https://wa.wizard.id/003a1b

Ngabuburit Sehat: Tren Lari Sore di Bulan Puasa, Tetap Bugar Jelang Berbuka

Editor: Febrianti Husain

DAILYPOST.ID Jakarta– Matahari masih bersinar terik meski waktu telah memasuki sore hari di Jakarta. Sejak memasuki minggu pertama Ramadan, kawasan Gelora Bung Karno (GBK) dan Stadion Atletik Rawamangun mulai ramai dipadati para pelari yang ngabuburit dengan berolahraga. Baik tua maupun muda, mereka datang sendiri atau bersama komunitas untuk tetap menjaga kebugaran meski sedang berpuasa.

Bagi sebagian orang, puasa bukan alasan untuk berhenti berolahraga. Justru, lari sore menjadi cara untuk melepas penat setelah seharian bekerja sekaligus menjaga performa tubuh selama Ramadan.

Konsisten Berlari di Tengah Puasa

Banyak yang beranggapan bahwa aktivitas berat seperti lari sulit dilakukan saat berpuasa. Namun, hal ini tidak berlaku bagi Randi Ocktaputra (38), seorang pekerja IT sekaligus anggota komunitas 3One Runners.

“Tetap lari, biasanya sebelum berbuka puasa. Meski puasa, aktivitas sehari-hari tetap jalan, termasuk lari sore untuk jaga kesehatan,” ujar Randi saat ditemui di GBK, Kamis (6/3/2025).

Sejak mulai mencintai lari pada tahun 2021, Randi selalu menyempatkan waktu untuk berlari setelah pulang kerja. Meski merasa sedikit lemas, ia tetap menyesuaikan jarak tempuh agar tidak terlalu memaksakan diri.

Hal serupa juga dilakukan Dyah Kaniasari (64), anggota komunitas Adewan Running Academy. Di usianya yang tidak lagi muda, Dyah justru semakin aktif berlari. Ia bahkan rutin berlatih dua kali seminggu dengan program latihan yang telah diatur oleh pelatihnya.

“Kalau enggak olahraga, tubuh rasanya sakit-sakit, enggak enak. Makanya, saya tetap lari meskipun sedang puasa,” ungkap Dyah.

Berbeda dengan Randi dan Dyah, Flora Severine Febriana memilih untuk lari hanya di akhir pekan karena kesibukan kerja.

“Kalau sore waktunya terlalu mepet, jadi atur waktu buat larinya pas weekend saja,” ujar Flora yang sudah menekuni hobi lari sejak 2019.

Menyesuaikan Diri Agar Tetap Bugar

Meski tetap berlari selama Ramadan, Randi, Dyah, dan Flora memiliki strategi masing-masing untuk menyesuaikan diri dengan kondisi tubuh.

✅ Randi memilih menyesuaikan jarak tempuh agar tidak terlalu lelah.
✅ Dyah mengurangi durasi latihan supaya tetap nyaman saat berpuasa.
✅ Flora menurunkan frekuensi lari dan hanya berolahraga di akhir pekan.

Mereka sepakat bahwa olahraga saat puasa tetap bisa dilakukan selama memahami kemampuan diri.

“Yang penting, olahraga itu untuk kesehatan, bukan untuk memenuhi ego,” kata Randi.

Dengan penyesuaian yang tepat, lari sore menjadi alternatif ngabuburit sehat yang tidak hanya menyenangkan, tetapi juga menjaga tubuh tetap bugar selama Ramadan.

(d10)

Share:   
sa shop gorontalo
Korek Api Keren Touch Screen
Exit mobile version