https://wa.wizard.id/003a1b

S LINE: SAAT HIBURAN MENJADI ALAT PENJAJAHAN MORAL

Riski Kakilo
Foto; Ilustrasi

Oleh: Syifa Nusaibah

DAILYPOST.ID Opini – Belakangan terakhir, dunia maya diramaikan dengan tren yang diadopsi dari salah drama korea yang cukup populer. Tren S Line sukses menjadi sorotan dan menempati banyaknya postingan baik di Tik Tok maupun X. Visualisasi garis merah yang dapat dilihat dengan bantuan sebuah kacamata mampu memperlihatkan berapa kali seseorang telah berhubungan seks. Hal ini dianggap lucu bahkan keren hingga menjadi tren. Banyak orang terkhusus generasi muda yang mendominasi berlomba-lomba mengikuti tren tersebut. Namun, benarkah ini sekedar hanya sebatas penyampaian baru dalam drama atau justru alarm bahaya yang berusaha disusupi ke dalam nilai-nilai moral generasi?

Fakta dibalik Tren Viral

S Line bukan sekedar drama yang memperkenalkan bentuk tubuh, melainkan juga sebagai representasi hubungan seksual yang dilakukan para tokoh di dalamnya, baik hubungan secara sah maupun diluar daripada itu. Berdasarkan alur cerita, indikator pengalaman seksual ditunjukkan dari banyaknya jumlah garis yang dimiliki. Inilah cikal bakal dunia hiburan mulai menjadi alat penjajahan moral. Sebab, ditengah era kehidupan dimana teknologi berkembang dengan cepat dan mempengaruhi semua lini kehidupan, termasuk dunia hiburan mengharuskan generasi harus siap dengan apa yang disajikan. Ditambah dengan tidak adanya filter konten-konten yang dijadikan bahan hiburan menjadikan posisi moral generasi semakin terancam. S Line tidak dibuat untuk sekedar menjadi bahan tontonan, tapi harapannya sampai pada taraf diikuti oleh banyak orang. Dan itu berhasil. Simbol yang awalnya hanya bagian dari cerita fiksi, kini menjadi bahan meme, parodi atau dijadikan aksi keren-keren an lainnya. Muncul guyonan dalam pikiran orang-orang yang mengkonsumsi drama tersebut “Jikalau kamu menjadi salah satu tokoh yang ada dalam drakor tersebut, kira-kira garismu sudah berapa?” hal yang seharusnya tabu kini menjadi tren, yang seharusnya disembunyikan malah dijadikan identitas publik yang dibanggakan. Inilah poin yang paling mengkhawatirkan. Saat aib dianggap biasa, hingga dirasa layak untuk diekspresikan secara terbuka.

Budaya Pop dan Seks Bebas

Fakta yang ada dibalik tren S Line ini menjadi titik sense of urgency mengapa perlunya analisis mendalam terhadap fenomena ini. Drama dengan cerita yang sarat akan premis nyeleneh ini tidak lain sebagai dampak dari merebaknya budaya pop hasil produksi kapitalisme global. Ditambah dengan eksistensi drama korea yang menempati hati banyak orang yang tersebar diseluruh dunia termasuk Indonesia sangat memungkinkan segala sesuatu yang ditampilkan menjadi sesuatu yang mudah diterima. Mengapa demikian? Sebab dunia dan orang-orang saat ini memegang prinsip kebebasan termasuk dalam mengadopsi dan mengekspresikan sesuatu termasuk dalam ranah seks. Sensualitas seksual bahkan dijadikan komoditas yang diperjualbelikan dalam sistem hari ini. Sehingga, tidaklah mengherankan muncul drama dengan cerita berbau seks seperti S Line (Garis Seks). Percaya atau tidak, tanpa disadari bahwa drama ini hanyalah salah satu sarana penyampaian kreatif bahwa seks bebas adalah gaya hidup modern yang harus diterima. Hal ini dibuktikan dari adegan-adegan dalam drama tersebut yang menampilkan banyaknya garis pada masing-masing orang tidaklah terhubung dengan satu orang yang sama untuk setiap garis. Ini menandakan bahwa seseorang telah melakukan hubungan lebih dari sekali dan lebih dari satu orang.

Kembali lagi ini hanyalah salah satu gaya penyampaian kreatif. Artinya, masih banyak gaya kreatif lain yang berusaha dijadikan sebagai kanal penyebaran tujuan yang kurang lebih sama. Pun ini bukan lagi drama pertama yang mengandung unsur seks, sebelumnya juga ada bahkan banyak. Drama, musik, media sosial dan lainnya dijadikan sarana merebaknya ideologi liberal sekuler. Tayangan yang ditampilkan tidak lagi disaring berdasarkan nilai moral dan agama, melainkan untung dan rugi. Standar moral bebas ditentukan oleh masing-masing individu itu sendiri, tanpa standar agama juga budaya. Seks dijadikan seolah urusan pribadi tanpa adanya keterkaitan dengan kehormatan maupun nilai ibadah.

Remaja di Tengah Arus Seksualisasi

Sebagai populasi yang paling mendominasi, generasi muda menjadi golongan yang pantas mendapatkan kekhawatiran paling besar. Hal ini dikarenakan fase generasi muda adalah fase pembentukkan kepribadian, dimana rasa penasaran dan ikut-ikutan tren (fomo) mereka sangat besar. Sehingganya apapun yang disajikan pada media-media yang ada hari ini adalah narasi-narasi atau konten-konten akan dianggap sebagai lambang kepopuleran sekalipun tidak senonoh. Alhasil, akan terjadi internalisasi atas apa yang mereka peroleh dari media yang mereka tonton dan gunakan, termasuk dalam hal ini adalah seks bebas. Tidak ada lagi rasa malu untuk membicarakan bahkan melakukan hal-hal demikian. Parahnya, mereka bisa merasa rendah diri apabila dianggap tidak berpengalaman dalam hal tersebut. Titik ini menjadi krisis identitas dan kehormatan yang tidak lagi bisa dihindari. Menariknya lagi namun miris, masih banyak yang tidak sadar bahwa inilah bentuk penjajahan moral dengan kemasan hiburan.

Disisi lain, dunia pendidikan hari ini sedang tidak baik-baik saja. konsep menjaga aurat, batas pergaulan hingga rasa malu masih belum berhasil ditanamkan secara konsisten dalam setiap individu yang diajar. Banyak dari generasi hari ini yang paham akan konsep, tapi masih minim pengamalan sebab dianggap terlalu kaku bahkan mengekang. Mereka lebih memilih mengadopsi pendidikan ala barat yang dinilai lebih soft dan open minded. Pilihan yang mereka anggap zero tekanan justru malah menjerumuskan mereka ke dalam jurang kehancuran.

Pandangan Islam

Liberalisasi sekularisasi bukanlah akar masalah yang bisa dilawan cukup dengan nasihat individu. Lebih dari itu, butuh solusi sistemik yang tentunya bersumber dari Islam. Dalam kacamata Islam, budaya populer bukanlah budaya yang harus diterima apalagi di adopsi secara mentah. Islam mengarahkan agar tetap berada pada batasan, serta harus memahami bahaya yang ditimbulkan dan bagaimana seharusnya menyikapinya dengan bijak. Pendidikan seks Islami harus diperkenalkan sejak dini baik dalam batasan aurat, pergaulan, hingga tujuan mulia hubungan sah suami istri dalam ranah pernikahan.

“Dan orang-orang yang menjaga kemaluannya, kecuali terhadap istri-istri mereka atau hamba sahaya yang mereka miliki. Maka sesungguhnya mereka tidak tercela” (QS. Al-Mu’minun 5-6)

“Janganlah kamu mendekati zina. Sesungguhnya zina itu adalah perbuatan keji dan jalan terburuk.” (QS. Al-Isra:32)

Hal ini tidak lain sebagai pencegah berkembangnya pendidikan seks ala barat yang permisif dan berbasis kebebasan. Tentunya semua itu butuh tahap kontrol agar tetap pada koridornya. Tanggung jawab besar juga dimiliki oleh negara selaku pemangku kebijakan termasuk dalam hal penyaringan tayangan media. Negara berperan memastikan tayangan media yang disajikan tidak melampaui batas syariat dan moral, ini juga mencakup hal-hal yang berhubungan dengan seksualitas. Tugas ini juga harus didukung penuh oleh masyarakat yang harus melaporkan konten maupun tayangan berbahaya, berhenti menormalisasi tayangan yang merusak moral dan senantiasa mendukung karya-karya yang sehat dan positif. Dalam Islam tidak ada protes atau larangan dalam produksi konten, dengan pengecualian konten tersebut bermutu dan orientasinya pada membangun serta mengokohkan keimanan, bukan malah meruntuhkannya. Sudah tiba saatnya, para penulis maupun kreator muslim mengambil peran lebih besar dalam rangka mengganti tontonan rusak dengan hiburan yang mendidik.

S Line hanya satu dari sekian banyak simbol kerusakan yang menyusup melalui jalur budaya. Saat ini dianggap keren dan lucu, tetapi bisa saja besok sudah menjadi standar moral yang baru. Tentu ini tidak bisa dibiarkan dengan diam pertanda menormalisasi. Oleh karena itu, saatnya umat Islam bangkit. Bukan dengan marah-marah atau protes kosong, tetapi dengan jalur dakwah yang startegis dan solutif dengan Islam sebagai solusi menyeluruh. Menjaga batasan bukan satu-satunya jalan utama mematikan kebebasan sebagai akar kehancuran moral, melainkan juga dengan melengserkan budaya rusak dan menggantikannya dengan budaya Islam yang menjaga kehormatan, kesucian dan kemuliaan manusia.

Semoga Allah menjaga kita semua dari derasnya arus kerusakan zaman dan menjadikan kita sebagai bagian dari pembangun peradaban bukan penyebab keruntuhan.

Share:   
sa shop gorontalo
Korek Api Keren Touch Screen
Exit mobile version