Oleh: Sandyakala -
Opini — Islam tak pernah kehabisan dalil untuk menjelaskan keindahannya. Namun hari ini, semakin banyak orang justru menjauh bukan karena tidak paham ayat, melainkan karena trauma melihat yang mengaku pengamalnya.
Tulisan ini berangkat dari pengalaman pribadi yang membekas: saat seorang keturunan Tionghoa menumpang buang air kecil di sebuah masjid. Usai keluar dari toilet, ia berkomentar, “Ini WC masjid sangat kotor, masih rumah kami yang bersih.” Sebagai muslim, perasaan saya campur aduk malu, minder, dan bingung. Terlebih ketika mengingat bahwa hadits “Kebersihan adalah sebagian dari iman” telah begitu dikenal luas dan sering dikaitkan dengan Islam, meskipun statusnya diperdebatkan sebagai hadits dhaif. Namun substansi hadits itu tetap sejalan dengan ajaran Islam tentang kebersihan.
Dari peristiwa sederhana itu, saya tersadar bahwa bukan hanya perkara besar yang mencoreng citra Islam, tapi juga hal-hal kecil seperti kebersihan masjid. Perlahan saya menyadari bahwa berbagai inkonsistensi antara ajaran dan perilaku umat turut memperburuk citra Islam di mata orang lain.
Ada yang bicara lantang soal kejujuran di mimbar, tapi kemudian tertangkap mengkorupsi dana zakat. Ada yang mengajar tentang kesucian dan adab, namun justru menodai murid yang mempercayainya. Ada yang heran mengapa negara mayoritas muslim justru mencatat angka tinggi dalam kasus narkoba, perjudian, dan konsumsi alkohol. Ada yang mempertanyakan mengapa umat Islam tampak tertinggal dalam hal pendidikan dan kemajuan intelektual. Dan tak sedikit yang heran, mengapa sesama muslim begitu gemar berkonflik, debat soal aliran, bid’ah, hingga penentuan awal Ramadan yang tak kunjung satu suara. Muslim, yang seharusnya menjadi cermin kejernihan ajaran Islam, justru dalam banyak kasus menjadi alasan retaknya kepercayaan terhadap agama itu sendiri.
Lebih ironis, kritik ini tidak hanya datang dari luar Islam, tapi dari dalam tubuh umat Islam sendiri, generasi muda muslim, aktivis dakwah, bahkan para mualaf yang kecewa karena menemukan realitas umat yang tidak sesuai dengan ekspektasi mereka saat mengenal Islam secara ideal. Lalu, yang menjadi pertanyaannya apa yang membuatnya salah.
Ajarannya Sempurna, tapi Sistemnya Tak Diterapkan
Pertanyaan ini membawa kita pada akar yang lebih dalam dari masalah: realitas umat Islam hari ini mencerminkan keterputusan antara ajaran Islam yang paripurna dengan sistem hidup yang mereka jalani. Islam yang seharusnya menjadi panduan menyeluruh bagi kehidupan, kini direduksi hanya sebagai urusan spiritual dan ritual personal.
Ajaran yang sejatinya bersifat menyeluruh, mengatur mulai dari bersuci hingga bernegara telah dipisahkan dari aspek-aspek publik seperti politik, hukum, ekonomi, pendidikan, bahkan budaya. Inilah buah dari sistem sekuler yang membingkai kehidupan masyarakat muslim hari ini.
Akibatnya, meski seorang muslim menghafal hadits tentang kebersihan, ayat tentang larangan zina, larangan berlaku curang, sistem pendidikan dan sosial yang membentuknya sehari-hari justru tak mengajarkan pentingnya menerapkan semua syariat islam bagian dari iman dan suatu saat akan dipertanggung jawabkan. Ia mungkin rajin salat, tapi bekerja dalam sistem ekonomi ribawi. Ia mungkin tampil islami, tapi menormalisasi korupsi karena sistem hukumnya tak berlandaskan syariat. Ia mungkin berada di dinding pesantren tapi sholawat barengan dengan joget. Islam diajarkan di masjid, tapi tak berdaya menembus ruang parlemen, layar televisi, kurikulum sekolah, hingga kebijakan negara.
Semua ini bukan semata-mata kesalahan individu, tapi cerminan dari sistem kehidupan yang menceraikan agama dari kehidupan. Maka jangan heran jika generasi muda, mualaf, bahkan aktivis dakwah sendiri merasa kecewa. Mereka jatuh cinta pada Islam dalam idealitasnya, tapi yang mereka temui di lapangan hanyalah serpihan-serpihan ajaran yang tercerai dari ruh dan sistemnya.
Inilah mengapa kita perlu jujur mengakui: yang salah bukan Islamnya, tapi bagaimana Islam itu diposisikan, dipinggirkan dari pusat kehidupan, dijadikan simbol tanpa sistem, dipuja tapi tak diterapkan secara utuh. Selama kita masih membiarkan Islam hanya hadir di sajadah, tapi absen di meja kebijakan, kontradiksi ini akan terus menganga, menjauhkan umat dari kejayaan dan menjatuhkan citra Islam itu sendiri. Padahal, Islam bukan sekadar agama ritual, melainkan ideologi yang punya sistem hidup lengkap dari urusan individu hingga tata kelola negara. Tanpa institusi yang menjalankan seluruh ajaran ini secara menyeluruh, umat Islam terpecah-pecah dalam perjuangan yang tidak sinergis. Masing-masing sibuk membela kelompok, ormas, mazhab, bahkan tokohnya sendiri, namun lupa bahwa musuh bersama mereka adalah sistem kufur yang menyingkirkan Islam dari panggung kekuasaan.
Namun, ketika tidak ada institusi pelindung umat, suara kaum Muslimin hanya bergema dalam batas mimbar, tak mampu menekan ketidakadilan atau menghapus penderitaan. Ketika tidak ada kepemimpinan global yang memayungi umat, umat Islam Palestina, Uighur, dan Rohingya tetap teraniaya, karena dunia Islam tercerai-berai oleh batas nasionalisme buatan penjajah.
Inilah akibat dari diterapkannya sistem kapitalisme-sekular: umat yang besar jumlahnya tapi lemah pengaruhnya, kaya sumber daya tapi miskin keberdayaan, punya ajaran yang sempurna tapi tidak diterapkan secara total. Maka, yang dibutuhkan bukan sekadar seruan moral atau pembenahan individu, tapi perubahan sistemik yang menjadikan Islam sebagai dasar dalam mengatur seluruh aspek kehidupan sebuah institusi politik Islam yang mampu menjadi penjaga, pelindung, dan pemersatu umat.
Islam Hidup dan Menghidupkan
1. Kepemimpinan Ideologis yang Menyeru pada Penerapan Islam Secara Menyeluruh
Kepemimpinan dalam Islam bukan sekadar simbol atau pengelola administratif, melainkan figur visioner yang mengarahkan umat menuju kehidupan yang selaras dengan wahyu. Kepemimpinan yang ideologis bukan hanya memperbaiki moral individu, tetapi juga mendorong perubahan sistemik yang mengembalikan Islam sebagai dasar utama dalam mengatur seluruh aspek kehidupan dari hukum hingga ekonomi, dari sosial hingga kebijakan publik.
Pemimpin seperti ini tidak sekadar menjadi penggerak opini, melainkan pemandu arah perjuangan. Ia menyerukan penerapan Islam secara utuh (kaffah) tanpa kompromi dengan sistem sekuler. Dalam visinya, kekuasaan bukan tujuan, tapi sarana untuk menghadirkan kembali kehidupan Islam yang nyata dan membumi.
2. Institusi Kepemimpinan Umat yang Menyatukan, Mendidik, dan Melindungi
Diperlukan satu institusi politik umat sebuah kepemimpinan kolektif global yang menyatukan suara kaum muslimin, menerapkan hukum Islam secara menyeluruh, dan membina umat dengan pemahaman yang lurus dan menyeluruh. Institusi ini bukan sekadar pemerintahan, tetapi struktur kekuasaan berbasis syariat yang menjadi perisai umat, penjaga kemurnian ajaran, dan pelaksana keadilan yang sejati. Melalui institusi ini, batas-batas buatan penjajah yang telah memecah belah umat akan ditinggalkan, digantikan oleh ikatan persatuan atas dasar akidah. Umat tidak lagi menjadi buih yang tercerai, tapi satu tubuh yang kuat dan berdaya. Institusi ini akan menjadi penanggung jawab utama dalam membawa risalah Islam ke dunia bukan dengan penjajahan, tapi dengan pelayanan dan solusi bagi kemanusiaan.
3. Gerakan Dakwah Ideologis yang Menyampaikan Islam secara Menyeluruh
Perubahan hakiki berawal dari perubahan pemikiran. Karenanya, dibutuhkan gerakan dakwah yang bersifat ideologis, gerakan yang tidak hanya menyampaikan Islam sebagai tuntunan pribadi, tetapi sebagai sistem kehidupan yang utuh. Gerakan ini menanamkan kesadaran politik umat, membentuk opini publik yang islami, dan membina masyarakat agar memahami pentingnya menjadikan Islam sebagai sumber hukum dan nilai dalam setiap aspek kehidupan.
Gerakan ini bekerja membangun kesadaran kolektif di semua lini: intelektual, mahasiswa, tokoh masyarakat, hingga generasi muda, agar umat siap menyambut lahirnya kembali peradaban Islam yang memimpin dunia dengan keadilan dan rahmat.
Dan ketika ketiga elemen ini kepemimpinan ideologis, institusi politik umat yang menerapkan syariat, serta gerakan dakwah yang konsisten bersinergi, maka Islam tak lagi hadir sebatas simbol. Umat Islam tidak hanya dikenal sebagai “pemeluk agama”, tetapi tampil sebagai wajah dari nilai-nilai Islam itu sendiri. Saat itulah dunia akan menyaksikan bagaimana Islam bukan sekadar dogma atau wacana akademik, tapi peradaban hidup yang memberi solusi konkret bagi berbagai persoalan manusia. Islam tidak hanya dibaca di buku, tapi dirasakan manfaatnya di kehidupan nyata. Dunia akan kembali mengenal Islam bukan dari propaganda media, tapi dari teladan umatnya yang hidup dalam sistem yang benar-benar Islami.












