Jakarta– Lebaran adalah momen penuh kehangatan, di mana keluarga besar berkumpul, berbagi cerita, dan melepas rindu. Namun, di balik kebahagiaan itu, ada satu pertanyaan klasik yang sering muncul dan membuat sebagian orang merasa tidak nyaman: “Kapan nikah?”
Bagi yang belum memiliki pasangan atau belum berencana menikah, pertanyaan ini bisa terasa mengganggu, bahkan menekan. Lalu, bagaimana cara menjawabnya dengan santai tanpa terbawa emosi? Psikolog Klinis Maria Fionna Callista membagikan beberapa tips berikut:
1. Tarik Napas Dulu, Jangan Langsung Reaktif
Sebelum menjawab, ambil napas sejenak agar tidak terpancing emosi. Menurut Fionna, refleksi singkat ini bisa membantu kita tetap tenang dan tidak terburu-buru merespons dengan defensif.
“Saya selalu menyarankan untuk tarik napas dulu sebelum menjawab, supaya tidak langsung reaktif,” jelasnya.
2. Pahami Maksud di Balik Pertanyaan
Tidak semua orang bertanya dengan niat menekan atau menyindir. Bisa jadi, mereka hanya sekadar berbasa-basi atau tidak sadar bahwa pertanyaan tersebut bisa dianggap sensitif.
“Coba cerna dulu maksud pertanyaannya. Jangan langsung merasa tersinggung, karena ada juga yang bertanya hanya untuk mencairkan suasana,” ujar Fionna.
3. Jangan Dianggap Terlalu Serius
Dalam budaya Timur, pertanyaan tentang pernikahan sering kali hanya bagian dari obrolan ringan. Jika kita terlalu serius menanggapinya, hal itu justru bisa menambah beban pikiran.
“Banyak orang bertanya bukan karena ingin mencampuri, tapi hanya sekadar basa-basi. Jangan dimasukkan ke hati, supaya kita tetap tenang,” tambahnya.
4. Balas dengan Candaan
Jika yang bertanya adalah anggota keluarga yang santai, kita bisa membalasnya dengan humor. Selain bisa mencairkan suasana, candaan juga bisa menjadi cara mengalihkan topik.
Misalnya:
“Kapan nikah?”
“Tunggu undangannya aja, ya. Tapi nggak tahu kapan dicetak!”
Atau, jika ingin lebih kreatif:
“Kapan nikah?”
“Besok! Tapi tahunnya belum ditentukan.”
5. Minta Doa dengan Bijak
Jika ingin merespons dengan lebih elegan, cukup minta doa dari orang yang bertanya. Cara ini bisa mengubah situasi menjadi lebih hangat dan menghentikan pertanyaan yang berulang.
“Daripada tersulut emosi, jawab saja dengan meminta doa. Biasanya orang yang bertanya akan merasa lebih dihargai,” kata Fionna.
6. Tegas Jika Pertanyaan Sudah Keterlaluan
Jika pertanyaan terus berulang atau sudah menyentuh batas kenyamanan, kita berhak menyatakan keberatan. Jangan ragu untuk mengatakan dengan sopan bahwa topik ini pribadi dan kita tidak ingin membahasnya.
Contohnya:
“Kapan nikah?”
“Maaf, aku kurang nyaman kalau ditanya soal ini. Yuk, bahas hal lain aja.”
Langkah ini penting untuk menjaga batasan diri dan menghindari tekanan sosial yang tidak perlu.
(d10)












