Gorontalo — Menghadapi ancaman kekeringan yang semakin berpotensi mengganggu produktivitas pertanian, UPTD Balai Perlindungan Tanaman Pertanian (Balintan) Provinsi Gorontalo terus mendorong petani untuk memperkuat langkah adaptasi terhadap dampak perubahan iklim.
Upaya tersebut dilakukan melalui kegiatan Bimbingan Teknis Penanganan Dampak Perubahan Iklim bersama Kelompok Tani (Poktan) Ilomata di Desa Limehe Barat, Kecamatan Tabongo, Kabupaten Gorontalo.
Kegiatan ini melibatkan petugas Pengendali Organisme Pengganggu Tumbuhan (POPT), penyuluh pertanian, pemerintah setempat serta kelompok tani. Sinergi tersebut diharapkan dapat meningkatkan kesiapsiagaan petani dalam menghadapi perubahan pola musim, khususnya ancaman kekeringan yang dapat berdampak terhadap ketersediaan air bagi tanaman.
Salah satu langkah adaptasi yang dilakukan dalam kegiatan tersebut adalah pembuatan sumur suntik atau titik suntik bor sebagai sumber air alternatif untuk mendukung kebutuhan pengairan lahan pertanian.
Kepala UPTD Balintan DKPTPH Provinsi Gorontalo, Abd. Wahid Lahay, mengatakan penyediaan sumber air alternatif merupakan bagian penting dari upaya membantu petani menghadapi kondisi iklim yang semakin tidak menentu.
“Kita tidak bisa hanya bergantung pada curah hujan, khususnya pada lahan sawah tadah hujan. Karena itu, penyediaan sumber air alternatif melalui sumur suntik ini merupakan salah satu bentuk adaptasi yang kita dorong agar petani tetap memiliki sumber air ketika terjadi kekeringan,” ujar Abd. Wahid Lahay.
Ia menambahkan, keberadaan sumber air tersebut diharapkan dapat dikelola secara bersama oleh kelompok tani sehingga manfaatnya dapat dirasakan secara berkelanjutan.
“Yang paling penting bukan hanya bagaimana sumber air ini dibuat, tetapi bagaimana kemudian dikelola dan dimanfaatkan secara bersama oleh kelompok tani. Dengan pengelolaan yang baik, kita berharap sumber air ini menjadi investasi jangka panjang untuk menjaga keberlangsungan pertanaman,” jelasnya.
Pada hamparan persawahan Poktan Ilomata yang memiliki luas sekitar 30 hektare, telah dibuat sebanyak enam titik suntik bor yang ditempatkan pada lokasi strategis di area persawahan.
Keberadaan enam titik sumber air tersebut diharapkan dapat membantu memenuhi kebutuhan air tanaman, terutama ketika curah hujan tidak mencukupi. Selain itu, pemanfaatan sumber air secara bersama diharapkan mampu meningkatkan efisiensi penggunaan air sekaligus memperkuat kemandirian kelompok tani.
Abd. Wahid Lahay juga menegaskan bahwa penanganan dampak perubahan iklim membutuhkan keterlibatan seluruh pihak, mulai dari pemerintah, petugas lapangan, penyuluh hingga petani sebagai pelaku utama pertanian.
“Perubahan iklim adalah tantangan yang harus kita hadapi bersama. Petani perlu didorong untuk tidak hanya menunggu kondisi musim, tetapi juga menyiapkan langkah-langkah adaptasi. Kami dari Balintan akan terus memberikan pendampingan agar teknologi dan langkah adaptasi yang diterapkan benar-benar memberikan manfaat di tingkat lapangan,” ungkapnya.
Melalui kegiatan bimbingan teknis ini, UPTD Balintan Provinsi Gorontalo bersama POPT, penyuluh pertanian, pemerintah setempat dan Poktan Ilomata terus memperkuat upaya adaptasi perubahan iklim di sektor pertanian.
Penyediaan sumber air melalui enam titik suntik bor pada lahan seluas 30 hektare diharapkan mampu menjaga keberlangsungan pertanaman sekaligus menjadi langkah nyata dalam membangun pertanian Gorontalo yang tangguh, produktif, dan adaptif terhadap perubahan iklim.













