https://wa.wizard.id/003a1b

Rahasia Panjang Umur Maria Branyas: Ilmuwan Ungkap Gen Langka & Usus Sehat

Editor: Febrianti Husain

DAILYPOST.ID Jakarta– Maria Branyas Morera, perempuan tertua di dunia sebelum meninggal pada Agustus 2024 di usia 117 tahun, menyimpan misteri biologis yang kini mulai terungkap. Meskipun usianya sangat lanjut, tubuhnya menunjukkan tanda-tanda yang jauh lebih muda dibandingkan orang seusianya.

Penelitian terbaru yang dilakukan para ilmuwan terhadap sampel darah, air liur, tinja, dan urin Branyas menemukan bahwa ia memiliki sejumlah faktor biologis yang membuatnya tetap sehat hingga usia ekstrem. Faktor-faktor tersebut meliputi gen langka yang berhubungan dengan sistem kekebalan tubuh, kadar kolesterol yang ideal, serta jumlah bakteri usus yang tinggi dalam melawan peradangan.

“Tujuan kami adalah memahami mengapa ada orang yang bisa mencapai usia sangat panjang tanpa mengalami penyakit serius,” ujar Manel Esteller, peneliti utama dalam studi ini dan ahli epigenetika kanker, dikutip dari Live Science.

Apa yang Membuat Maria Branyas Hidup Lebih Lama?

Studi ini mengungkap bahwa Branyas memiliki tujuh varian genetik langka yang tidak ditemukan pada sebagian besar populasi Eropa. Gen ini diyakini berperan dalam melindungi tubuh dari penyakit kronis seperti gangguan jantung, kanker, dan penyakit autoimun.

Selain faktor genetik, fungsi mitokondria dalam tubuh Branyas juga sangat baik. Mitokondria adalah “pembangkit energi” dalam sel yang berperan penting dalam kesehatan tubuh secara keseluruhan. Dibandingkan dengan wanita yang lebih muda, mitokondria Branyas bekerja lebih efisien, memungkinkan tubuhnya tetap kuat meskipun usianya sudah lebih dari satu abad.

Tak hanya itu, kadar kolesterol Branyas juga berada dalam kisaran ideal, yang membantu menjaga kesehatan jantungnya. Ditambah lagi, komposisi bakteri ususnya kaya akan mikroba baik yang membantu melawan peradangan—salah satu penyebab utama berbagai penyakit degeneratif pada usia tua.

Mengapa Maria Branyas Tampak Lebih Muda dari Usianya?

Ketika seseorang bertambah tua, struktur di ujung kromosom yang disebut telomer akan semakin pendek. Telomer berfungsi melindungi DNA agar tidak rusak, sehingga memperlambat proses penuaan dan mencegah kanker.

Dalam penelitian ini, ditemukan bahwa telomer Branyas memang sudah sangat pendek, sesuai dengan usianya. Namun, uniknya, beberapa penanda biologis lainnya justru menunjukkan tanda-tanda penuaan yang lebih lambat dibandingkan orang lain seusianya.

Branyas juga memiliki jumlah sel imun tertentu yang cukup tinggi—jenis sel yang biasanya menurun drastis pada orang tua. Hal ini menandakan bahwa sistem kekebalan tubuhnya masih bekerja cukup baik hingga akhir hayatnya.

Pelajaran dari Maria Branyas: Genetik atau Gaya Hidup?

Temuan ini memicu pertanyaan: Apakah umur panjang sepenuhnya ditentukan oleh genetik, ataukah gaya hidup juga berperan?

Menurut Esteller, meskipun faktor genetik memainkan peran besar, pola hidup sehat tetap menjadi kunci utama dalam mencapai usia panjang dengan kondisi tubuh yang prima. Beberapa langkah yang bisa kita lakukan untuk meniru gaya hidup sehat Branyas antara lain:
✔ Menjaga pola makan seimbang dengan makanan bernutrisi tinggi
✔ Menjaga kesehatan usus dengan konsumsi probiotik alami
✔ Menghindari stres yang berlebihan dan menjaga kesehatan mental
✔ Menjaga kadar kolesterol dan tekanan darah tetap stabil
✔ Melakukan aktivitas fisik yang sesuai dengan kemampuan tubuh

Penelitian ini membuka peluang bagi ilmuwan untuk mengembangkan intervensi medis yang bisa meniru faktor biologis Branyas. Di masa depan, mungkin saja akan ada terapi atau obat-obatan yang dapat memperpanjang usia harapan hidup manusia.

Meskipun kita tidak bisa memilih gen kita, mengadopsi gaya hidup sehat seperti yang dilakukan Maria Branyas bisa menjadi langkah awal untuk menua dengan sehat dan bahagia.

(d10)

Share:   
sa shop gorontalo
Korek Api Keren Touch Screen
Exit mobile version