https://wa.wizard.id/003a1b

Hand-Eye Method, Solusi Atasi Polemik Porsi Makan Program MBG

Editor: Febrianti Husain
PB IDI mengingatkan pemerintah agar menu dalam program Makan Bergizi Gratis (MBG) untuk anak-anak mengikuti panduan Isi Piringku dari Kementerian Kesehatan. (Sumber Foto: Istimewa)

DAILYPOST.ID Jakarta– Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang diterapkan di sejumlah sekolah menuai kritik dari berbagai pihak. Selain insiden sayuran basi, kini porsi nasi yang dianggap terlalu besar menjadi perbincangan hangat di media sosial. Publik mempertanyakan apakah porsi makanan yang disajikan benar-benar mencerminkan prinsip gizi seimbang.

Dokter dan Ahli Gizi Masyarakat, Dr. Tan Shot Yen, M.Hum, turut memberikan pandangannya mengenai isu tersebut.

“Nasinya memang terlihat banyak karena ahli gizinya hanya menghitung kebutuhan kalori harian anak,” jelas Dr. Tan kepada Kompas.com, Sabtu (11/1/2025).

Menurut Dr. Tan, pendekatan yang berfokus pada pemenuhan kebutuhan kalori sering kali tidak mempertimbangkan proporsi yang ideal antara nasi, lauk, dan sayur.

“Secara teori, ini terlihat seperti gizi seimbang. Namun, secara praktik, porsi ini tidak masuk akal,” tambahnya.

Dr. Tan merekomendasikan metode Hand-Eye yang telah banyak digunakan di luar negeri untuk menentukan porsi makanan yang ideal.

Berikut panduan sederhana dari metode Hand-Eye untuk mengatur porsi makan anak:

  1. Segenggam tangan untuk karbohidrat
    • Nasi, pasta, atau kentang sebaiknya disajikan sebanyak genggaman tangan.
    • Ukuran ini setara dengan 200 kkal.
  2. Telapak tangan untuk protein hewani
    • Daging sapi, ikan, atau ayam dianjurkan sebesar telapak tangan, sekitar 85 gram (160 kkal).
  3. Setengah genggam tangan untuk protein nabati
    • Kacang-kacangan dapat diberikan sebanyak setengah genggaman tangan, setara dengan 28 gram (170 kkal).
  4. Seukuran ibu jari untuk minyak dan gula
    • Minyak dan gula cukup disajikan sebesar ujung ibu jari atau sekitar satu sendok teh.

Dr. Tan juga menekankan bahwa kesuksesan program MBG tidak hanya bergantung pada porsi makanan, tetapi juga pada kualitas bahan, cara pengolahan, dan keamanan makanan.

“Harus ada keseimbangan antara kuantitas dan kualitas. Makanan juga harus bersih dan aman untuk dikonsumsi,” ujarnya.

Kritik ini muncul tidak lama setelah insiden ditemukannya sayuran basi di beberapa sekolah. Hal ini menimbulkan kekhawatiran akan efektivitas dan keberlanjutan program MBG.

Meskipun banyak menuai pro-kontra, program ini tetap mendapat apresiasi atas niat baiknya untuk meningkatkan asupan gizi siswa. Namun, perbaikan diperlukan agar tujuan mulia program ini dapat tercapai tanpa menimbulkan masalah baru.

(d10)

 

Share:   
sa shop gorontalo
Korek Api Keren Touch Screen
Exit mobile version