https://wa.wizard.id/003a1b

Jangan Takut! TBC Bisa Disembuhkan, Ini Penjelasan Dokter Spesialis Paru RSUD Ainun Habibie Gorontalo

Dailypost.id
Dokter spesialis paru, dr. Abdul Rahman Bahmid, Sp.P, saat memberikan edukasi kepada masyarakat mengenai ciri, gejala, serta metode pengobatan TBC

DAILYPOST.ID Gorontalo – Dalam rangka memperingati Hari Tuberkulosis (TBC) Sedunia 2025, RSUD dr. Hasri Ainun Habibie Provinsi Gorontalo menggelar sosialisasi bertajuk Mengenal Tuberkulosis Paru Lebih Dekat pada Selasa (25/3/2025). Acara ini menghadirkan dokter spesialis paru, dr. Abdul Rahman Bahmid, Sp.P, yang memberikan edukasi kepada masyarakat mengenai ciri, gejala, serta metode pengobatan TBC.

Dalam pemaparannya, dr. Abdul Rahman menekankan pentingnya pemahaman masyarakat terhadap penyakit menular ini serta langkah-langkah pengobatan yang harus dilakukan agar pasien dapat sembuh total.

“Jangan takut dengan TBC, karena penyakit ini bisa disembuhkan,” ujarnya.

Ia menjelaskan bahwa terapi pencegahan bagi individu yang memiliki kontak erat dengan pasien TBC adalah dengan mengonsumsi obat setiap minggu selama tiga bulan. Sementara itu, bagi pasien TBC, pengobatan dilakukan selama enam bulan, yang terbagi dalam dua fase.

“Fase intensif berlangsung selama dua bulan dengan konsumsi obat setiap hari, sedangkan fase lanjutan berlangsung empat bulan dengan konsumsi obat tiga kali seminggu,” tambahnya.

Sosialisasi ini juga menjadi ajang tanya jawab antara peserta dan dokter. Salah satu peserta bertanya mengenai kemungkinan seseorang kembali terkena TBC setelah sembuh.

“Jika pasien menjalani pengobatan selama enam bulan tanpa terputus, maka bisa dipastikan kuman TBC sudah mati,” jelas dr. Abdul Rahman.

“Namun, pasien tetap berisiko kambuh apabila memiliki penyakit penyerta seperti diabetes mellitus atau HIV. Jika daya tahan tubuhnya baik, maka risiko kambuh sangat kecil.”

Peserta lain menanyakan apakah batuk yang terjadi setiap minggu bisa menjadi indikasi TBC.

“Untuk memastikan apakah seseorang menderita TBC, perlu dilakukan pemeriksaan lebih lanjut seperti rontgen paru-paru dan tes darah. Banyak penyakit paru lainnya yang juga memiliki gejala batuk, sehingga tidak semua batuk menandakan TBC,” terang dokter.

Sosialisasi ini bertujuan untuk meningkatkan kesadaran masyarakat tentang pentingnya deteksi dini dan pengobatan TBC. Penyakit ini masih menjadi masalah kesehatan masyarakat di Indonesia, sehingga diperlukan upaya bersama antara pemerintah, tenaga medis, dan masyarakat untuk mencapai target eliminasi TBC pada tahun 2030.

Dengan adanya sosialisasi seperti ini, diharapkan masyarakat semakin paham akan bahaya TBC serta langkah-langkah pencegahannya. Bagi masyarakat yang mengalami gejala seperti batuk berkepanjangan, kelelahan, dan penurunan berat badan, disarankan segera berkonsultasi ke fasilitas kesehatan terdekat agar bisa mendapatkan diagnosis dan pengobatan yang tepat. (D09/adv)

Share:   
sa shop gorontalo
Korek Api Keren Touch Screen
Exit mobile version