Tren Freestyle Merenggut Nyawa, Bukti Gagalnya Perlindungan Anak

Dailypost.id
ilustrasi | foto: Colourbox.de

Penulis: Sintia Demolingo

Fenomena anak-anak menirukan gerakan freestyle ekstrem tengah ramai di media sosial dan memicu kekhawatiran publik. Dalam sejumlah video yang beredar, siswa sekolah dasar terlihat melakukan gerakan tak lazim, bahkan dilakukan saat berada di lingkungan sekolah hingga momen ibadah.

Salah satu tren yang viral adalah aksi handstand saat sujud yang terinspirasi dari emot game mobile. Aksi tersebut dinilai sangat berbahaya karena berisiko tinggi menyebabkan cedera serius seperti patah tulang. (TRIBUNPONTIANAK.CO.ID)

Korban pertama berinisial F, seorang siswa taman kanak-kanak (TK), meninggal dunia setelah mengalami cedera fatal pada tulang leher. Korban diduga meniru aksi salto atau freestyle yang sering muncul di media sosial. Peristiwa serupa juga menimpa Hamad Izan Wadi (8), siswa kelas 1 SDN 3 Lenek, Lombok Timur. Bocah tersebut meninggal dunia setelah mengalami patah leher usai melakukan aksi freestyle yang diduga terinspirasi dari game online Garena Free Fire. (Radarsampit.jawapos.com)

Freestyle jadi Alarm Keras

Peristiwa ini menjadi peringatan keras tentang rapuhnya perlindungan anak di tengah arus digital yang sulit dikendalikan.

Kasus tersebut membuat banyak pihak resah, mulai dari polisi, sekolah, dinas pendidikan, psikolog, hingga KPAI. Mereka semua mengingatkan orang tua untuk lebih ketat mengawasi gadget, media sosial, dan tontonan anak.

Himbauan ini menunjukkan bahwa masalahnya bukan sekadar kelalaian biasa. Akarnya ada pada pola asuh, lingkungan sosial, dan derasnya konten digital yang minim pengawasan. Anak-anak sekarang sudah sangat akrab dengan dunia digital sejak kecil, bahkan banyak yang menghabiskan waktu berjam-jam di depan layar tanpa pendampingan.

Media sosial dan game online sudah beralih fungsi menjadi “pendidik kedua” yang membentuk cara berpikir dan perilaku anak. Sayangnya, sebagian besar konten yang beredar berisi hal sensasional, kekerasan, tantangan berbahaya, dan budaya bebas tanpa batas demi mengejar keuntungan platform.

Situasi ini makin parah karena rendahnya literasi digital orang tua. Banyak yang menjadikan gadget sebagai alat penenang anak tanpa sadar bahayanya. Ditambah kesibukan dan tekanan ekonomi, interaksi keluarga jadi berkurang. Akibatnya, anak lebih dekat dengan algoritma media sosial daripada bimbingan orang tua.

Padahal anak belum mampu berpikir matang. Mereka mudah meniru hal menarik tanpa memahami risikonya. Ketika aksi ekstrem terus disajikan sebagai hiburan, anak bisa menganggapnya wajar dan aman untuk ditiru.

Selain keluarga, lingkungan sosial juga berubah. Individualisme membuat kontrol sosial melemah. Anak sering bermain tanpa pengawasan, sementara masyarakat cenderung cuek. Hasilnya, anak lebih mudah terpapar perilaku menyimpang dan tren berbahaya.

Di sisi negara, langkah perlindungan terhadap anak dari konten berbahaya belum efektif. Regulasi sudah ada, tapi konten destruktif tetap mudah diakses. Platform digital justru diuntungkan dari interaksi tinggi, termasuk dari konten berisiko. Dalam sistem yang berbasis keuntungan, keselamatan generasi sering dikalahkan oleh kepentingan industri.

Akhirnya, anak lebih diarahkan menjadi pengguna teknologi dan konsumen hiburan, bukan dibentuk kepribadian dan akhlaknya. Kerusakan generasi tidak hanya terlihat dari nilai akademik yang turun, tapi juga dari hilangnya rasa aman, lemahnya kontrol diri, dan rusaknya pola pikir sejak kecil.

Islam Solusi Menyeluruh untuk Perlindungan Anak

Dalam Islam, anak yang belum baligh belum dibebani hukum karena pemikirannya belum matang. Karena itu, mereka butuh dijaga, diawasi, dan dididik dengan benar oleh orang dewasa. Nabi Muhammad ﷺ mengingatkan bahwa setiap pemimpin akan dimintai pertanggungjawaban atas orang yang dipimpinnya, termasuk orang tua terhadap anaknya.

Tapi tanggung jawab mendidik anak bukan hanya ada di pundak keluarga. Islam membangun sistem perlindungan generasi yang utuh melalui kerja sama tiga pilar: keluarga, masyarakat, dan negara.

Pertama, keluarga sebagai sekolah pertama. Orang tua wajib menanamkan akidah, akhlak, dan kebiasaan baik sejak kecil. Anak tidak hanya diberi makan dan pakaian, tapi juga dibimbing cara berpikir dan bersikap. Orang tua harus hadir sebagai guru, pengawas, sekaligus teladan.

Kedua, masyarakat yang peduli. Islam menumbuhkan budaya saling mengingatkan pada kebaikan dan mencegah kemungkaran. Lingkungan sosial tidak boleh cuek dan individualis. Dengan begitu, anak tumbuh di lingkungan yang mendukung kebaikan dan jauh dari hal-hal merusak.

Ketiga, negara sebagai pelindung. Dalam sistem Islam, negara bertugas mengatur informasi publik agar tidak merusak anak dan masyarakat. Konten yang membahayakan fisik, akhlak, dan cara berpikir generasi harus dibatasi tegas. Sebaliknya, negara harus mendorong media dan hiburan yang mendidik dan membangun karakter.

Dalam Islam, media tidak dibiarkan bebas hanya demi keuntungan bisnis. Kebebasan tidak jadi patokan utama, tapi dibatasi oleh hukum syariat demi kemaslahatan bersama. Jadi ruang digital tidak jadi tempat suburnya konten merusak yang mengancam masa depan generasi.

Sistem pendidikan Islam juga diarahkan untuk membentuk kepribadian Islam yang utuh. Anak dididik agar punya pola pikir lurus, bisa membedakan mana yang baik dan buruk, serta sadar untuk menjaga diri dari hal-hal berbahaya. Pendidikan tidak hanya mengejar nilai akademik, tapi juga membangun akhlak dan rasa tanggung jawab.

Kasus dua anak yang meninggal karena meniru tren freestyle harus jadi bahan evaluasi kita bersama. Ini bukan sekadar soal kurangnya pengawasan orang tua, tapi tanda rusaknya sistem pendidikan dan perlindungan anak di era digital.

Selama sistem yang berjalan masih menempatkan kebebasan dan keuntungan materi di atas keselamatan generasi, kejadian serupa akan terus terjadi. Karena itu, dibutuhkan perubahan mendasar dan menyeluruh. Keluarga harus kembali jadi pendidik utama, masyarakat harus peduli pada nasib generasi, dan negara wajib hadir melindungi rakyatnya.

Hanya dengan sistem yang dibangun di atas nilai dan tanggung jawab yang benar, generasi bisa tumbuh di lingkungan yang aman, sehat, dan bermartabat. Wallahu a’lam bishshawwab.

Share:   
https://wa.wizard.id/003a1b sa shop gorontalo
Korek Api Keren Touch Screen
Exit mobile version