Oleh: Clara Alviony| Aktivis Dakwah | Mahasiswi
Opini — Selama dua tahun terakhir, tepatnya sejak April 2023, Sudan dilanda perang saudara antara kelompok militer pemerintah atau Sudanese Armed Forces(SAF) yang dipimpin oleh Jenderal Abdel Fattah al-Burhan dan kelompok paramiliter Rapid Support Forces (RSF) yang dipimpin oleh Letjen Mohamed Hamdan Dagalo atau Hemedti. Ini menjadi salah satu krisis kemanusiaan yang kelam di Afrika.
Perang saudara ini menjadikan warga sipil sebagai sasaran utama dan paling dirugikan, termasuk pembunuhan massal, pengungsian paksa, kelaparan, berbagai penyakit, kekerasan seksual, dan bencana lainnya.Selama 14 bulan pertama konflik, kekejaman yang dilakukan oleh kedua pihak bertikai telah menelan lebih dari 150.000 jiwa, dengan sekitar 60.000 korban berasal dari negara bagian Khartoum saja, dan sekitar 12 juta lainnya telah meninggalkan rumah mereka akibat pertikaian tersebut. Sekitar 70.000 orang lainnya mengalami luka-luka, sementara sebagian besar kesulitan mendapatkan perawatan medis akibat runtuhnya sistem kesehatan nasional. Sekitar 70-80% fasilitas kesehatan tidak lagi beroperasi, diperparah dengan merebaknya penyakit seperti kolera, campak, dan diare. Sektor pendidikan pun lumpuh, hampir 20 juta anak di Sudan kini kehilangan haknya untuk bersekolah.
Sudan berdarah, tapi dunia memilih bungkam. Kepala Hak Asasi Manusia PBB, Volker Turk, menyatakan bahwa kengerian yang terjadi di Sudan benar-benar tak mengenal batas.
Tragedi ini menggugah suara aktivis muslimah, Yasmin Malik,Ia menyesalkan bagaimana dunia nyaris tak berkedip di tengah darah yang mengalir di Sudan.
“Memasuki tahun ketiga, perang brutal antara Angkatan Bersenjata Sudan (SAF) yang dipimpin Jenderal Abdel Fattah al-Burhan dan Pasukan Dukungan Cepat (RSF) yang dipimpin Mohamed Hamdan Dagalo (Hemedti) telah menjerumuskan Sudan ke dalam salah satu bencana kemanusiaan paling mengerikan di zaman kita. Namun, kondisi di Sudan ini justru diabaikan, dilupakan, dan dibungkam oleh ketidakpedulian global,” paparnya kepada Kantor Berita ideologis internasional, Ahad (10-8-2025).
The Fact: Negeri Islam yang Kaya dan Diperebutkan
Benua Afrika sejak lama merupakan bagian penting dari negeri-negeri Muslim di masa kejayaan Kekhilafahan Islam. Dakwah Islam mulai menyentuh benua ini pada tahun 641 M, tepatnya di masa Khalifah Umar bin al-Khaththab ra., ketika Mesir ditaklukkan oleh panglima besar, ‘Amr bin al-‘Ash ra.
Beberapa dekade kemudian, di masa Khalifah Muawiyah bin Abi Sufyan ra., pasukan Islam di bawah komando ‘Uqbah bin Nafi ra. melanjutkan misi dakwah hingga ke wilayah selatan, menembus Lembah Nil dan mencapai Nubia—kawasan yang kini dikenal sebagai Sudan utara.
Namun, setelah kekuatan Khilafah Utsmaniyyah melemah, Afrika perlahan jatuh ke tangan penjajah Barat: Inggris, Prancis, Spanyol, Belgia, Belanda, Jerman, Italia, dan Portugal. Sudan menjadi salah satu target utama karena sumber dayanya yang melimpah, lebih dari 3 miliar barel cadangan minyak, 1.500 ton emas, getah Arab yang bernilai tinggi, hingga uranium di Pegunungan Nuba.
Letak Sudan pun sangat strategis, berbatasan dengan tujuh negara dan memiliki garis pantai di Laut Merah dekat Selat Bab al-Mandeb, jalur penting bagi perdagangan dan distribusi minyak dunia. Kekayaan dan posisi ini menjadikan Sudan incaran kekuatan besar yang berlomba menancapkan pengaruhnya.
Ambisi Ganda: Inggris dan Amerika di Tanah Sudan
Sudan jatuh ke tangan Inggris pada 1898, bukan semata demi perluasan wilayah, tetapi untuk melumpuhkan Khilafah Utsmaniyah dan mengamankan kendali atas Mesir serta Sungai Nil—urat nadi perdagangan menuju koloni Inggris di India dan Afrika Selatan.
Begitu berkuasa, Inggris menjalankan politik klasiknya: divide et impera (adu domba dan kuasai). Sudan dipecah menjadi dua—Utara yang lebih “Arab” dan Selatan yang lebih “Afrika.” Di utara dibangun pusat kekuasaan yang lebih maju dari segi perekonomian, sementara selatan terjadi pecah-belah antar suku maupun kepercayaan. Hasilnya, hingga kini perpecahan etnis dan agama tertanam dalam sejarah Sudan.
Namun, ketika pengaruh Inggris mulai melemah, Amerika Serikat datang menggantikan. Melalui dalih kemerdekaan dan diplomasi PBB, Washington perlahan menancapkan pengaruhnya setelah tahun 1956. Dari John Garang di Sudan Selatan hingga Hemedti di Darfur, AS memainkan tangan-tangan lokal demi ambisi globalnya.
Konflik hari ini bukanlah kebetulan, melainkan skenario besar untuk membersihkan sisa pengaruh Inggris, mengokohkan dominasi AS, dan memastikan Sudan tetap terpecah. Dengan menguasai Darfur (wilayah kaya emas dan mineral) Amerika memperkuat cengkeramannya atas Afrika Timur, sekaligus menutup ruang bagi kebangkitan Islam yang kaffah (menyeluruh).
Apa yang Bisa Kita Pelajari dari Tragedi Sudan?
Bagi seorang Muslim, tragedi Sudan bukan hanya berita jauh di layar kaca—ia adalah peringatan, bahwa luka di sana adalah cermin bagi kita di sini.Melihat penderitaan saudara seakidahyang tengah terluka oleh penjajah laknatullah adalah sebuah peringatan dan panggilan untuk merenung. Dari tragedi ini, setidaknya ada beberapa pelajaran berharga yang bisa kita ambil:
-
Urgensi Persatuan Umat adalah Kunci Independensi
Apa yang terjadi di Sudan bukan sekadar konflik politik, melainkan potret getir dari terpecahnya umat Islam di bawah dominasi asing dan aseng. Setelah Myanmar, Uyghur, India, dan Gaza, kini Sudan menjadi lembaran baru dari kisah pilu umat yang kehilangan Junnah (perisai) pelindung sejatinya.
Pasukan pro-Amerika menari di atas darah kaum Muslim, sementara kehormatan Muslimah dinodai tanpa ada kekuatan berarti yang membela mereka. Padahal, Rasulullah ﷺ menegaskan bahwa nyawa seorang Mukmin lebih berharga daripada seluruh isi dunia.
Dari al-Barra’ bin Azib radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
لَزَوَالُالدُّنْيَاأَهْوَنُعَلَىاللَّهِمِنْقَتْلِمُؤْمِنٍبِغَيْرِحَقٍّ
“Hilangnya dunia, lebih ringan bagi Allah dibandingnya terbunuhnya seorang mukmin tanpa hak.” (HR. Nasai 3987, Turmudzi 1455, dan dishahihkan al-Albani).
Menjunjung tinggi kebersamaan untuk persatuan umat Islam adalah prinsip penting dalam Islam, yang menekankan bahwa kaum Muslim harus bersatu, dan menempatkan kepentingan bersama di atas kepentingan pribadi atau kelompok/golongan.
-
Diamnya Dunia Islam
Tragedi di Sudan memperlihatkan kenyataan pahit: dunia Islam lebih banyak diam daripada bertindak.Negara-negara Muslim hanya berani bersuara di forum internasional tanpa langkah nyata di lapangan. Layaknya boneka yang digerakkan di bawah pengaruh Barat. Padahal, umat ini adalah satu tubuh, ketika satu bagian terluka, seluruhnya seharusnya merasakan sakit yang sama.
Rasulullah saw. bersabda:
الْمُسْلِمُأَخُوالْمُسْلِمِلَايَظْلِمُهُوَلَايُسْلِمُهُ
“Seorang Muslim adalah saudara bagi Muslim lainnya. la tidak menzalimi dan tidak membiarkan saudaranya itu (disakiti).” (HR al-Bukhari).
Kita belajar bahwa diamnya dunia Islam adalah luka kedua setelah peluru yang menembus tubuh umatnya sendiri.
Kita belajar bahwa diamnya dunia Islam adalah luka kedua setelah peluru yang menembus tubuh umatnya sendiri.Diamnya dunia Islam hari ini tak lain sebab buah dari sekat-sekat nasionalisme yang diwariskan penjajah. Masing-masing negeri sibuk dengan urusan domestik, sementara penderitaan saudara seiman diabaikan.
Inilah akibat ketika umat kehilangansatu kepemimpinan yang menyatukan visi dan arah perjuangan. Tanpa khalifah dalam kepemimpinan khilafah islamiyyah, umat dibiarkan menjadi pion dalam permainan geopolitik Barat.
-
Kekuasaan Tanpa Persatuan Hanya Melahirkan Kehancuran
Sudan adalah cermin bahwa kekuasaan tanpa dasar persatuan hanyalah ilusi kosong. Dua pihak yang sama-sama mengucap kalimat yang sama, bersujud kepada Tuhan yang sama, kini saling menumpahkan darah demi tahta yang tak lebih dari ilusi fana. Ironisnya, mereka bukan satu-satunya. Di berbagai belahan dunia, negeri-negeri Muslim terus diadu dan dipisahkan oleh garis buatan kolonial yang dahulu ditorehkan oleh Barat. Kini, warisan itu tumbuh menjadi racun—menghidupkan egoisme, fanatisme, dan ambisi kekuasaan yang menafikan ukhuwah.
Padahal kemenangan sejati bukan terletak pada kursi pemerintahan atau bendera politik, tetapi pada tegaknya hukum Allah di muka bumi. Selama umat Islam berlomba-lomba dalam perebutan kuasa, bukan dalam memperkuat ukhuwah Islamiyyah, bukan atas dasar ingin bersatu, maka kehancuran hanya tinggal menunggu waktu, dan Sudan menjadi saksi pahitnya kenyataan itu.
-
Penyakit Wahn: Cinta Dunia dan Takut Mati
Rasulullah ﷺ telah mengingatkan bahwa suatu saat umat Islam akan menjadi banyak tetapi lemah seperti buih di lautan. Penyakit itu bernama wahn—cinta dunia dan takut mati.
Inilah yang kita saksikan hari ini, kecintaan berlebihan pada harta, jabatan, dan pengaruh membuat banyak pemimpin Muslim rela menggadaikan kehormatan umat demi kepentingan dunia yang semu.
Padahal, Islam memerintahkan kita untuk mencintai kehidupan hanya sebagai ladang amal, bukan tujuan utama. Selama penyakit wahn masih berakar, umat ini tidak akan berani menegakkan keadilan yang sejati, takkan berani menegakkan hukum Islam. Sehingga memunculkan keserakahan, kediktatoran, dan segala bentuk kedzoliman di muka bumi ini.












