Yang Dipilih untuk Melayani, Malah Asyik Mengkhianati

Dailypost.id
Oleh: Sandyakala

DAILYPOST.ID Opini — Setiap pemilihan umum, rakyat kembali disuguhi janji manis para calon wakilnya: bekerja untuk kepentingan rakyat, menjadi penyambung lidah mereka, dan setia mengawal aspirasi hingga terwujud dalam kebijakan. Namun, kenyataan yang kita saksikan hari ini justru jauh dari itu. Para aleg yang seharusnya menjadi pelayan rakyat, malah sibuk dengan urusan pribadi, bahkan ada yang terang-terangan mengkhianati amanah yang telah dipercayakan.

Fakta yang Mengoyak Rasa Percaya
Sebulan terkahir ini publik Gorontalo diguncang dengan beragam fakta memalukan yang melibatkan oknum anggota legislatif. Pertama, sebuah video viral memperlihatkan DPRD Provinsi Gorontalo seolah-olah ingin merampok uang rakyat, sebuah ungkapan yang tidak hanya memantik kemarahan, tetapi juga menegaskan bahwa lembaga wakil rakyat itu semakin kehilangan marwahnya.

Di tingkat nasional? Publik tentu masih mengingat berbagai kasus sebelumnya yang mengendap di ingatan: dari skandal korupsi, permainan kuota, hingga penyalahgunaan jabatan. Semua itu semakin menegaskan bahwa problem kepemimpinan di negeri ini bukanlah kasus yang berdiri sendiri, melainkan fenomena yang terus berulang.

Mengapa Semua Itu Bisa Terjadi?
Pertanyaan besar yang layak diajukan adalah: mengapa fenomena seperti ini terus berulang? Mengapa orang-orang yang dipilih untuk melayani malah sibuk mengkhianati?

Jawabannya dapat ditelusuri dari akar ideologi yang menjadi fondasi bernegara hari ini: sekularisme. Sistem sekuler menanamkan benih yang memisahkan agama dari kehidupan publik.

Akibatnya, lahir generasi pemimpin yang tidak menjadikan hukum Allah sebagai standar. Dari sinilah muncul berbagai penyakit: Pengabaian hukum Allah. Peraturan dibuat atas dasar kepentingan kelompok, lobi politik, dan keuntungan materi, bukan pada kebenaran syariat.

Umat Islam tercerai-berai. Alih-alih dipersatukan dengan ikatan akidah, masyarakat dipecah-belah dengan kepentingan politik praktis dan kepartaian.

Penguasa tidak kompeten. Jabatan diberikan bukan karena kualitas kepemimpinan, tetapi karena modal finansial, kedekatan oligarki, atau kepentingan pragmatis.

Dalam kondisi ini, wajar jika para pemimpin tidak menyadari posisinya sebagai ra’in (penggembala) yang bertanggung jawab penuh atas rakyatnya. Sementara rakyat pun tidak paham bahwa penguasa sejatinya adalah khodim (pelayan), bukan penguasa yang boleh berbuat sesuka hati.

Profil Pemimpin dalam Islam
Islam telah menetapkan kriteria yang jelas tentang sosok pemimpin. Pertama, ia harus memiliki kepribadian Islam yang kuat, sehingga seluruh perilaku dan kebijakannya berpijak pada syariat. Kedua, ia mesti memiliki sifat takwa, sadar bahwa setiap kebijakan yang ia ambil akan dimintai pertanggungjawaban di hadapan Allah. Ketiga, ia harus benar-benar mencintai rakyatnya. Cinta yang dimaksud bukanlah sekadar retorika kampanye, bukan pula tangisan palsu di panggung politik, melainkan cinta yang diwujudkan dengan pengorbanan, pelayanan, dan keadilan.

Mari kita bandingkan dengan fenomena hari ini. Tidak sedikit pemimpin yang mengaku “cinta rakyat” hanya ketika menjelang pemilu, lengkap dengan air mata di depan kamera. Misalnya, video viral Wahyu Moridu yang terisak saat kampanye. Namun, setelah terpilih, kebijakan yang lahir justru lebih banyak menyakiti rakyat ketimbang menyejahterakan. Inilah bukti nyata bahwa tanpa fondasi Islam, cinta rakyat hanyalah slogan kosong

Lalu Apa dan Bagaimana?

Dari paparan fakta dan analisis ini, satu kesimpulan jelas: pemimpin yang memenuhi profil sebagaimana ditetapkan Islam hanya bisa lahir dari masyarakat dan negara yang Islami. Permasalahan terbesar kita hari ini adalah absennya sistem Islam dalam kehidupan bernegara. Kita hidup di bawah naungan sistem sekuler, di mana agama dipinggirkan, dan kepentingan politik pragmatis ditempatkan di atas segalanya.

Karena itu, tugas besar umat Islam bukan hanya memperbaiki individu, tetapi memperjuangkan agar Islam kembali tegak sebagai sistem hidup. Inilah yang sedang dan terus diperjuangkan oleh berbagai lembaga dakwah hari ini. Mereka menyerukan agar Islam dipahami bukan hanya sebatas ritual ibadah—sholat, zakat, puasa, atau haji—tetapi sebagai aturan hidup yang menyeluruh.

Jika Islam hanya dimaknai sebatas ibadah ritual, maka tidak akan butuh waktu lama bagi Rasulullah SAW untuk menyelesaikan dakwahnya. Faktanya, beliau menghabiskan 23 tahun hidupnya demi menegakkan Islam sebagai sistem kehidupan, sehingga Islam benar-benar menjadi rahmatan lil alamin.

Penutup

Hari ini kita menyaksikan kenyataan pahit: pemimpin yang dipilih untuk melayani justru sibuk mengkhianati. Fakta-fakta di Gorontalo hanyalah sebagian kecil dari gambaran kerusakan kepemimpinan di negeri ini. Akar persoalan bukan sekadar moral individu, melainkan sistem sekuler yang melahirkan pemimpin tanpa arah.

Solusinya jelas: kembali pada Islam sebagai landasan kehidupan. Dengan Islam, lahir pemimpin yang amanah, bertakwa, dan benar-benar menjadi pelayan rakyat. Dengan Islam, rakyat pun sadar bahwa mereka adalah umat yang satu, terikat oleh akidah, bukan oleh kepentingan pragmatis sesaat.

Maka, perjuangan menegakkan Islam bukanlah utopia, melainkan kebutuhan mendesak. Inilah jalan satu-satunya agar pengkhianatan digantikan dengan pelayanan, dan janji politik kosong diganti dengan keadilan hakiki.

Share:   
https://wa.wizard.id/003a1b sa shop gorontalo
Korek Api Keren Touch Screen
Exit mobile version