Nasional — Indonesia menduduki peringkat kedua dunia dalam konsumsi mikroplastik, partikel plastik berukuran kurang dari lima milimeter. Temuan ini terungkap dari sebuah studi terbaru yang diterbitkan di jurnal Environmental Science & Technology, yang mengungkap negara-negara dengan konsumsi mikroplastik tertinggi.
Melansir dari Says, studi tersebut memperkirakan orang Indonesia mengonsumsi sekitar 13 gram mikroplastik per bulan. Malaysia berada di peringkat pertama dengan konsumsi sekitar 15 gram per bulan. Mesir menempati posisi ketiga, diikuti oleh Filipina, Vietnam, dan Laos yang melengkapi lima besar negara dengan konsumsi mikroplastik tertinggi. Penelitian ini dilakukan oleh sebuah lembaga riset berbasis di Amerika Serikat, yang menganalisis sampel makanan dan minuman dari berbagai negara di seluruh dunia.
Di Gorontalo, penelitian serupa pernah dilakukan pada tahun 2022 oleh Tim Ekspedisi Sungai Nusantara (ESN) yang berkolaborasi dengan Institute for Humanities and Development Studies (InHIDES). Penelitian ini meneliti kandungan mikroplastik di perairan Sungai Bone. Hasilnya menunjukkan bahwa setiap sampel air sungai yang diambil dari tiga lokasi jembatan Kalengkongan, Bendungan Alale Bone Bolango, dan Jembatan Talumolo 1 dan 2 mengandung mikroplastik berukuran di bawah 5 mm.
Menurut Prigi Arisandi, peneliti dari Ecoton yang mengutip Mongabay, mikroplastik ini berasal dari sampah plastik yang sering digunakan sehari-hari seperti sedotan, kemasan sachet shampoo, dan styrofoam. Sampah-sampah tersebut lambat laun terdegradasi menjadi partikel-partikel kecil bahkan hingga berukuran di bawah 5 mm yang disebut Mikroplastik seperti yang ditemukan di Sungai Bone.
Tentu saja, temuan ini menjadi pertanda tidak baik untuk kualitas sungai di Indonesia. Pencemaran mikroplastik di sungai-sungai menunjukkan tingkat polusi yang tinggi dan potensi bahaya bagi ekosistem air serta kesehatan masyarakat. Keberadaan mikroplastik di sungai bisa berdampak negatif pada kehidupan air dan akhirnya masuk ke rantai makanan manusia.
Penemuan ini menyoroti pentingnya penanganan polusi plastik di Indonesia. Pemerintah dan masyarakat diharapkan dapat bekerja sama dalam mengurangi penggunaan plastik sekali pakai dan meningkatkan kesadaran akan dampak buruk mikroplastik terhadap kesehatan dan lingkungan.
(Win)












