Jakarta– Legenda sepak bola Indonesia, Bejo Sugiantoro, meninggal dunia setelah mengalami kondisi darurat medis saat bermain sepak bola di Lapangan Surabaya Industrial Estate Rungkut (SIER), Surabaya, pada Selasa (25/2/2025).
Corporate Secretary PT SIER, Jefri Ikhwan, menyatakan bahwa insiden terjadi sekitar pukul 16.50 WIB, saat Bejo mendadak tak sadarkan diri di lapangan.
“Melihat kondisi tersebut, rekan-rekan almarhum dan tim SIER segera memberikan pertolongan pertama dan membawa beliau ke RS Royal Surabaya untuk mendapatkan penanganan medis lebih lanjut,” ujar Jefri, seperti dikutip dari Antara.
Namun, meskipun telah mendapatkan penanganan medis maksimal, Bejo Sugiantoro dinyatakan meninggal dunia. Sosok yang kini melatih Deltras FC Sidoarjo itu wafat dalam usia 47 tahun.
Kematian Mendadak Saat Olahraga: Fenomena yang Mengkhawatirkan
Kasus kematian mendadak saat olahraga (Sudden Cardiac Death/SCD) sering kali mengejutkan karena menimpa individu yang tampak sehat dan bugar. Beberapa kasus serupa yang pernah terjadi di dunia olahraga antara lain:
- Christian Eriksen (UEFA Euro 2020) – Mengalami serangan jantung di lapangan dan diselamatkan dengan resusitasi jantung paru (RJP) serta pemasangan implan defibrillator.
- Zhang Zi Jie (Atlet Bulutangkis China) – Meninggal dunia saat bertanding di Yogyakarta.
Berdasarkan penelitian Meagan M. Wasfy, M.D dari Massachusetts General Hospital, angka kejadian SCD pada atlet berkisar 1 dalam 40.000 hingga 1 dalam 80.000 atlet per tahun.
Namun, pada olahraga berintensitas tinggi seperti basket profesional pria, angkanya meningkat hingga 19 per 100.000 atlet per tahun, menurut jurnal yang dipublikasikan germanjournalsportsmedicine.com.
Bagaimana Olahraga Mempengaruhi Jantung?
Olahraga memberikan banyak manfaat bagi kesehatan jantung, seperti:
✅ Menurunkan tekanan darah & kolesterol jahat (LDL)
✅ Meningkatkan kolesterol baik (HDL) & sensitivitas insulin
✅ Mengontrol berat badan & mengurangi risiko diabetes tipe 2
Namun, bagi individu dengan kelainan jantung tersembunyi, olahraga justru bisa menjadi pemicu aritmia fatal atau serangan jantung, terutama saat melakukan aktivitas fisik berat.
Saat olahraga intens, tubuh mengalami perubahan seperti:
⚡ Pelepasan adrenalin yang mempercepat detak jantung dan meningkatkan tekanan darah.
⚡ Hormon endorfin yang menutupi rasa sakit, sehingga seseorang tidak sadar telah melampaui batas fisiknya.
⚡ Peningkatan beban kerja jantung, yang bisa menyebabkan plak arteri pecah dan memicu serangan jantung.
Tanda Peringatan Kematian Mendadak Saat Olahraga
Menurut penelitian Wasfy, sekitar 30% atlet yang mengalami SCD telah menunjukkan gejala peringatan sebelumnya, seperti:
Nyeri dada saat olahraga
Sesak napas yang tidak biasa
Palpitasi (jantung berdebar tidak teratur)
Pingsan atau hampir pingsan (pre-syncope)
Namun, gejala ini sering kali diabaikan, karena atlet terbiasa mengalami kelelahan fisik.
Penyebab Kematian Mendadak Berdasarkan Usia
⚕️ Atlet Muda (<35 tahun)
Pada atlet muda, penyebab utama SCD adalah kelainan jantung bawaan yang sering kali tidak terdeteksi sebelumnya, seperti:
- Kardiomiopati hipertrofik (HCM) – Penebalan otot jantung yang memicu aritmia.
- Anomali arteri koroner – Arteri tumbuh dengan posisi abnormal, menghambat suplai darah ke jantung.
- Displasia ventrikel kanan aritmogenik (ARVD) – Otot ventrikel kanan digantikan oleh jaringan lemak, meningkatkan risiko aritmia.
⚕️ Atlet Dewasa (>35 tahun)
Pada kelompok ini, penyebab utama SCD adalah penyakit jantung koroner (CAD). Statistik menunjukkan:
21 per 1 juta atlet dewasa per tahun mengalami SCD akibat CAD.
50% lebih kasus SCD pada atlet >35 tahun disebabkan oleh CAD, diperburuk oleh:
- Merokok & pola makan tinggi lemak
- Tekanan darah tinggi akibat olahraga intens
- Peradangan tidak terkontrol (flu, infeksi gigi, dll.)
Faktor Lain yang Berkontribusi pada SCD
Selain penyakit jantung, faktor berikut juga meningkatkan risiko kematian mendadak saat olahraga:
Dehidrasi, yang meningkatkan beban kerja jantung.
⚡ Ketidakseimbangan elektrolit (kalium & magnesium), yang bisa memicu aritmia.
Penggunaan doping & suplemen berlebihan, yang meningkatkan tekanan darah & denyut jantung secara ekstrem.
Bagaimana Mencegah Kematian Mendadak Saat Olahraga?
Menurut Perhimpunan Dokter Spesialis Kardiovaskular Indonesia (PERKI), pencegahan SCD dalam olahraga dapat dilakukan melalui:
1️⃣ Pemeriksaan Kesehatan Rutin
- Elektrokardiogram (EKG): Mendeteksi kelainan ritme jantung.
- Ekokardiogram: Menilai struktur jantung.
- Tes stres jantung (Treadmill Stress Test): Mengidentifikasi risiko serangan jantung saat aktivitas fisik.
Catatan: EKG memiliki sensitivitas 5x lebih tinggi dibandingkan riwayat medis, dan 10x lebih tinggi dibandingkan pemeriksaan fisik biasa (Egger, 2024).
2️⃣ Persiapan Sebelum Berolahraga
- Pastikan tubuh cukup istirahat & terhidrasi.
- Hindari alkohol, kafein, dan obat-obatan yang dapat mempengaruhi jantung.
- Lakukan pemanasan & pendinginan sebelum & setelah olahraga.
3️⃣ Kesiapsiagaan Tim Kesehatan di Lapangan
- Latihan RJP (resusitasi jantung paru) secara rutin untuk pelatih & atlet.
- Ketersediaan AED (Automated External Defibrillator) di lokasi olahraga.
- Penempatan AED di lokasi yang mudah dijangkau.
Menurut American Heart Association, RJP yang diberikan dalam 3-5 menit pertama dapat meningkatkan peluang selamat hingga 74%.
(d10)













