Jakarta — Harga emas kembali mengalami penurunan lebih dari 1 persen dalam perdagangan Selasa (30/04/2024), di Amerika Serikat (AS), menjadikannya berada pada level terendah dalam satu pekan. Penurunan ini terjadi seiring dengan penguatan nilai tukar dolar AS terhadap sejumlah mata uang utama dunia dan kenaikan imbal hasil obligasi pemerintah AS.
Meskipun demikian, permintaan akan instrumen safe haven seperti emas masih tetap tinggi, ditambah dengan pembelian yang dilakukan oleh bank sentral. Hal ini membuat harga emas batangan mencatat kenaikan bulanan ketiga berturut-turut.
Menurut data CNBC, harga emas di pasar spot turun sebesar 2,1% menjadi USD 2.285,99 per ounce, sementara harga emas berjangka AS mengalami penurunan sebesar 2,6% menjadi USD 2.297,30 per ounce.
Meskipun terjadi penurunan dalam perdagangan hari ini, harga emas telah mengalami kenaikan sebesar 3,3% sepanjang bulan ini setelah mencapai rekor tertinggi USD 2.431,29 per ounce pada awal April.
Nilai tukar dolar AS yang menguat 0,3% terhadap mata uang utama lainnya membuat emas menjadi lebih mahal bagi pemegang mata uang lainnya. Sementara itu, kenaikan imbal hasil obligasi 10-tahun juga berkontribusi terhadap penurunan harga emas.
“Meskipun banyak pedagang memiliki keuntungan yang tersimpan dalam emas dan perak, mereka cenderung untuk tidak terlalu bereaksi terhadap pengumuman dari The Fed,” ungkap analis senior RJO Futures, Bob Haberkorn.
“Dengan permintaan yang tetap kuat, baik dari Asia maupun dari bank sentral, pasar emas masih berada dalam posisi bullish saat ini dan diperkirakan akan tetap menguat hingga sisa tahun ini,” tambahnya.
Penurunan harga emas dalam perdagangan hari ini mungkin menjadi kesempatan bagi investor untuk memanfaatkan harga yang lebih rendah, sementara tetap memperhatikan faktor-faktor eksternal yang dapat memengaruhi pergerakan harga emas di masa mendatang.
(d09)












