Generation Gap: Jarak Usia yang Sengaja Direkayasa Sistem

Dailypost.id
Oleh: Sandyakala

DAILYPOST.ID Opini — Pada era digitalisasi hari ini, narasi generation gap kian mengemuka. Ia hadir sebagai cara baru mengklasifikasikan manusia—bukan lagi semata berdasarkan kelas sosial atau wilayah, melainkan berdasarkan rentang waktu kelahiran. Lahirlah istilah Baby Boomers, Generasi X, Milenial, Gen Z, hingga Gen Alpha, masing-masing disertai deskripsi karakter, kebiasaan, dan pola pikir yang seolah baku. Klasifikasi ini kerap dianggap netral, ilmiah, bahkan membantu. Namun di titik tertentu, ia mulai menyederhanakan manusia menjadi label.

Rekomendasi Produk TikTokShop

Promo Kursi Gaming

Rp5xx.xxx

Belanja Aman di Sini

Kursi Kerja Ergonomis

Rp3xx.xxx

Belanja Aman di Sini

Meja Kerja/Gaming

Rp2xx.xxx

Belanja Aman di Sini

Meja Kerja/Gaming

Rp2xx.xxx

Belanja Aman di Sini

Secara konseptual, generation gap didefinisikan sebagai kesenjangan pemahaman antara generasi tua dan muda akibat perbedaan pengalaman hidup, nilai, kebiasaan, dan cara berperilaku. Cambridge University Press & Assessment menyebutnya sebagai kondisi ketika generasi yang berbeda gagal saling memahami karena latar pengalaman yang tidak sama. Merriam-Webster menegaskannya sebagai perbedaan pandangan, nilai, dan sikap antara kelompok usia yang berlainan. Dengan kata lain, generation gap adalah fenomena komunikasi—bukan konflik kodrati.

Perbedaan nilai dan keyakinan, gaya hidup, hingga pola komunikasi memang nyata. Setiap generasi tumbuh dalam lanskap sosial, ekonomi, budaya, dan teknologi yang berbeda. Generasi yang dibesarkan tanpa internet tentu memaknai dunia secara berbeda dengan generasi yang sejak kecil hidup dalam algoritma. Namun perbedaan itu sejatinya bersifat wajar dan bisa dijembatani. Masalah muncul ketika perbedaan tidak lagi dipahami sebagai dinamika, melainkan dipaku menjadi identitas tetap.

Secara historis, gagasan tentang kesenjangan generasi berangkat dari pemikiran Karl Mannheim, seorang sosiolog Hungaria, yang melihat perbedaan generasi sebagai konsekuensi dari perubahan sosial, politik, dan ekonomi yang cepat. Mannheim menekankan bahwa perbedaan tersebut seharusnya dihadapi dengan toleransi, sebab dalam satu masyarakat, beberapa generasi akan selalu hidup berdampingan.

Namun, di tangan media dan industri ini, istilah tersebut telah mengalami pergeseran makna. Kini ia bukan lagi sekadar konsep sosiologis, tetapi berubah menjadi alat segmentasi. Masyarakat dipilah ke dalam kotak-kotak generasi, lengkap dengan stereotip yang mudah dikenali dan mudah dijual. Generasi tua digambarkan kolot dan kaku, generasi muda dicitrakan nyolot dan terlalu ekspresif. Maka pada kondisi ini kita perlu memahami polarisasi ini bukan kebetulan, melainkan sengaja dibuat berdasarkan kebutuhan pasar.

Kapitalisasi Media di Balik Narasi Generation Gap

Tidak bisa dimungkiri, mayoritas media hari ini beroperasi dalam logika kapitalisme sekuler. Platform besar seperti Google, Meta, dan TikTok bekerja dengan satu kepentingan utama: mengumpulkan data sebanyak mungkin untuk dikomersialkan. Segmentasi generasi menjadi cara efektif untuk membangun big data memetakan selera, emosi, ketakutan, dan aspirasi manusia berdasarkan usia. Dalam kontks inilah kita memahami bahwa media sosial kini telah bergeser tujuan yang awalnya untuk membangun konektivitas dan interaksi sosial. Kini, telah digunakan untuk mendapatkan untung sebanyak-banyaknya.

Shoshana Zuboff menyebut era ini sebagai the age of surveillance capitalism—sebuah fase ketika data perilaku manusia dieksploitasi untuk memprediksi dan memodifikasi tindakan. Manusia tidak lagi diposisikan sebagai subjek bermartabat, melainkan sebagai komoditas yang perilakunya bisa diarahkan. Produk yang dijual bukan hanya barang, tetapi juga informasi, tren, bahkan cara berpikir.

Sejak televisi mulai memecah ruang keluarga pada 1960-an, hingga internet dan media sosial memprivatisasi layar di tangan masing-masing individu, masyarakat semakin tersegmentasi. Setiap generasi hidup dalam ruang medianya sendiri, dengan narasi dan referensi yang berbeda. Di sinilah generation gap dipertajam—bukan karena tak bisa dijembatani, tetapi karena terus dipelihara.

Masalahnya, dampak dari narasi ini tidak berhenti pada kesalahpahaman. Ia menimbulkan efek psikologis, sosial, bahkan ideologis. Perbedaan pandangan dianggap ancaman, kritik dianggap serangan lintas generasi, dan dialog berubah menjadi saling merendahkan. Energi kolektif yang seharusnya digunakan untuk menghadapi ketidakadilan struktural justru habis untuk perang label.

Bagi generasi Muslim, persoalan ini menjadi lebih serius. Narasi kesenjangan generasi tidak lagi sekadar soal usia atau gaya hidup, melainkan menjadi bagian dari hegemoni nilai kapitalisme yang bergerak lewat ruang digital. Nilai-nilai seperti “kebebasan tanpa batas”, “identitas konsumen”, dan “viral sebagai validasi” perlahan dinormalisasi, bahkan diinternalisasi oleh generasi muda Muslim. Agama direduksi menjadi estetika, ibadah menjadi konten, dan dakwah dipaksa tunduk pada algoritma.

Di titik ini, generation gap bukan lagi soal siapa yang lebih tua atau lebih muda, melainkan siapa yang sadar dan siapa yang terjebak. Sebab generasi yang terpecah akan selalu mudah dikendalikan, sementara generasi yang saling memahami memiliki potensi untuk melampaui sistem yang menindas mereka bersama.

Islam: Menyatukan Generasi

Jika generation gap hari ini bukan sekadar persoalan usia, melainkan produk dari segmentasi media dan logika kapitalisme digital, maka penyelesaiannya tidak cukup dengan ajakan “saling memahami” yang normatif. Diperlukan kerangka nilai yang mampu memulihkan relasi antargenerasi sekaligus membongkar struktur yang memecahkannya. Di sinilah Islam menawarkan solusi yang bersifat mendasar dan juga menyeluruh.
Dalam Islam, manusia tidak diposisikan berdasarkan generasi, melainkan berdasarkan peran dan tanggung jawabnya sebagai hamba dan khalifah. Tua dan muda tidak diletakkan dalam relasi kompetitif, tetapi dalam relasi keberlanjutan. Al-Qur’an dan sunnah tidak membangun dikotomi generasi, melainkan kesinambungan nilai dari satu zaman ke zaman berikutnya. Yang tua bukan simbol masa lalu yang usang, dan yang muda bukan representasi kebebasan tanpa batas.

Islam menempatkan ilmu dan hikmah sebagai jembatan antargenerasi. Yang tua dihormati karena pengalaman dan kebijaksanaannya, sementara yang muda dihargai karena energi dan potensinya. Dalam tradisi Islam, perbedaan usia justru menjadi sumber saling melengkapi, bukan alasan untuk saling meniadakan. Dengan kerangka ini, perbedaan tidak dihapuskan, tetapi diarahkan.

Lebih jauh, Islam menolak logika kapitalisme yang menjadikan manusia sebagai komoditas. Dalam sistem nilai Islam, manusia tidak dinilai dari daya belinya, viralitasnya, atau datanya, melainkan dari ketakwaan dan kontribusinya. Prinsip ini menjadi antitesis langsung terhadap kapitalisasi media yang memecah generasi demi kepentingan pasar. Ketika Islam hadir sebagai ideologi, narasi “generasi pasar” digantikan dengan konsep umat, satu tubuh yang saling terhubung.
Islam juga menawarkan tata kelola media dan informasi yang berlandaskan etika, bukan semata profit. Informasi tidak diproduksi untuk memancing emosi atau memperlebar jurang sosial, tetapi untuk membimbing akal dan menjaga kemaslahatan. Dalam kerangka ini, media bukan alat adu domba generasi, melainkan sarana edukasi dan pemersatu. Konten tidak diukur dari seberapa viral, tetapi seberapa benar dan bermanfaat.

Bagi generasi Muslim, solusi ini bermakna membangun kembali kesadaran kolektif bahwa perbedaan generasi bukan alasan untuk tercerai, melainkan kesempatan untuk saling menguatkan. Generasi muda tidak tumbuh dalam ruang hampa, dan generasi tua tidak hidup di masa yang sepenuhnya usai. Islam mengajarkan bahwa perubahan adalah keniscayaan, tetapi nilai kebenaran bersifat tetap.

Dengan demikian, solusi Islam terhadap generation gap bukan sekadar ajakan moral, melainkan pembongkaran cara pandang. Dari manusia sebagai konsumen menjadi manusia sebagai hamba. Dari generasi sebagai segmen pasar menjadi generasi sebagai mata rantai peradaban. Selama sistem yang memecah generasi masih dipertahankan, konflik akan terus diwariskan. Namun ketika Islam dijadikan landasan, perbedaan tidak lagi menjadi jurang, melainkan jembatan menuju kebangkitan itu sendiri.

Wallahu’alam bishawab

 

Share:   
https://wa.wizard.id/003a1b

FOLLOW US ON FACEBOOK
FOLLOW US ON INSTAGRAM
FOLLOW US ON TIKTOK
@dailypost.id
ekakraf multimedia