, Jakarta – Menteri Agraria dan Tata Ruang/Kepala Badan Pertanahan Nasional (ATR/BPN), Nusron Wahid, mengajak umat Islam menjadikan Iduladha sebagai momentum untuk menekan ego, hawa nafsu, dan keserakahan dalam kehidupan sehari-hari.
Pesan itu disampaikan Nusron Wahid saat menjadi khatib Salat Iduladha 1447 Hijriah di Masjid Raya Al-Ittihaad, Jakarta, Rabu (27/05/2026).
Menurut Nusron, Iduladha bukan sekadar seremoni penyembelihan hewan kurban, melainkan juga memiliki makna spiritual yang mendalam tentang ketakwaan dan kepedulian terhadap sesama manusia.
“Iduladha bukan hanya tentang menyembelih hewan, tetapi tentang menyembelih ego, hawa nafsu, keserakahan, dan rasa tidak peduli kita kepada sesama,” ujar Nusron dalam khutbahnya.
Ia mengatakan, ibadah kurban sejatinya menjadi proses untuk membersihkan hati dan melatih keikhlasan agar manusia tidak terjebak pada kepentingan pribadi semata.
“Semakin tinggi ketakwaan seseorang kepada Allah, seharusnya semakin besar kepeduliannya kepada manusia lainnya,” katanya.
Di hadapan jamaah Salat Iduladha, Nusron juga mengingatkan bahwa yang sampai kepada Allah SWT bukanlah bentuk fisik kurban, melainkan ketulusan niat dan ketakwaan sebagaimana tercantum dalam Surat Al-Hajj ayat 37.
Menurutnya, tantangan masyarakat modern saat ini bukan hanya persoalan kemiskinan materi, tetapi juga kemiskinan hati dan empati sosial.
“Banyak orang berkecukupan tapi kehilangan empati, berilmu tetapi kasar, atau rajin beribadah namun sulit menghargai orang lain,” ungkapnya.
Nusron pun mengajak masyarakat menjadikan momentum Iduladha untuk memperbaiki hubungan dengan Allah SWT sekaligus mempererat hubungan antarsesama manusia.
“Kalau ada yang renggang, mari kita damaikan. Kalau ada yang terluka, mari kita maafkan. Karena ketakwaan sejati bukan hanya di sajadah, tetapi juga dalam kepedulian kepada sesama,” pungkasnya.













