POPAYATO TIMUR – Peningkatan nilai tambah sektor perikanan di Provinsi Gorontalo kembali mendapatkan sorotan, menyusul kunjungan kerja Gubernur dan Wakil Gubernur ke Kecamatan Popayato Timur, Kabupaten Pohuwato. Dalam lawatan tersebut, PT Kimci Jaya Bersaudara dinilai menjadi contoh nyata keberhasilan hilirisasi produk perikanan, khususnya ikan bandeng, yang berdampak langsung pada perekonomian petani tambak lokal.
Dengan kapasitas produksi yang menembus pasar ekspor seperti Taiwan dan Filipina, perusahaan pengolahan hasil laut tersebut dinilai mampu menjadi mitra strategis bagi petani tambak di wilayah pesisir Gorontalo. Wakil Gubernur Gorontalo, Idah Syahidah Rusli Habibie, menyebut sinergi antara industri dan petani harus terus diperkuat agar kesejahteraan masyarakat tambak bisa meningkat secara berkelanjutan.
“Kita tidak bisa lagi hanya mengekspor bahan mentah. Hilirisasi harus menjadi jalan tengah agar nilai ekonomi ikan bandeng ini benar-benar dirasakan oleh petani lokal,” ujar Idah saat memantau proses produksi di pabrik milik PT Kimci Jaya Bersaudara, Selasa (13/5/2025).
Meski menggembirakan dari sisi harga jual yang kompetitif—sekitar Rp15.000 per kilogram—petani tambak masih menghadapi tantangan klasik: ketersediaan pupuk. Dalam dialog yang digelar bersama para petani tambak, Idah menerima keluhan terkait sulitnya memperoleh pupuk setelah dicabutnya kebijakan subsidi dari pemerintah pusat.
“Dulu memang pupuk tambak masuk subsidi, tapi sekarang sudah tidak lagi. Ini jelas menjadi beban tambahan bagi petani,” ungkapnya.
Sebagai langkah awal, Pemerintah Provinsi Gorontalo berkomitmen akan mendorong Dinas Kelautan dan Perikanan untuk menindaklanjuti keluhan tersebut, termasuk menjajaki skema bantuan atau subsidi baru yang lebih adaptif terhadap kebutuhan perikanan tambak.
Keberadaan PT Kimci Jaya Bersaudara dinilai bukan hanya sebagai pelaku industri, tetapi juga sebagai pengungkit ekonomi lokal. Dengan pola kemitraan langsung bersama petani, perusahaan ini mampu memangkas rantai distribusi dan menjamin harga jual yang stabil di tingkat petambak.
“Yang paling penting adalah komunikasi yang terbuka antara perusahaan dan petani. Jangan sampai ada kesalahpahaman yang justru merugikan kedua pihak,” imbuh Idah, yang juga mantan legislator DPR RI.
Menurutnya, model kolaboratif ini layak dijadikan percontohan bagi sektor perikanan di kabupaten/kota lain di Gorontalo. Selain menjamin pasokan bahan baku industri, kemitraan ini juga menjadi instrumen pengentasan kemiskinan di wilayah pesisir.
Dengan panjang garis pantai yang mencapai ratusan kilometer, Provinsi Gorontalo menyimpan potensi besar dalam sektor perikanan. Namun demikian, tantangan utama masih berkutat pada minimnya industri pengolahan hasil laut yang berbasis lokal dan berorientasi ekspor.
Kehadiran PT Kimci di Popayato Timur menjadi bukti bahwa investasi sektor ini bisa berkembang jika didukung ekosistem yang baik. Pemerintah daerah pun diharapkan lebih aktif dalam membuka peluang investasi serupa, terutama di wilayah pesisir yang selama ini cenderung tertinggal secara infrastruktur.
“Kalau daerah lain bisa mengekspor olahan seafood dalam kemasan, mengapa Gorontalo tidak bisa? Kuncinya ada pada hilirisasi dan kemitraan,” tegas Idah.












