Gelombang Serangan di Tepi Barat, Kematian Anak Palestina Meningkat

Dailypost.id
Oleh: Nisa Polinggapo
(Aktivis Muslimah)

Tanah-tanah di Tepi Barat tidak lagi direbut secara diam-diam, tapi terang-terangan di hadapan seluruh dunia. Saat ini, entitas Yahudi makin memperketat cengkeramannya terhadap penduduk Tepi Barat. Mereka menghancurkan rumah-rumah, mengambil tanah, menghapus identitas, dan mengepung perkotaan serta pedesaan hingga mereka hampir tidak bisa bernapas. Ditambah adanya serangan secara masif dan brutal tahun ini.

Diketahui di Bulan Januari 2024 dan Juli 2026, PBB memverifikasi kematian 174 anak Palestina di Tepi Barat, termasuk Yerusalem Timur, lebih dari satu anak setiap minggunya. Lebih dari 1.500 anak mengalami luka-luka, dengan hampir separuhnya terluka akibat peluru tajam dan 355 anak Palestina dari Tepi Barat sedang ditahan dalam tahanan militer Israel. Dilansir dari replubika.co.id

Anak-anak dan perempuan Palestina dan Jalur Gaza selalu menjadi sasaran yang jelas dan eksplisit bagi tentara pendudukan, bahkan kita menemukan bahwa pada tahun-tahun ketika pendudukan melancarkan agresinya terhadap Jalur Gaza, jumlah yang syahid dari kalangan anak-anak dan perempuan meningkat dua kali lipat dibandingkan tahun-tahun lainnya.

Kantor Media Tahanan Palestina (Palestinian Prisoners Media Office) menyatakan bahwa serangan ini merupakan bagian dari kampanye penangkapan harian yang meningkat yang dilakukan oleh pasukan entitas Yahudi di Tepi Barat, yang menargetkan berbagai kelompok, termasuk perempuan dan anak-anak. Dilansir dari mediaumat.com

Dari laporan yang diterima melalui sumber-sumber Palestina, sekelompok pemukim Israel juga mengepung rumah-rumah warga Palestina di wilayah Ras al-Ain, Qusra, sebelah selatan Nablus selama sepekan. Di dalam rumah-rumah itu masih didiami sekitar 15 warga Palestina, termasuk anak-anak. Kondisi kemanusiaan mereka sungguh sangat memperihatinkan, sementara akses terhadap kebutuhan pokok juga sangat terbatas akibat pengepungan tersebut.

Kejahatan Zionis Israel terhadap anak-anak Palestina terbukti sangat biadab dan menjijikkan, serta menimbulkan trauma, penderitaan dan kerusakan nyata bagi anak-anak Palestina. Zionis sengaja meningkatkan teror, ribuan serangan, pengusiran, perampasan dan genosida dalam senyap untuk menguasai Tepi Barat sebagaimana mereka berhasil menguasai Gaza.

Sebab faktor demografis sangat berpengaruh terhadap keberadaan pendudukan di tanah Palestina, sehingga pendudukan menginginkan populasi mereka lebih besar daripada penduduk Palestina, karena jika populasi Palestina yang besar, maka akan menimbulkan ancaman nyata bagi keberadaan mereka. Selain itu, pendudukan membombardir tanpa pandang bulu, bahkan mereka ingin terus meneror rakyat Palestina, dan mereka tidak ingin generasi baru pejuang perlawanan muncul.

Dengan demikan, kejahatan Zionis pada anak-anak Palestina harus dilawan karena umat Islam tidak akan dibebaskan, begitu pula rakyat Palestina dan anak-anaknya tidak akan dibebaskan, dan kejahatan entitas Yahudi yang mengerikan ini tidak akan berhenti. Sayangnya dunia dan para penguasa di negeri muslim justru bungkam dan tak berani memerangi Zionis Israel. Akankah umat Islam membiarkan rakyat Tepi Barat menghadapi kejahatan Zionis Sendirian?

Dosa Besar

Kondisi rakyat Palestina dan tanah Isra Mikraj ini, akan tetap menjadi beban amanah yang dipikul kaum muslim. Islam mengharamkan pembiaran kejahatan pada anak-anak dan kemanusiaan secara total. Karena syariat Islam mewajibkan untuk melindungi harta dan nyawa manusia.

Ukhuwah Islam, persatuan negeri-persatuan muslim dan penegakan Khilafah sangat penting diwujudkan untuk melawan kejahatan Zionis Israel. Kebiadaban aksi nyata oleh entitas Zionis tak pernah lenyap untuk menyingkirkan rakyat Palestina dan sekitarnya. Mereka yang telah begitu lama mengalami penghinaan, pemindasan, kekerasan dan pelecehan di bawah rezim-rezim boneka yang sudah usang ini sangat membutuhkan tindakan cepat untuk menolong rakyat Palestina dan menyelamatkan anak-anak mereka, sebagaimana diwajibkan oleh hukum Islam. Allah SWT berfirman: “Jika mereka meminta pertolongan kepadamu dalam (urusan pembelaan) agama (Islam), wajib atas kamu memberikan pertolongan.” (TQS. Al-Anfāl [8] : 72).

Bumi yang diberkahi beserta penghuninya ini, akan tetap menjadi beban dan tanggungan yang berat pada hari kiamat. Beban tersebut tidak akan terangkat oleh kecaman para penguasa, tidak pula oleh tangisan manusia, tidak pula oleh doa-doa di masjid-masjid, tidak pula oleh pembangunan kembali, tidak pula oleh persediaan makanan, minuman, obat-obatan, dan kain kafan.

Namun, upaya untuk membebaskan Palestina sesungguhnya membutuhkan satu komando dari seorang khalifah. Melalui institusi politik Islam yakni negara Islam (Khilafah), negeri-negeri muslim yang hari ini tersekat dalam ikatan nasionalisme dengan konsep nation state akan dipersatukan dan khalifah atau pemimpin akan memobilisasi kaum muslim untuk berjihad melawan entitas Yahudi.

Jihad adalah solusi riil atas permasalahan Palestina hari ini. Perang opini yang Barat lancarkan untuk mendiskreditkan jihad hari ini telah membuat umat jauh dari solusi hakiki pembebasan Palestina. Padahal, Islam dengan tegas memberikan legitimasi untuk melakukan perlawanan terhadap pihak-pihak yang terlebih dahulu memerangi kaum muslim.

Tentu, dibutuhkan upaya-upaya sistematis untuk mengopinikan metode Islam dalam mengurai masalah Palestina. Di sinilah pentingnya perjuangan Islam politis yang dimobilisasi oleh jemaah dakwah Islam ideologis, agar umat dapat merumuskan perjuangan dalam upaya mewujudkan hadirnya institusi politik yang mempersatukan negeri-negeri Islam, sekaligus membebaskan negeri Islam yang saat ini sedang terjajah agar perempuan dan anak-anak tak lagi menjadi korban kebrutalan Zionis. Wallahualam bissawab

Share:   
https://wa.wizard.id/003a1b sa shop gorontalo
Korek Api Keren Touch Screen
Exit mobile version