Oleh: Benz Jono Hartono
Praktisi Media Massa
Wadir CAJ PWI Pusat
ED HIAWATHA Institut
Opini — Dalam dunia politik, seorang pemimpin tidak pernah berdiri sendirian. Di sekelilingnya selalu ada lingkaran kekuasaan yang terdiri dari para pembisik, penasihat, oligarki ekonomi, elite partai, kelompok kepentingan, birokrasi, hingga para pemburu proyek yang hidup dari kedekatan dengan kekuasaan. Sejarah mencatat bahwa tidak sedikit pemimpin yang pada awalnya datang dengan semangat perubahan, tetapi kemudian tersandera oleh lingkungan yang mengelilinginya.
Fenomena inilah yang sering disebut sebagai “lingkaran setan kekuasaan.” Sebuah kondisi ketika seorang pemimpin semakin sulit membedakan mana kritik yang tulus dan mana pujian yang menyesatkan. Di dalam lingkaran tersebut, informasi yang sampai kepada pemimpin sering kali telah disaring sesuai kepentingan kelompok tertentu. Akibatnya, keputusan yang lahir bukan lagi sepenuhnya untuk rakyat, melainkan hasil kompromi dari berbagai tekanan kekuatan yang ada di belakang layar.
Hari ini, banyak pengamat melihat bahwa Presiden Prabowo Subianto sedang menghadapi tantangan yang tidak ringan. Di satu sisi, ia tampil dengan narasi keberlanjutan pembangunan, stabilitas nasional, dan penguatan kedaulatan negara. Namun di sisi lain, muncul pertanyaan besar dari publik, apakah Prabowo benar-benar memegang kendali penuh atas arah pemerintahannya, ataukah ia sedang berada dalam pusaran kepentingan yang saling berebut pengaruh di sekitarnya?
Lingkaran pertama yang mengelilingi kekuasaan adalah oligarki ekonomi. Mereka adalah kelompok yang memiliki modal besar, akses luas terhadap sumber daya, dan kemampuan mempengaruhi kebijakan publik. Dalam sistem demokrasi yang biaya politiknya sangat mahal, hubungan antara penguasa dan pemilik modal menjadi sesuatu yang hampir tidak terhindarkan. Persoalannya muncul ketika kepentingan ekonomi segelintir orang lebih dominan dibanding kepentingan jutaan rakyat.
Lingkaran kedua adalah elite politik dan partai-partai pendukung. Setiap partai tentu memiliki agenda, kepentingan, dan target kekuasaan masing-masing. Ketika terlalu banyak kepentingan harus diakomodasi, maka energi pemerintahan sering tersedot untuk menjaga keseimbangan politik daripada menyelesaikan persoalan rakyat.
Lingkaran ketiga adalah birokrasi dan kelompok teknokrat. Mereka memiliki kemampuan mengendalikan informasi dan pelaksanaan kebijakan. Seorang presiden bisa memiliki visi besar, tetapi tanpa birokrasi yang bersih dan profesional, visi tersebut hanya akan menjadi dokumen dan pidato belaka.
Lingkaran keempat adalah para penjilat kekuasaan. Kelompok ini ada di setiap rezim dan setiap zaman. Mereka tidak memiliki ide maupun keberanian untuk menyampaikan kenyataan. Yang mereka miliki hanyalah kemampuan memuji, membangun citra semu, dan menutupi berbagai persoalan agar tetap mendapatkan akses terhadap kekuasaan.
Di sinilah bahaya terbesar bagi seorang pemimpin. Ketika kritik dianggap ancaman dan pujian dianggap kebenaran, maka proses pengambilan keputusan menjadi kehilangan koreksi. Sejarah menunjukkan bahwa banyak kekuasaan runtuh bukan karena serangan musuh dari luar, melainkan karena kebusukan yang tumbuh di dalam lingkaran terdekatnya sendiri.
Bagi Prabowo Subianto, tantangan sesungguhnya bukan hanya menghadapi oposisi atau persoalan ekonomi global. Tantangan yang lebih berat adalah keberanian untuk membersihkan lingkaran kekuasaan dari para pemburu rente, makelar kebijakan, dan kelompok-kelompok yang menjadikan negara sebagai alat memperkaya diri.
Rakyat pada akhirnya tidak akan menilai seorang presiden dari banyaknya pidato atau pencitraan yang dibangun. Rakyat akan menilai dari keberanian mengambil keputusan yang berpihak kepada kepentingan umum, meskipun keputusan itu berisiko membuat sebagian elite di sekitarnya merasa tidak nyaman.
Karena itu, pertanyaan yang layak diajukan kepada pemerintahan saat ini bukanlah apakah Prabowo memiliki niat baik atau tidak. Pertanyaannya adalah, mampukah ia memutus rantai lingkaran setan yang selama ini mengelilingi kekuasaan di Indonesia?
Jika mampu, maka ia akan dikenang sebagai pemimpin yang berhasil keluar dari jebakan oligarki dan kepentingan elite. Namun jika tidak, maka sejarah mungkin akan mencatat bahwa pergantian pemimpin hanyalah pergantian wajah, sementara lingkaran setan kekuasaan tetap hidup, tumbuh, dan mengendalikan arah bangsa dari balik layar.
Sebab dalam politik, sering kali musuh terbesar seorang pemimpin bukanlah lawan yang berdiri di hadapannya, melainkan orang-orang yang berdiri paling dekat dengannya.













