Oleh: Sri Maulana Dali, S.Pd (Aktivis Muslimah)
Menurut Data BPS pada februari 2026, Provinsi Gorontalo mengalami inflasi sebesar 5,30%. Kota Gorontalo 4.67 % dan Kabupaten Gorontalo sebesar 5,81%. Ditahun sebelumnya memang sudah cukup tinggi. Hal ini menandakan budaya konsumtif di Gorontalo meningkat.
Tak hanya itu secara Nasional lebih dari 48 % Gen Z tidak merasa aman secara finansial. 38% Gen Z menyebut pengeluaran harian sebagai beban utama. BPS mencatat 67% total pengangguran nasional di Indonesia didominasi oleh Gen Z. tak hanya itu survey Deloitte mengatakan 55% Gen Z pilih tunda menikah demi stabilitas finansial.
Tak hanya itu sampai pada membangun rumah, usaha dan kuliah Gen Z terhimpit. Ditengan tekanan ekonomi dan hidup pas pasan. Alokasi belanja Gen Z untuk self-reward, healing dan gaya hidup justru terus meningkat karena dianggap kebutuhan emosional, bukan sekedar kemewahan dan boros. Tetapi lelah menabung karena masa depan.
Di samping itu hari ini gen Z hidup dengan mengikuti standar-standar sosial media. Algoritma tidak hanya memberikan apa yang mereka sukai tapi membuat tren terasa seperti kebutuhan. Akibatnya FOMO di kalangan Gen Z bekerja mempengaruhi cara pandang kehidupan rasa takut tertinggal, takut tidak dianggap.
Kapitalis Sumber Masalah
Sistem kapitalisme yang menempatkan materi sebagai standar kebahagiaan tertinggi mendorong manusia, termasuk Gen Z dan milenial hidup hedonistik. Keinginan untuk menikmati kesenangan instan seperti kuliner, hiburan, dan belanja barang bermerek, membuat mereka tergoda berbelanja melebihi kemampuan finansial, sedangkan untuk memenuhi kebutuhan pokok saja mereka kesulitan. Untuk memenuhi kesenangan instan itu para pekerja yang didominasi Gen Z dipaksa berkompetisi dengan lingkungan kerja yang eksploitatif. Sistem ekonomi kapitalisme menyuburkan praktek riba seperti pinjaman online, kartu kredit, dan bunga bank sehingga menjadi jebakan bagi generasi untuk menutupi kekurangan finansial. Sayang, mereka justru terbelit oleh tumpukan utang yang mencekik.
Kebahagiaan Hakiki
Islam telah memberikan paradigma yang benar kepada manusia terkait hidup ini. Allah Taala menciptakan manusia semata-mata untuk beribadah dan menggapai rida-Nya. Ini sebagaimana firman-Nya, ”Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku.” (TQS Adz-Dzariyat [51]: 56).
Ketika manusia hanya berorientasi dunia, mereka akan merugi. Setiap urusan hidupnya selalu gagal dan berantakan. Jika tampak berhasil, itu hanya sementara, tetapi akhirnya tetap sengsara di akhirat. Ia akan senantiasa merasa kurang meski berapa pun yang didapat dari usahanya.
Kehidupan seperti ini seharusnya menjadi orientasi setiap manusia, termasuk generasi muda, karena Allah Taala telah menjanjikan, ”Barang siapa menghendaki keuntungan di akhirat, akan Kami tambahkan keuntungan itu baginya dan barang siapa menghendaki keuntungan di dunia, Kami berikan kepadanya sebagian darinya (keuntungan dunia), tetapi dia tidak akan mendapat bagian di akhirat.” (TQS Asy-Syura [42]: 20).
Orientasi hidup seperti ini akan memunculkan sikap kanaah, tawaduk, dan aulawiyat. Kanaah bermakna merasa cukup atas hasil usaha serta rezeki yang diberikan Allah Swt., setelah usaha maksimal dijalankan, hidup sesuai kemampuan, serta bersyukur atas apa yang dimiliki. Tawaduk yaitu sikap rendah hati dan tidak sombong, karena menyadari semua karunia yang ada pada dirinya adalah anugerah Allah semata. Aulawiyat yaitu kemampuan untuk bisa meletakkan segala sesuatu pada posisinya sesuai urutan secara proporsional berdasarkan timbangan hukum syariat. Jika uang hanya cukup untuk membeli kebutuhan pokok, ia tidak akan membelanjakan uang untuk sekadar membeli barang branded hanya takut FOMO dan sebagainya.
Disisi lain himpitan ekonomi hari ini tidak terlepas karena kapitalisme yang memisahkan agama dari kehidupan terbukti telah menimbulkan kerusakan di berbagai lini, tidak terkecuali generasi. Gen Z dan milenial menjadi sasaran empuk eksploitasi kapitalisme. Gempuran pemikiran dan gaya hidup telah membuat generasi jauh dari Islam dan terseret arus hedonisme yang menciptakan tekanan hidup.
Industri kapitalisme mengarahkan pada konsumerisme dan mengeksploitasi kesenangan seperti film, konser musik, dan fesyen sehingga membuat generasi tidak lagi berpikir mendalam tentang hidupnya. Akal yang seharusnya digunakan untuk menemukan jalan keimanan, terkooptasi untuk memikirkan kesenangan duniawi semata.
Sumber daya alam yang melimpah sebagai karunia Allah Swt. dijarah oleh penjajah kapitalisme global. Akibatnya, SDA yang seharusnya bisa menciptakan lapangan kerja dan menyejahterakan rakyat justru dikuasai Asing dan para pemilik modal. Kita rakyat biasa tidak bisa menikmati hasil dari sumber daya alam. Akibatnya kita harus memenuhi sendiri kebutuhan pokok kita walau hanya sekedar memenuhi perut.
Maha benar firman Allah Taala, ”Dan barang siapa berpaling dari peringatan-Ku, maka sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit, dan Kami akan menghimpunkannya pada Hari Kiamat dalam keadaan buta.” (TQS Thaha [20]:124).
wallahualam bissawab













