Dialog Fokus UMGO Ungkap Fakta Mengerikan di Balik Banjir Danau Limboto, Kolaborasi Lintas Sektor Jadi Harapan Terakhir

Dailypost.id
Pelaksanaan Dialog Fokus Sesi 3 dalam kolaborasi lintas sektor untuk penyelamatan Danau Limboto yang digelar di Universitas Muhammadiyah Gorontalo, Jumat (13/6/2025).

DAILYPOST.ID Gorontalo — Di balik pesona alamnya, Danau Limboto kini menyimpan kenyataan pahit: darurat lingkungan yang mengancam kehidupan ribuan warga. Suara tangis anak-anak SD 16 di kawasan danau menjadi alarm nyata betapa genting situasi yang dihadapi. Banjir, pencemaran, sedimentasi ekstrem, dan hilangnya sumber mata pencaharian menjadi harga mahal dari kelalaian selama ini.

Namun, harapan belum sirna. Melalui Dialog Fokus Sesi 3 yang digelar di Universitas Muhammadiyah Gorontalo (UMGO) pada Jumat, (13/06/2025), titik balik penyelamatan Danau Limboto mulai dirancang serius. Kegiatan ini mempertemukan berbagai elemen, yaitu pemerintah, akademisi, masyarakat lokal, hingga lembaga internasional seperti JICA dari Jepang.

“Menyelamatkan Danau Limboto bukan tugas satu institusi. Ini soal tanggung jawab kolektif, lintas sektor dan lintas generasi,” kata Trizal Entengo, Plt. Sekretaris Daerah Kabupaten Gorontalo, dalam sambutannya.

Trizal mengungkap, kini Pemkab Gorontalo tengah memproses legalisasi edukasi tematik berbasis lokal tentang Danau Limboto. Program ini akan dituangkan dalam Surat Edaran Bupati, menyasar pelajar sekolah dasar di kawasan Daerah Aliran Sungai (DAS) Limboto sebagai agen perubahan.

Kehadiran Wawan Tolinggi, Ketua Forum DAS, memperkuat semangat kolaboratif. Ia berharap forum ini tidak berhenti sebagai seremoni akademik semata, tapi melahirkan aksi nyata berbasis komunitas.

“Danau ini bukan hanya warisan geografis, tapi warisan moral. Kita gagal kalau tidak menyelamatkannya untuk anak cucu,” ujarnya penuh harap.

Prof. Bukman Laliho, akademisi dari perguruan tinggi di Gorontalo, memaparkan hasil penelitiannya yang menggugah terkait mayoritas masyarakat sekitar yang merasa pasrah terhadap kerusakan danau karena minim informasi dan keterlibatan. Sebuah sinyal perlunya pendekatan edukatif berbasis budaya lokal.

Hal senada diungkapkan Sutarjo Abdul, praktisi pengolahan sampah organik. Ia menekankan bahwa krisis Limboto bukan hanya soal kebijakan, tapi soal perilaku keseharian.

“Sampah bukan hanya masalah teknis, tapi mentalitas. Dan itu bisa diubah lewat edukasi,” ujarnya.

Testimoni dari tokoh masyarakat hulu seperti Moduto, serta kisah pilu anak-anak SD yang rumahnya terendam banjir, mempertegas kesenjangan informasi dan perhatian di kawasan paling terdampak.

Share:   
https://wa.wizard.id/003a1b sa shop gorontalo
Korek Api Keren Touch Screen
Exit mobile version