Jakatra– Kasus mutilasi yang terjadi di Ngawi, Jawa Timur, baru-baru ini mengguncang masyarakat. Jasad Uswatun Khasanah (29) ditemukan dalam koper merah, sementara bagian tubuh lainnya ditemukan di lokasi berbeda, yakni kaki di Ponorogo dan kepala di Trenggalek. Pelaku, Rochmat Tri Hartanto atau Atok (33), diketahui memiliki hubungan asmara dengan korban selama tiga tahun. Tindak keji ini dipicu oleh rasa cemburu dan sakit hati Atok terhadap korban.
Kasus ini memunculkan pertanyaan mendalam: apa yang memicu seseorang melakukan kekerasan ekstrem terhadap pasangannya? Psikolog Klinis Dewasa Disya Arinda membeberkan beberapa faktor yang kerap menjadi akar masalah dalam kekerasan pasangan.
1. Faktor Psikologis
Menurut Disya, masalah psikologis seperti gangguan kepribadian atau trauma masa lalu sering menjadi pemicu utama kekerasan. Gangguan ini memengaruhi kemampuan seseorang mengelola emosi, sehingga tindakan impulsif mudah terjadi.
“Masalah regulasi emosi, seperti perasaan marah, cemburu, atau sakit hati yang tidak terkelola dengan baik, menjadi salah satu penyebab utama,” ujar Disya kepada Kompas.com, Selasa (28/1/2025).
2. Rasa Kepemilikan yang Berlebihan
Rasa kepemilikan yang berlebihan terhadap pasangan kerap membuat seseorang merasa berhak penuh atas pasangan mereka. Hal ini menciptakan rasa cemburu dan posesif ketika pasangan berinteraksi dengan orang lain.
“Pelaku menganggap pasangannya sebagai milik pribadi. Jika merasa haknya dirampas, mereka kehilangan kontrol,” jelas Disya.
3. Komunikasi yang Buruk
Ketidakmampuan pasangan untuk mengekspresikan emosi secara sehat sering menjadi akar konflik. Ketika komunikasi tidak berjalan lancar, konflik kecil dapat membesar hingga memicu ledakan amarah yang ekstrem.
“Komunikasi yang buruk membuat konflik sulit diselesaikan secara damai. Hal ini memicu tindakan kekerasan yang tidak terkendali,” tambahnya.
4. Pengaruh Lingkungan Sosial
Lingkungan tempat seseorang tumbuh juga memiliki peran signifikan. Budaya yang membenarkan kekerasan sebagai cara menyelesaikan masalah atau norma patriarki yang mengutamakan dominasi laki-laki dapat memicu perilaku serupa pada pelaku.
“Lingkungan yang membenarkan kekerasan atau menormalisasi dominasi pria dapat memperparah konflik dalam hubungan,” ungkap Disya.
5. Pelecehan Emosional dan Penghinaan
Penghinaan atau pelecehan emosional yang merusak harga diri pelaku juga menjadi salah satu pemicu. Khususnya bagi pelaku dengan self-esteem rendah, situasi ini dapat mendorong mereka melakukan pembelaan diri dalam bentuk kekerasan.
“Ketika harga diri pelaku terganggu, terutama dalam situasi yang melibatkan keluarga atau hal penting lainnya, dorongan untuk melindungi diri dapat berujung pada tindakan kekerasan,” pungkasnya.
Kasus Ngawi ini menjadi pengingat pentingnya komunikasi sehat, pemahaman emosi, dan lingkungan sosial yang positif dalam mencegah kekerasan ekstrem. Tidak hanya pelaku, masyarakat juga perlu meningkatkan kesadaran dan mendukung upaya pencegahan kekerasan dalam hubungan agar tragedi serupa tidak terulang di masa depan.
(d10)












