Bonus demografi, saatnya Mengaktivasi peran pemuda

Dailypost.id

DAILYPOST.ID Opini– Komposisi penduduk adalah wujud dari kehidupan sosial dan demografi suatu bangsa. Badan Pusat Statistik (BPS) merilis data statistik yang mengungkapkan komposisi penduduk Indonesia berdasarkan kelompok umur. Dalam data yang dirilis tersebut, Generasi Z yang lahir antara tahun 1997 hingga 2012 mendominasi dengan jumlah sekitar 74,93 juta jiwa, atau 27,94% populasi. Generasi ini masih berada dalam usia muda hingga remaja awal. Dominasi ini memberikan harapan akan potensi kemajuan dan perubahan di masa depan.

Begitupun di Provinsi Gorontalo, Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Gorontalo merilis hasil sensus penduduk 2020 sebanyak 1.171.681 jiwa. Hasil sensus menunjukkan separuh penduduk di Gorontalo saat ini merupakan kaum milenial dan generasi Z. Dengan persentase yang ada itu, maka akumulasi penduduk Gorontalo yang masuk golongan kaum milenial dan generasi Z, mencapai sekitar 56 persen. Atau diperkirakan pada kisaran 650 ribu jiwa. Kepala BPS Provinsi Gorontalo, Herum Fajarwati, menjelaskan hasil sensus penduduk menunjukkan Provinsi Gorontalo masih berada dalam bonus demografi. (Sumber : gopost.id)

Tetapi bagaimana dengan potret generasi Z yang katanya mendominasi penduduk Indonesia hari ini? Realitas mengejutkan terungkap melalui Indonesia National Adolescent Mental Health Survey (I-NAMHS), survei kesehatan mental nasional pertama untuk remaja 10-17 tahun di Indonesia. Hasil survei menunjukkan satu dari tiga remaja Indonesia menghadapi masalah kesehatan mental, setara dengan 15,5 juta remaja.

Lebih mengkhawatirkan, satu dari dua puluh remaja (2,45 juta) terdiagnosis gangguan mental, sesuai dengan panduan Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders Edisi Kelima (DSM-5) yang menjadi panduan penegakan diagnosis gangguan mental di Indonesia. Dikutip dari laman resmi UGM, Rabu (16/10/2024). (Sumber : timesindonesia.co.id)

Data Kemenko PMK menyebut Gorontalo memiliki persentase depresi tertinggi dari rata-rata nasional. Jika depresi nasional 6,1 persen maka Gorontalo diangka 10,3 persen. Skizofrenia (gangguan mental) di Gorontalo di angka 6,6 persen dari rata-rata nasional 6,7 persen. (Sumber : gorontaloprov.go.id)

Selain masalah mental, remaja juga mengalami masalah lainnya. Data BPS menunjukkan bahwa 9,9 juta penduduk usia 15-25 tahun sedang tidak mengikuti pendidikan, tidak memiliki pekerjaan, dan tidak mengikuti pelatihan alias sedang menganggur. Dari jumlah itu, 5,73 juta orang ialah perempuan dan 4,17 juta laki-laki. Mereka termasuk dalam gen Z atau lahir pada periode 1997-2012. Saat ini sedang marak pemberitaan tentang besarnya gen Z yang menganggur. (Sumber : mediaindonesia.com)

Ditengah banyaknya problem remaja seperti masalah mental, putus sekolah, tidak memiliki pekerjaan. Gen Z hari ini juga terjebak dalam gaya hidup rusak, seperti FOMO (Fear of Missing Out), game online, judi online, konsumerisme dan hedonisme.

Mentalitas yang dimiliki remaja hari ini kian rapuh. Mereka tidak memiliki orientasi hidup yang jelas, serta tidak memiliki standar baik buruk. Sebab mereka hidup dengan lingkungan yang memberikan ruang kebebasan mengambil keputusan sendiri tanpa memiliki standar yang jelas. Walhasil remaja kian bebas dan begitu leluasa mengikuti hawa nafsu dan tren lainnya yang justru menejrumuskan mereka pada kehidupan yang suram.

Problematik sistemis generasi tidak boleh kita biarkan terus terjadi. Rapuh dan rusaknya kondisi mereka secara umum adalah dampak penerapan sistem sekuler demokrasi kapitalisme. Kolonialisme Barat di negeri-negeri muslim turut meninggalkan jejak kerusakan pemikiran pada kaum muslim. Hampir seluruh wilayah dunia Islam disekularisasi sehingga berjalan mengikuti UU sekuler Barat karena tentu saja Barat sangat menghendaki agar kaum muslim jauh dari aturan Islam.

Fase pemuda adalah fase kekuatan di antara dua kelemahan. Dua kelemahan yang dimaksud adalah kelemahan di waktu kanak-kanak dan kelemahan di waktu sudah tua dan beruban. Allah Swt. Berfirman

Allah-lah yang menciptakan kamu dari keadaan lemah, kemudian Dia menjadikan (kamu) sesudah keadaan lemah itu menjadi kuat, kemudian Dia menjadikan (kamu) sesudah kuat itu lemah (kembali) dan beruban. Dia menciptakan apa yang dikehendaki-Nya dan Dialah Yang Maha Mengetahui lagi Maha Kuasa.” (QS ar-Rum: 54)

Generasi muda adalah kunci kebangkitan. Potensi ini harus diaktivasi agar tidak buyar di tengah jalan. Pemuda sebagai penggerak perubahan tidak bisa diisi oleh generasi rapuh, melainkan harus generasi tangguh. Untuk itu, Islam akan memberikan mereka arah dan tujuan yang jelas. Dengan Islam, generasi muda akan ditempa melalui proses pembinaan mengenai akidah Islam, serta gerakan dakwah yang memperjuangkan cita-cita untuk melanjutkan kembali kehidupan Islam dengan meneladan metode dakwah Rasulullah SAW.

Berpijak dari seluruh rangkaian aktivitas dakwah Rasulullah saw. tersebut, penting bagi generasi muda untuk memahami tujuan dan visi misi hidup hakiki yang berlandaskan akidah Islam serta menapaki jalan kebangkitan dan perubahan pemikiran, termasuk konsekuensi amar makruf nahi mungkar sebagai sebuah kewajiban (fardu ain). Selanjutnya, mereka harus bergabung dengan sebuah jemaah dakwah yang meneladan metode dakwah Rasulullah saw. serta mencita-citakan tegaknya kembali kehidupan Islam.

Jemaah dakwah itulah yang berperan untuk mengaktivasi peran para Gen Z melalui pembinaan dengan tsaqafah Islam ideologis dengan proses talqiyan fikriyan (proses menjadikan ilmu menjadi pemahaman dengan proses berpikir).

Proses pembinaan ini berjalan intensif dan tidak instan sehingga benar-benar akan menghasilkan para pengemban dakwah yang siap menghadapi segala onak duri yang mengadang dakwah. Kematangan tsaqafah serta perpaduan pola pikir dan pola sikap yang mereka peroleh selama pembinaan menjadi bekal untuk menjadi pengemban dakwah yang tangguh.

Wallahu ‘alam bish-shawab

(Penulis: Cika Kintan Maharani)

Share:   
https://wa.wizard.id/003a1b sa shop gorontalo
Korek Api Keren Touch Screen
Exit mobile version