, Editorial- Yerusalem, atau dalam bahasa Arabnya Al-Quds atau “Bait al-Maqdis,” tidak secara langsung disebutkan dalam Al-Qur’an. Meskipun demikian, kota suci ini memiliki keterkaitan yang dalam dengan banyak Nabi yang disebutkan dalam kitab suci Islam.
Dalam konteks ini, Al-Qur’an menegaskan keberadaan Masjid Al-Aqsa, yang menjadi salah satu elemen penting dalam kaitannya dengan Yerusalem. Sejarah kota ini juga terkait dengan mukjizat perjalanan malam Nabi Muhammad ﷺ dari Makkah ke Yerusalem, tempat berdirinya Rumah Allah yang dihubungkan dengan banyak Nabi sebelumnya.
Pandangan Islami menekankan peran signifikan Yerusalem di akhir zaman, meskipun tidak secara eksplisit disebutkan dalam Al-Qur’an. Namun, Al-Qur’an juga mencatat bahwa umat Yahudi telah terjerat dalam keyakinan yang keliru, menganggap Yerusalem sebagai pusat keimanan yang tidak dapat tergantikan oleh apapun di dunia ini.
Hal ini tercermin dalam Surat Al-Baqarah ayat 177, di mana Al-Qur’an merespons keyakinan tersebut dengan pernyataan yang menuntut untuk meruntuhkan pandangan yang tidak sesuai dengan kebenaran.
Pentingnya Yerusalem dalam konteks keagamaan, kendati tidak secara langsung tercatat dalam Al-Qur’an, menunjukkan kompleksitas sejarah dan makna simbolis bagi umat Islam serta peran kota ini dalam peta kepercayaan dan keyakinan umat beragama.
Ketidaktercatatan langsung Yerusalem dalam Al-Qur’an memberikan ruang bagi interpretasi dan refleksi mendalam atas pesan yang ingin disampaikan oleh kitab suci tersebut terkait dengan peran dan kepercayaan pada kota suci ini.
(Della)












