lulusan perguruan tinggi yang kesulitan memperoleh pekerjaan, harga rumah yang terus melampaui kemampuan masyarakat, biaya hidup yang semakin tinggi, sementara kecerdasan buatan mulai mengambil alih sebagian pekerjaan yang sebelumnya dikerjakan manusia. Dalam situasi seperti ini, rasa cemas bukanlah sesuatu yang mengherankan. Ia menjadi respons yang wajar ketika masa depan dipenuhi ketidakpastian.
Akan tetapi, jika dicermati lebih jauh, akar persoalannya tidak berhenti pada ekonomi, teknologi, atau dunia kerja. Semua itu hanyalah gejala dari sesuatu yang lebih mendasar, yaitu cara pandang yang membentuk peradaban modern, dimana keberhasilan sering kali diukur dari seberapa tinggi penghasilan seseorang, seberapa besar aset yang dimiliki, atau seberapa banyak pengakuan yang diperoleh. Manusia didorong untuk terus bersaing, terus menghasilkan, dan terus mengejar pencapaian. Akhirnya, ukuran hidup bertumpu pada materi dan prestasi semata.
Kondisi ini tidak dapat dilepaskan dari peradaban modern yang dibangun di atas paradigma sekularisme– kapitalisme. Ketika kehidupan dipisahkan dari nilai-nilai wahyu dan materi dijadikan ukuran utama keberhasilan, manusia kehilangan pijakan yang lebih mendalam untuk memaknai hidup. Prestasi menjadi sumber harga diri, sementara kegagalan mudah berubah menjadi krisis identitas.
Negara yang Lebih Banyak Mengelola Masalah daripada Mencegahnya
Persoalan Generasi Z ini tidak mungkin diselesaikan hanya oleh individu. Di sinilah peran negara menjadi sangat penting. Sebab, banyak faktor yang memicu kecemasan generasi muda berada dalam ruang yang dipengaruhi oleh kebijakan publik.
Berbagai program di bidang pendidikan, kesehatan mental, maupun ketenagakerjaan memang terus diupayakan oleh negara. Namun, pendekatan yang berkembang masih lebih banyak berfokus pada penanganan dampak daripada menyentuh akar persoalan. Ketika angka gangguan kesehatan mental meningkat, solusi yang mengemuka adalah memperluas layanan konseling atau terapi. Ketika pengangguran bertambah, jawabannya adalah pelatihan kerja. Upaya-upaya tersebut tentu diperlukan, tetapi belum cukup jika sumber tekanan yang dihadapi generasi muda tetap dibiarkan.
Pada akhirnya, yang dibutuhkan bukan sekadar kebijakan yang mampu mengelola dampak dari sebuah krisis, melainkan keberanian untuk membangun sistem yang mampu mencegah krisis itu lahir sejak awal. Selama akar persoalan tidak disentuh, berbagai program yang dijalankan hanya akan menjadi solusi sementara, sementara kecemasan generasi muda terus berulang dari waktu ke waktu.
Islam sebagai Jalan Kebangkitan Generasi
Jika persoalan yang dihadapi Generasi Z berakar pada cara manusia memandang kehidupan, maka penyelesaiannya tentu tidak cukup berhenti pada langkah-langkah teknis. Selama cara pandang yang melahirkan berbagai persoalan itu tidak berubah, solusi yang dihasilkan cenderung hanya meredakan gejala, bukan menyembuhkan akar masalah.
Di sinilah Islam menawarkan cara pandang yang berbeda. Islam tidak hadir sekadar mengatur hubungan manusia dengan Tuhannya melalui ibadah ritual, tetapi menghadirkan panduan hidup yang utuh. Islam memandang manusia bukan sebagai makhluk yang semata-mata mengejar kepuasan materi, melainkan sebagai hamba Allah yang memikul amanah untuk mengelola kehidupan sesuai dengan petunjuk-Nya. Dari cara pandang inilah tujuan hidup, ukuran keberhasilan, hingga cara menyikapi ujian memperoleh makna yang berbeda.
Dalam Islam, kemuliaan seseorang tidak ditentukan oleh besarnya penghasilan, jabatan, atau pengakuan publik. Al-Qur’an menegaskan bahwa ukuran kemuliaan di sisi Allah adalah ketakwaan, bukan kepemilikan atau popularitas. Ketika standar hidup bergeser dari pencarian validasi manusia menuju keridaan Allah, manusia tidak lagi menggantungkan harga dirinya pada pencapaian yang bersifat sementara.
Karena itu, ketenangan dalam Islam tidak lahir dari keadaan yang selalu mudah, tetapi dari keyakinan bahwa setiap peristiwa berada dalam ilmu dan ketetapan Allah, serta setiap amal memiliki nilai di hadapan-Nya. Al-Qur’an mengingatkan, “Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram” (QS. Ar-Ra’d: 28). Ayat ini menunjukkan bahwa ketenteraman batin bukan semata-mata hasil dari terpenuhinya kebutuhan materi, melainkan buah dari keimanan yang menuntun seseorang memahami tujuan hidupnya.
Inilah perbedaan mendasar antara paradigma Islam dan cara pandang materialistik. Jika paradigma yang dominan hari ini mendorong manusia terus mengejar kepuasan yang tidak pernah habis, Islam justru mengembalikan manusia kepada fitrahnya, hidup sebagai hamba Allah, memakmurkan bumi dengan kebaikan, dan menjadikan kehidupan dunia sebagai jalan menuju kebahagiaan yang lebih abadi.
Sejarah juga telah membuktikan bahwa Islam pernah melahirkan generasi yang kuat secara akidah sekaligus unggul dalam ilmu pengetahuan dan kepemimpinan. Tokoh-tokoh seperti Muhammad ibn Musa al-Khwarizmi, Ibn Sina, hingga Salahuddin al-Ayyubi menunjukkan bahwa keimanan tidak menghambat kemajuan, justru menjadi pendorong lahirnya karya dan kontribusi bagi peradaban. Bagi mereka, ilmu bukan sekadar jalan meraih prestasi, tetapi bagian dari ibadah dan pengabdian kepada Allah.
Pelajaran terpenting dari sejarah tersebut adalah menyadari bahwa kualitas suatu generasi dipengaruhi oleh cara pandang yang membentuknya. Ketika orientasi hidup diarahkan pada pengabdian semata kepada Allah dan demi kemaslahatan umat, kemajuan ilmu pengetahuan berjalan seiring dengan kemuliaan akhlak.
Islam juga menempatkan negara sebagai pihak yang bertanggung jawab membina dan melindungi masyarakat. Seorang pemimpin dipandang sebagai “ra’in” (pengurus) yang berkewajiban memastikan terpenuhinya kebutuhan dasar rakyat, mulai dari keamanan, pendidikan, kesehatan, hingga kesempatan bekerja. Dengan demikian, pembinaan generasi muda bukan sekadar program jangka pendek, melainkan bagian dari tanggung jawab negara dalam menyiapkan penerus peradaban.
Kegelisahan yang dirasakan Generasi Z tidak harus berakhir menjadi keputusasaan. Justru kegelisahan itu dapat menjadi titik awal untuk membangun kesadaran, memperdalam pemahaman terhadap Islam, dan menumbuhkan kepedulian terhadap persoalan umat. Generasi muda tidak cukup hanya menjadi penikmat perubahan, tetapi perlu mengambil peran sebagai penggeraknya. Pada akhirnya, masa depan tidak akan berubah hanya karena waktu terus berjalan melainkan perubahan selalu digerakkan oleh manusia yang memiliki keyakinan, visi, dan keberanian untuk memperjuangkannya.
Yakni keberanian untuk memperjuangjan dan mengemban mabda Islam, artinya menjadikan Islam sebagai landasan berpikir, bersikap, dan bertindak dalam seluruh aspek kehidupan. Dengan orientasi seperti itu, keberhasilan tidak lagi diukur semata dari pencapaian duniawi, tetapi dari sejauh mana seseorang mampu menjadi bagian dari solusi bagi lingkungannya.
Masa depan emas tidak lahir dari optimisme yang kosong. Ia dibangun oleh generasi yang memiliki akidah yang kokoh, ilmu yang mendalam, akhlak yang luhur, dan keberanian untuk menghadirkan nilai-nilai Islam dalam kehidupan. Jika karakter seperti itu tumbuh pada pemuda hari ini, maka harapan akan lahirnya generasi yang membawa rahmat bagi masyarakat bukanlah angan-angan, melainkan cita-cita yang layak diperjuangkan dengan ilmu, amal, dan kesungguhan.













