, Kota Gorontalo – Wali Kota Gorontalo, Marten Taha menjadi pembicara pada kegiatan Asean Mayors Forum (AMF) 2022 di Kota Surabaya.
Kegiatan yang berlangsung dari tanggal 5 sampai 8 oktober ini mengangkat tema ‘Mencapai Urbanisasi Tangguh, Cerdas dan Berkelanjutan Melalui Kerjasama Asean di Era New Normal’.
Marten Taha tampil memukai sebagai pembicara pada kegiatan itu, bahkan beberapa Wali Kota yang ikut dalam ajang bergengsi ini memuji Wali Kota Marten.

Marten juga disebut sebagai visioner dalam organisasi Wali Kota se-Asean tersebut karena berhasil menunjukan keberhasilan Pemerintah Kota (Pemkot) Gorontalo dalam membangun daerah ditengah gempuran pandemi covid-19.
“Kota Gorontalo berbatasan dengan Kabupaten Bone Bolango, Kabupaten Gorontalo dan Teluk Tomini. Dengan luas wilayah 79,03 km² (0,65% dari luas Provinsi Gorontalo) dan pada akhir Tahun 2021, memiliki jumlah penduduk sebanyak 201.587 jiwa, dengan kepadatan penduduk 2.551 jiwa per km2,” terangnya.
Wali Kota Marten menjelaskan, dengan padatnya penduduk serta perubahan iklim yang cukup siknifikan, menjadi salah satu masalah tersendiri yang dihadapi oleh Pemkot Gorontalo.
“Dan urbanisasi menjadi salah satu faktor munculnya permasalahan di Kota Gorontalo karena pertumbuhan penduduk, perubahan iklim, keterbatasan fiskal, kriminalitas, banjir, infrastruktur, krisis energi, bencana alam, krisis lingkungan, sampah, transportasi, birokrasi,” ujar Marten.
Menyikapi hal ini, Marten membeberkan bagaimana solusi yang ditawarkan agar permasalahan tersebut bisa diatasi.
“Kebijakan Pemerintah Kota Gorontalo seperti Penataan Kawasan Kumuh Kotaku yang telah mencapai 221,91Ha (97%); Perbaikan Sistem Drainase Perkotaan 1162,47 m 2 (Panjang saluran drainase yang akan dibangun); Peningkatan Sistem Penyediaan Air Minum (SPAM) dengan 27.431 unit Sambungan Rumah (SR) yang telah terpasang instalasi Perusahaan Umum Daerah Muara Tirta Kota Gorontalo,” beber Marten.
“Dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) 2019 – 2024 (yang telah direvisi pada akhir tahun 2021), Visi yaitu “SMART (Sejahtera, Maju, Aktif, Religius, Terdidik). Salah satu Misi yaitu Meningkatkan ketersediaan infrastruktur yang handal di semua sektor publik, mengembangkan kualitas hidup masyarakat yang religius dan berbudaya,” sambungnya
Tak hanya itu, pemerintah juga menerapkan berbagai strategi untuk memukul mundur permasalahan yang dihadapi Kota Gorontalo, seperti menyediakan Ruang Terbuka Hijau (RTH) Sistem Pengolahan Sampah Terpadu dan meminimalisir tingkat pencemaran udara.
“Kota Gorontalo saat ini telah memiliki Command Centre, kemudian perencanaan pembangunan menggunakan teknologi Informasi seperti Layanan Izin Usaha, layanan administrasi kependudukan, layanan perpajakan serta sebagai sistem nilai budaya, dimana dalam bahasa Gorontalo memiliki istilah Motota (Smart atau Cerdas), Motolopani (Rajin) dan Moawota (Mau bekerja sama,” jelas Marten.
“Fokus Smart City di Kota Gorontalo yaitu, Pemerintah yang berfungsi sebagai pendengar, serta Masyarakat sebagai partisipan kemudian dengan Sistem yang menghubungkan antara Pemerintah dan Masyarakat,” tutup Wali Kota Gorontalo. (adv/Jeff)












