Gorontalo – Dinas Ketahanan Pangan, Tanaman Pangan dan Hortikultura (KPTPH) Provinsi Gorontalo terus mendorong penerapan pengendalian Organisme Pengganggu Tumbuhan (OPT) yang ramah lingkungan melalui kegiatan Gerakan Pengendalian (Gerdal) hawar daun bakteri (HDB) pada tanaman padi dengan memanfaatkan Agen Pengendali Hayati (APH) Paenibacillus polymyxa, Kamis (15/10/2026)
Kegiatan ini merupakan tindak lanjut dari hasil pengamatan petugas Pengendali Organisme Pengganggu Tumbuhan (POPT) yang menemukan gejala penyakit hawar daun bakteri, atau yang dikenal petani sebagai penyakit kresek, pada areal pertanaman padi. Hasil pengamatan tersebut menjadi dasar dalam menentukan langkah pengendalian sesuai dengan kondisi tanaman dan perkembangan penyakit di lapangan.
Hawar daun bakteri merupakan penyakit pada tanaman padi yang disebabkan oleh bakteri Xanthomonas oryzae. Penyakit ini ditandai dengan munculnya gejala hawar yang berkembang dari tepi daun hingga menyebabkan daun mengering apabila serangan semakin berat. Kondisi tersebut perlu diantisipasi melalui pengamatan rutin dan tindakan pengendalian yang tepat agar perkembangan penyakit dapat ditekan.
Kepala Balai Perlindungan Tanaman (Balintan) Dinas KPTPH Provinsi Gorontalo, Abd Wahid Lahay, menyampaikan bahwa pengendalian OPT perlu dilakukan berdasarkan hasil pengamatan lapangan dengan mengutamakan langkah yang tepat, efektif, dan memperhatikan kelestarian lingkungan.
“Pengendalian OPT harus dilakukan berdasarkan hasil pengamatan petugas di lapangan. Pemanfaatan agen pengendali hayati menjadi salah satu alternatif yang perlu terus dikembangkan untuk menekan perkembangan penyakit tanaman, sekaligus mendukung penerapan Pengendalian Hama Terpadu yang lebih ramah lingkungan,” ujar Abd Wahid Lahay.
Dalam kegiatan Gerdal tersebut, APH Paenibacillus polymyxa dimanfaatkan sebagai salah satu alternatif untuk membantu menekan perkembangan bakteri penyebab penyakit. Pendekatan pengendalian hayati ini merupakan bagian dari penerapan Pengendalian Hama Terpadu (PHT), yang mengutamakan pengelolaan OPT berdasarkan kondisi agroekosistem dan kebutuhan pengendalian di lapangan.
Selain pelaksanaan gerakan pengendalian, petani juga diimbau untuk melakukan pemantauan perkembangan gejala penyakit secara berkala, menjaga sanitasi lahan, serta menerapkan teknik budidaya tanaman sehat. Penggunaan varietas yang tahan terhadap hawar daun bakteri dan pengelolaan pertanaman sesuai rekomendasi teknis juga menjadi langkah penting dalam mengurangi risiko serangan penyakit.
Sinergi antara petugas POPT, penyuluh pertanian, dan petani turut menjadi faktor penting dalam mendeteksi serangan OPT sejak dini serta menentukan tindakan pengendalian yang sesuai dengan kondisi pertanaman.
Melalui kegiatan ini, Dinas KPTPH Provinsi Gorontalo terus mendorong pengendalian OPT yang mengedepankan prinsip Pengendalian Hama Terpadu, termasuk pemanfaatan agen hayati sebagai alternatif pengendalian. Upaya tersebut diharapkan dapat mendukung kesehatan tanaman, menjaga produktivitas pertanaman padi, serta memperkuat penerapan budidaya pertanian yang berkelanjutan di Provinsi Gorontalo.













