Gorontalo — Diskusi Publik yang digelar komunitas Arah Langkah Anak Muda (ALAM) pada Minggu (16/11/2025) kembali menjadi ruang refleksi bagi generasi muda. Dengan mengangkat tema “Generasi Muda di Persimpangan: Antara Gelar, Skill, dan Nilai Kemanusiaan,” kegiatan ini mengupas dinamika yang dihadapi anak muda di tengah perubahan sosial dan tuntutan zaman.
Salah satu pandangan yang mencuri perhatian datang dari Novia Jushu, Co-Founder ALAM, melalui pemaparan bertajuk “Menemukan Jalan Tengah antara Gelar dan Skill.” Novia menegaskan bahwa gelar akademik dan keterampilan teknis memang menjadi dua aspek penting dalam perjalanan profesional seorang pemuda. Gelar memberikan legitimasi akademik, sementara skill membuka akses terhadap peluang kerja dan pengembangan diri.
Namun, menurutnya, kedua aspek tersebut bukanlah satu-satunya penentu kualitas seorang manusia.
“Gelar dan skill adalah pondasi yang kuat, tetapi nilai kemanusiaan adalah subjek besar untuk melihat manusia secara utuh,” ujar Novia dalam forum tersebut.
Ia mengingatkan bahwa di tengah dunia yang bergerak cepat, kompetitif, dan sarat tuntutan, nilai kemanusiaan justru menjadi kompas moral yang menjaga arah langkah generasi muda. Kepekaan, empati, dan kemampuan memahami sesama merupakan elemen penting yang tidak boleh hilang dalam proses membangun karier maupun identitas diri.
Dalam diskusi itu, Novia juga menegaskan identitas ALAM sebagai komunitas yang menawarkan pendekatan berbeda. ALAM bukan sekadar komunitas kepemudaan, tetapi sebuah ruang belajar yang dibangun dari kepekaan terhadap isu-isu modernitas dan tantangan yang dihadapi generasi muda.
“Di ALAM, kita tidak hanya bicara soal gelar dan skill, tetapi bagaimana seorang pemuda bisa menjadi manusia yang peka, berpikir kritis, dan tidak hanyut dalam arus modernitas,” jelasnya.
Menurut Novia, banyak anak muda hari ini terjebak dalam standar kesuksesan yang serba terukur, sehingga sering melupakan nilai-nilai kemanusiaan yang menjadi inti dari kehidupan sosial. ALAM hadir untuk menjaga keseimbangan tersebut.
Menutup sesinya, Novia menyampaikan harapan besar terhadap masa depan komunitas dan generasi muda Indonesia.
“Harapannya, ALAM ke depannya bisa menjadi ruang yang benar-benar menguatkan generasi muda. Bukan hanya mendorong anak muda mengejar gelar dan mengasah skill, tapi juga membangun karakter yang peduli, inklusif, dan punya kepekaan sosial.”
Ia menegaskan bahwa apa pun bidang yang ditekuni anak muda, tujuan akhirnya tetap sama: memberikan dampak positif bagi masyarakat.
Diskusi publik ini menegaskan bahwa mencari titik keseimbangan antara gelar, skill, dan nilai kemanusiaan bukan sekadar wacana, tetapi kebutuhan mendesak bagi generasi muda. Arah Langkah Anak Muda melalui berbagai ruang dialognya terus berupaya menghidupkan kesadaran tersebut, sekaligus mendorong anak muda tumbuh secara utuh—bukan hanya cerdas secara akademik dan terampil secara teknis, tetapi juga kaya dalam nilai kemanusiaan.













