Dailypost Gorontalo – Musim kemarau ekstrem yang melanda Provinsi Gorontalo kian meluas dan mulai mengancam stabilitas ekonomi masyarakat. Berdasarkan data Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi Gorontalo per 30 Agustus 2026, dampak kekeringan telah meluas ke 4 kabupaten, mencakup 27 kecamatan dan 72 desa, serta berimbas langsung pada 7.542 kepala keluarga atau sekitar 23.205 jiwa.
Merespons situasi kritis ini, Penjabat Gubernur Gorontalo Gusnar Ismail bersama Wakil Gubernur Idah Syahidah Rusli Habibie bergerak cepat mengambil langkah taktis di lapangan.
Pemerintah Provinsi Gorontalo kini tengah menggodok penetapan status Tanggap Darurat Kekeringan setelah menggelar Rapat Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda) bersama jajaran pemerintah kabupaten dan kota.
Gusnar menegaskan bahwa dalam sepekan terakhir dirinya terus memantau kondisi lapangan untuk memastikan tiga program utama berjalan optimal, yakni penyerahan bantuan UMKM, pelaksanaan pasar murah bersubsidi, dan pembagian air bersih kepada warga yang mengalami krisis air.
Langkah pertama yang menjadi tumpuan warga adalah program pasar murah bersubsidi untuk mengantisipasi lonjakan harga pangan, Kemarau yang melanda dikhawatirkan dapat menurunkan daya beli masyarakat secara drastis.
Sebagai bentuk intervensi, Pemprov Gorontalo menyalurkan 2.000 paket bahan pokok di Desa Luwoo, Kecamatan Telaga Jaya, Kabupaten Gorontalo pada Rabu (2/9/2026).
Warga cukup menebus paket tersebut seharga Rp95.000, sangat murah dibanding harga normal pasaran yang mencapai Rp270.000.
Dalam paket tersebut, beras 5 kg dapat ditebus seharga Rp25.000 dari harga pasar yang mencapai Rp87.500 hingga Rp97.000. Selain itu, cabai rawit atau rica seberat seperempat kilogram dihargai Rp10.000 dari harga normal Rp130.000 per kilogram, ayam broiler dijual Rp20.000 per ekor, serta komoditas lain seperti minyak goreng, gula, bawang merah, dan telur masing-masing hanya ditebus Rp10.000.
Langkah kedua berfokus pada ketahanan ekonomi sektor bawah melalui injeksi modal bahan baku bagi pelaku Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM).
Upaya ini diambil agar pedagang makanan, warung kecil, dan penjual gorengan tidak gulung tikar akibat tekanan ekonomi selama kemarau.
Data Diskumperindag mencatat sudah ada 972 pelaku UMKM yang diintervensi modal barang di tiga daerah, meliputi 397 orang di Kabupaten Gorontalo, 395 orang di Kota Gorontalo, dan 180 orang di Bone Bolango, sementara wilayah Gorontalo Utara, Boalemo, dan Pohuwato akan menyusul pekan depan, Bantuan ini diberikan spesifik sesuai jenis usaha.
Pelaku usaha kios menerima mi instan, minyak goreng, gula, dan susu kental manis. Pembuat kue mendapatkan terigu, gula, mentega, dan susu, sementara penjual gorengan disokong minyak goreng serta tepung beras.
Gusnar mengingatkan agar bantuan ini dijadikan modal produksi yang dikembangkan secara profesional untuk meningkatkan pendapatan keluarga, bukan dihabiskan untuk konsumsi pribadi.
Langkah ketiga yang tidak kalah krusial adalah distribusi jutaan liter air bersih ke zona merah kekeringan.
Pada Selasa kemarin, Gubernur Gusnar turun langsung membagikan 11.700 liter air bersih menggunakan mobil tangki BPBD di Desa Modelomo, Kecamatan Kabila Bone, Kabupaten Bone Bolango.
Secara kumulatif hingga 30 Agustus 2026, total air bersih yang telah disalurkan ke rumah warga mencapai 1.093.000 liter.
Pasokan air bersih ini merupakan hasil kolaborasi lintas instansi, di mana Balai Wilayah Sungai (BWS) Sulawesi II mendistribusikan jumlah terbanyak yaitu 462 ribu liter, disusul BPBD Provinsi Gorontalo sebanyak 284 ribu liter, dan BPBD Bone Bolango sebesar 123.010 liter. Sisa pasokan lainnya disalurkan secara sinergis oleh Dinas Sosial Provinsi Gorontalo, Polri, BPBPK, PMI, serta jajaran BPBD kabupaten lainnya. Sinergi tiga langkah cepat ini diharapkan dapat memastikan kebutuhan dasar masyarakat Gorontalo tetap terpenuhi selama masa kemarau panjang.













