Gorontalo — Di balik dedaunan hijau yang meranggas, tersembunyi kisah inspiratif seorang wanita yang mampu mengubah daun kelor menjadi simbol kesehatan.
Amriani Amran, warga Desa Pilohayanga, Kecamatan Telaga, Kabupaten Gorontalo. Dengan semangat dan dedikasi, ia telah berhasil merintis usaha yang unik dan bermanfaat bagi banyak orang, yaitu ‘La Kelor’, sebuah brand yang berfokus pada olahan pangan berbahan dasar daun kelor.
La Kelor, awalnya tidak lahir dalam gemerlap pameran besar atau dukungan besar dari masyarakat. Sejak berdiri pada 2018, Amriani telah menghadapi berbagai tantangan, terutama selama masa pandemi Covid-19.
Pameran, yang kala itu menjadi salah satu sarana utama untuk memperkenalkan produknya, menjadi tidak mungkin dilakukan. Namun, Amriani tidak menyerah. Dia menemukan kesempatan baru ketika daun kelor, bahan utama produknya, dipercaya memiliki manfaat dalam pengobatan Covid-19.
Hal ini membuat produk La Kelor tetap diminati oleh beberapa pelanggan yang percaya akan manfaat kelor dalam mengatasi Covid. Meskipun penjualan tidak sebesar sebelumnya, La Kelor tetap bertahan dan bahkan mulai tumbuh kembali pasca Covid19.
“Di awal-awal memang agak susah karena kelor sangat asing khususnya bagi masyarakat Gorontalo, karena menurut masyarakat di sini tanaman kelor itu merupakan tanaman pagar dan makanan kambing, jadi kita waktu itu agak susah edukasinya, benar-benar totalitas edukasinya karena produk kami bisa dibilang unik di Gorontalo,” kata Amriani, kepada Dailypost.id, Senin (29/04/2024).
Inspirasi dan Filosofi
Wanita 42 tahun itu memilih menggunakan daun kelor sebagai bahan utama dalam menghasilkan produk-produknya. Hal ini didasarkan pada kandungan nutrisi yang tinggi dan manfaat yang luar biasa terkandung dalam daun kelor.
Selain menjadi kebiasaan turun-temurun, Amriani mendapatkan informasi dari berbagai media, bahwa daun kelor merupakan salah satu tanaman dengan kandungan nutrisi tertinggi dibandingkan dengan tanaman lainnya. Informasi ini menjadi pemicu bagi Amriani untuk semakin tertarik dalam mengolah dan mengkonsumsi daun kelor.
“Saya dari kecil dibiasakan orang tua minum kelor, jadi sudah terbiasa tapi saya baru tau ternyata daun kelor bisa dijadikan teh, serbuk untuk dicampur di minuman dan makanan apa saja, jadi waktu itu saya kepikiran untuk jadikan ini usaha, agar bisa membantu banyak orang juga,” tutur ibu dua anak itu.
Sebagai contoh, saat wanita hamil membutuhkan nutrisi yang lebih banyak dibandingkan dengan kondisi normal. Bahkan, suplemen yang dikonsumsi oleh wanita hamil bisa mencapai dua kali lipat lebih banyak nutrisi.
Di balik itu, La Kelor bukan hanya sebuah bisnis, tetapi memiliki filosofi bagi kisah kehidupan Amriani. Nama ‘La Kelor’ dipilih untuk merepresentasikan keberadaan suaminya yang menjadi pengaruh penting dalam usaha ini. “La” sendiri berasal dari Bahasa Bugis Sulawesi Selatan, yang merupakan panggilan sehari-hari untuk suaminya yang gemar minum teh kelor buatannya. Dan “Kelor” adalah bahan dasar dari produk ini.
“Setiap dia pulang dari kerja, capek, atau pun sakit dia pasti minta dibikinkan teh kelor,” beber Amriani.
Jangkauan dan Dampak
Meskipun berbasis di Gorontalo, La Kelor telah berhasil merambah ke berbagai daerah di Indonesia, bahkan hingga ke luar negeri.
“Untuk jangkauan produksi sendiri sudah sampai Papua, Jakarta, Aceh dan untuk luar negeri kita baru kirim sampel di Singapura dan Dubai (Uni Emirat Arab),” ujar lulusan S1 Ekonomi Universitas Ichsan Gorontalo itu.
Sebagai bentuk promosi dan edukasi, La Kelor kerap disertakan dalam berbagai pameran, termasuk yang diselenggarakan oleh Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Perindag) dan Bank Indonesia (BI). Karena produk La Kelor juga memiliki karakter edukasi yang kuat.
Dalam menghadapi pasar yang terus berkembang, La Kelor terus berinovasi dalam menciptakan produk baru dan memperluas jangkauan distribusi. Manfaat nutrisi yang tinggi dan kemampuan detox yang dimiliki oleh daun kelor menjadikan produk La Kelor sangat diminati oleh masyarakat. Tidak hanya dalam bentuk teh celup dan saraba kelor, La Kelor juga mengembangkan produk keripik keju kelor.




Kapasitas produksi La Kelor per bulannya mencakup 2000 pcs teh celup, 1000 boks saraba kelor, dan keripik keju kelor yang diproduksi sesuai permintaan sehingga tidak selalu dihasilkan dalam jumlah yang tetap seperti halnya teh kelor dan saraba kelor. Kapasitas produksi keseluruhan La Kelor diperkirakan mencapai sekitar 5.000-10.000 pcs per bulan.

Meski omset La Kelor masih berada di bawah rata-rata UKM lainnya, yakni sekitar 20-40 juta rupiah per bulanannya, namun Amriani memiliki harapan besar untuk terus meningkatkan penjualan dan mencapai omset yang lebih tinggi di masa mendatang.
Dengan jumlah karyawan tetap sebanyak 3 orang, La Kelor tetap menjaga kelancaran produksi dan menjaga kualitas produk yang dihasilkan. Namun, saat ada permintaan yang meningkat, seperti ketika ada pesanan dalam jumlah besar atau kegiatan tertentu di pasar lokal, Amriani dapat menggandeng karyawan harian sebanyak 5-10 orang untuk membantu dalam proses produksi. Dengan demikian, La Kelor dapat memenuhi permintaan dengan lebih efisien.
Misi Kesehatan dan Inovasi
Salah satu misi utama La Kelor adalah menyediakan produk yang tidak hanya lezat, tetapi juga sehat dan bermanfaat bagi kesehatan tubuh. Daun kelor, yang menjadi bahan utama produknya, terkenal karena kandungan nutrisinya yang tinggi dan manfaatnya yang luar biasa dalam menjaga kesehatan.
“Dengan segala manfaatnya, La Kelor tidak hanya menjadi pilihan bagi mereka yang peduli akan kesehatan, tetapi juga bagi mereka yang ingin mencoba pengalaman kuliner yang baru dan menyehatkan,” pungkasnya.
Melalui La Kelor, Amriani Amran tidak hanya menghasilkan produk yang bermanfaat bagi kesehatan, tetapi juga memberikan inspirasi bagi banyak orang untuk memulai perjalanan mereka sendiri dalam dunia bisnis. Dengan semangat pantang menyerah dan inovasi yang terus menerus, Amriani terus mengembangkan usahanya, membawa manfaat yang lebih besar bagi masyarakat dan memperluas cakupan pasar hingga ke kancah internasional.
Dukungan BRI
Dalam menjalankan usahanya, Amriani mengakui bahwa pinjaman KUR BRI telah membantu dalam permodalan usaha. Sejak tahun 2018, Amriani telah memanfaatkan pinjaman KUR BRI yang ditawarkan dengan suku bunga yang rendah.
Dengan pinjaman awal sebesar 100 juta rupiah, La Kelor mendapatkan permodalan bertahap hingga mencapai 500 juta rupiah. Pinjaman ini digunakan untuk perputaran modal dan pembelian mesin-mesin produksi yang kemudian berkontribusi pada pengembangan usaha La Kelor. Amriani merasa bahwa KUR BRI adalah salah satu solusi yang membantu dalam kesuksesan usahanya.
Berkat kerja keras dan kerja cerdas Amriani dalam mengelola La Kelor, pada tahun 2019 ia menjadi salah satu binaan BRI Incubator. Hal ini pula membuka peluang lebih besar bagi Amriani untuk mengembangkan usaha dan mendapatkan akses ke pelatihan serta pameran.
La Kelor terus berpartisipasi dalam ajang pameran lokal dan telah menjadi BRIlianpreneur pada tahun 2020. Kesempatan-kesempatan ini memberikan kesempatan kepada Amriani untuk memperluas jangkauan pasar dan menjangkau konsumen baru, sehingga La Kelor semakin dikenal dan diminati.
Amriani pun mengungkapkan rasa terima kasihnya kepada Bank BRI atas dukungan dan kesempatan yang diberikan. Ia menyebut KUR BRI sebagai salah satu solusi terbaik dalam mengembangkan usaha kecil dan menengah seperti La Kelor.
“Berkat BRI pengusaha UMKM seperti kami bisa menerima bimbingan dan dukungan dalam mengembangkan usaha. Ini tentunya lebih memotiivasi kami untuk menciptakan produk-produk berkualitas,” imbuhnya.
Pimpinan BRI Cabang Limboto, Dede Sujana, mengapresiasi Amriani Amran sebagai pengusaha UMKM yang telah menunjukkan semangat kewirausahaan dan dedikasi yang luar biasa melalui produk La Kelor.
“BRI sangat mengapresiasi upaya dan prestasinya dalam mengembangkan bisnis La Kelor yang fokus pada olahan pangan sehat berbahan dasar daun kelor,” ujar Dede.
Menurutnya, Amriani telah membuktikan bahwa dengan inovasi dan komitmen terhadap kualitas, produk La Kelor dapat menjadi solusi bagi masyarakat yang peduli akan kesehatan dan nutrisi. BRI sendiri, kata Dede, senantiasa mendukung pelaku UMKM seperti Amriani dalam mengembangkan bisnisnya. Program KUR BRI dengan suku bunga rendah menjadi salah satu bentuk dukungan kami untuk memberikan akses permodalan kepada pengusaha UMKM yang memiliki potensi pertumbuhan seperti La Kelor.
“Kami berharap La Kelor terus berkembang dan memberikan karya-karya yang inovatif serta memberikan manfaat yang nyata bagi masyarakat,” kata Dede.
Pimpinan BRI Cabang Limboto itu pun menyampaikan apresiasi dan ucapan terima kasih kepada Amriani Amran atas kontribusinya dalam dunia usaha, kemandirian ekonomi, dan memberikan inspirasi kepada para pengusaha UMKM lainnya.
(Vita Pakai)













