https://wa.wizard.id/003a1b

Pejabat AS, Mesir, Qatar, dan Israel Berunding di Paris Bahas Gencatan Senjata di Jalur Gaza

Dailypost.id

DAILYPOST.ID Paris– Pada Senin (29/01/2024), para pejabat tinggi dari Amerika Serikat (AS), Mesir, Qatar, dan Israel bertemu di Paris, Prancis, dalam upaya untuk mencapai gencatan senjata di Jalur Gaza. Pembicaraan berlangsung di tengah ketegangan yang berkepanjangan antara Israel dan Hamas. Meskipun diumumkan sebagai pertemuan yang konstruktif, terdapat kesenjangan signifikan yang masih perlu diatasi.

“Masih ada kesenjangan signifikan yang akan terus dibahas pekan ini dalam pertemuan tambahan,” ungkap Kantor Perdana Menteri (PM) Israel. Pembicaraan fokus pada kerangka kerja perundingan yang disodorkan oleh Direktur CIA AS, William Burns, yang mengusulkan jeda dua bulan dalam konflik antara Hamas dan Israel.

Menurut laporan Associated Press sebelum pertemuan di Paris, AS mengusulkan gencatan senjata sementara selama 30 hari untuk memfasilitasi pembebasan sandera perempuan, lanjut usia, dan yang terluka. Langkah ini akan diikuti oleh jeda 30 hari berikutnya, di mana tentara Israel dan sandera laki-laki akan dibebaskan, sambil memperbolehkan peningkatan aliran bantuan ke Jalur Gaza.

Diharapkan bahwa penghentian pertempuran ini dapat memberikan kesempatan untuk merundingkan gencatan senjata yang lebih tahan lama dan berjangka panjang. Namun, laporan dari beberapa pekan pembicaraan di Doha menyebutkan bahwa Hamas telah menolak kesepakatan yang tidak mencakup gencatan senjata permanen.

Sementara itu, Israel telah menawarkan jeda dua bulan dalam pertempuran dengan imbalan pembebasan sandera, namun tanpa jaminan berakhirnya konflik secara permanen. Sebuah sumber dalam diskusi menyatakan bahwa usulan saat ini adalah menggunakan sistem gencatan senjata bertahap dan pembebasan sandera untuk membangun kepercayaan. Setiap tahap yang berhasil diharapkan dapat membawa pada akhir yang jelas dan permanen.

Meskipun pembicaraan berlangsung di Paris, perwakilan Hamas tidak dapat hadir, dikarenakan lokasi pertemuan. Namun, kemajuan apapun yang dicapai di Paris memerlukan dukungan politik dari sayap politik Hamas di Doha, termasuk pemimpin militernya, Yahya Sinwar, untuk menyetujui kesepakatan.

Pejabat Hamas telah menuntut gencatan senjata penuh dan pertukaran sandera dengan ribuan tahanan Palestina yang ditahan di penjara Israel. Proses diplomasi ini menunjukkan bahwa meski terdapat kesenjangan, para pihak terus berupaya untuk mencapai kesepakatan yang dapat mengakhiri ketegangan di Jalur Gaza.

(*)

Share:   
sa shop gorontalo
Korek Api Keren Touch Screen
Exit mobile version