Kasus kekerasan dan penganiayaan kembali terjadi di kalangan remaja yang masih berstatus pelajar. Kali ini terjadi di Bantul Yogyakarta. Polisi berhasil menangkap dua pelaku kasus penganiayaan seorang pelajar bernama Ilham Dwi Saputra (16). Ilham meninggal dunia usaha dikeroyok dan dianiaya dengan brutal oleh sekelompok orang yang juga masih berstatus pelajar pada tanggal 14 April 2026 di wilayah Pandak. (KumparanNEWS, 21 April 2026).
Peristiwa bermula saat korban dijemput dan dibawa ke lokasi sepi sebelum dikeroyok sekitar 10 orang. Dugaan sementara motif penganiayaan diduga terkait aksi balas dendam. Dua orang pelaku sudah ditetapkan sebagai tersangka dan polisi masih memburu lima orang pelaku lainnya.
Kasus di atas hanyalah salah satu dari puluhan bahkan ratusan kasus lainnya. Masih banyak lagi kasus yang serupa yang tak kalah memprihatinkan pada generasi pelajar saat ini, seperti pelecehan seksual yang dilakukan pelajar dan mahasiswa, kasus kecurangan ujian (UTBK), kasus pelajar menjadi pengedar sabu, yang terbaru saat ini adalah kasus pelajar yang menghina guru bahkan memenjarakan guru karena memarahi atau menghukum siswa.
Setiap anak tidak tumbuh dengan sendirinya menjadi pribadi yang buruk, di sana ada proses dan lingkungan juga pendidikan di sekitar mereka yang membuat mereka kehilangan arah dan jati diri. Arah pendidikan hari ini yang bangga dengan nilai akademik tapi lupa dengan adab dan akhlak. Akibatnya, lahirlah generasi yang cerdas secara intelektual tapi rapuh secara moral. Di sinilah bahaya yang sesungguhnya, kenakalan pelajar yang dianggap biasa lama-lama menjadi kebiasaan dan dianggap wajar. Semakin mereka berbuat kejahatan mereka semakin merasa eksis dan hebat.
Inilah dampak dari pendidikan sukalerisme yang memisahkan ilmu dari nilai-nilai agama. Yang menganggap cukup dengan pengetahuan tapi mengabaikan pembentukan karakter dan keimanan. Pendidikan saat ini hanya fokus pada pencapaian akademik tapi lupa menanamkan adab dan akhlak.
Sistem pendidikan sukuler kapitalistik menghasilkan output orang-orang yang ingin sukses instan tanpa mau berusaha secara serius, juga orang-orang yang menghalalkan segala cara demi mendapatkan uang dalam jumlah besar.
Longgarnya sanksi negara bagi pelaku pelajar (mayoritas masih dibawah umur) sehingga mentoleransi kriminalitas yang dilakukan sebagai kenakalan anak semata. Minimnya pendidikan nilai-nilai agama yang benar dalam pendidikan sekuler, memperlebar ruang kebebasan yang akhirnya mengikis moral dan kepribadian, bahkan mudah terseret pada tindak kejahatan dan kemaksiatan.
Solusi dalam Islam
Dalam Islam, pendidikan merupakan hal penting dan mendasar yang wajib dijamin pemenuhannya oleh negara. Asas aqidah pada sistem pendidikan Islam menghasilkan insan Kamil yang cerdas sekaligus bertakwa sehingga tidak melakukan kecurangan demi meraih kesuksesan.
Pendidikan Islam fokus pada pembentukan karakter sakhsiyah islamiyah, pelajar harus memiliki keselarasan antara pola pikir dan pola sikapnya. Islam menerapkan sistem sanksi yang tegas bagi para pelaku kejahatan termasuk pelajar.
Negara Islam akan membangun suasana hidup yang penuh ketakwaan dan mendorong setiap orang untuk berlomba dalam amal kebaikan.
Sinergi pendidikan dalam keluarga, lingkungan dan sistem jn pendidikan Islam yang diterapkan oleh negara harus berpijak pada akidah dan syariat Islam.
Penulis : Ummu Intan (Aktivis Dakwah Muslimah)













