Oleh : Dian Pratiwi (Aktivis Muslimah)
Opini — Dewasa ini, teknologi informasi berkembang pesat, membuat dunia seakan-akan tidak lagi bersekat. Arus informasi begitu kencang dan mudah diakses oleh siapapun, kapanpun.
Salah satu produk dari perkembangan teknologi informasi yaitu munculnya berbagai media sosial, yang akhir-akhir ini menjadi bagian dari gaya hidup. Manusia sulit lepas dari penggunaan media sosial. Seseorang dengan mudah membagikan konten, baik yang bermanfaat maupun berbau kemaksiatan. Label influencer mudah sekali disematkan pada seseorang yang memiliki banyak pengikut.
Kebanyakan tren muncul dari sosial media, yang akhirnya diikuti oleh sebagian besar orang. Akhirnya, manusia berlomba-lomba mencari eksistensi melalui media sosial dengan berbagai cara. Tidak jarang mereka membuat konten berbau maksiat hanya supaya viral.
Sebagian orang merasa lebih nyaman berinteraksi di media sosial. Akun anonim, identitas palsu, membuat orang merasa lebih bebas berekspresi di jejaring sosial. Orang-orang merasa lebih terhubung melalui linimasa yang penuh unggahan hiburan.
Namun, hal ini justru tidak menghilangkan rasa kesepian bagi penggunanya. Fenomena ini membuat sekelompok mahasiswa Ilmu Komunikasi Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) melakukan sebuah riset. Riset yang diberi nama “Loneliness in the Crowd: Eksplorasi Literasi Media Digital pada Fenomena Kesepian di TikTok melalui Konfigurasi Kajian Hiperrealitas Audiovisual”, menyoroti kaitan erat antara penggunaan media sosial berlebihan dengan rasa kesepian, insecure, bahkan masalah kesehatan mental.
Teori hiperrealitas menyebut, representasi digital justru lebih ‘nyata’ daripada realitas itu sendiri. Sehingga, emosi yang dibentuk media bisa memengaruhi kesehatan mental dan hubungan sosial seseorang. Semakin sering seseorang membagikan konten dengan tema kesepian, semakin sering pula konten sejenis muncul di linimasa. Hal ini bukannya mengusir perasaan sepi, tetapi justru memperparah kondisi. Tanpa disadari, pola tersebut memperburuk mental seseorang. (detik.com, 18 September 2025).
Era digital telah membuat manusia cenderung lebih suka menghabiskan waktu dengan men-scroll media sosial. Ini menyebabkan mereka sulit membangun relasi di dunia nyata. Bahkan dalam keluarga sekalipun, pola hubungan terasa berjarak. Saat berkumpul misalnya, setiap anggota keluarga justru lebih fokus pada gawai masing-masing.
Hal ini terjadi semata-mata bukan karena minimnya literasi digital atau managemen penggunaan gawai yang buruk. Media sosial yang awalnya hanya sebagai tuang untuk berinteraksi telah bergeser menjadi industri kapitalis. Mereka mendesain Algoritma bukan lagi untuk “menghubungkan orang”, tetapi untuk memaksimalkan keterlibatan.
Dengan cara ini mereka menjaga pengguna tetap online, sehingga lebih banyak iklan yang bisa ditampilkan. Hal ini membuat sebagian orang semakin malas berinteraksi secara langsung.
Sikap asosial ini pula yang menambah parah perasaan kesepian, yang pada akhirnya akan berdampak pada kesehatan mental. Sedihnya, hal ini justru banyak menimpa Gen Z, generasi muda yang diharapkan mampu mengembangkan potensi. Jangankan membereskan permasalahan umat, generasi muda justru menjadi generasi lembek dan tidak berdaya. Alih-alih memotret permasalahan umat, manusia justru terjebak dalam kesepian yang diciptakannya sendiri.
Kita tentu tidak ingin terjebak dalam fenomena yang merugikan ini. Dalam pandangan Islam, hakikat penciptaan manusia selain untuk senantiasa beribadah kepada Allah, juga sebagai khalifah di muka bumi. Sebagaimana firman Allah Swt.
وَاِذْ قَالَ رَبُّكَ لِلْمَلٰۤىِٕكَةِ اِنِّيْ جَاعِلٌ فِى الْاَرْضِ خَلِيْفَةً ۗ
“Dan (ingatlah) ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat, ‘Aku hendak menjadikan khalifah di bumi.” (QS Al-Baqarah: 30)
Dalam kitab Shafatut Tafasir Juz 1, Syekh Muhammad Ali ash-Shabuni menyebutkan bahwa “khalifah” pada ayat di atas bermakna manusia bertugas mengelola dan memakmurkan bumi dengan hukum Allah Swt.
Sebagai muslim, semestinya kita menyadari dampak buruk penggunaan media sosial yang berlebihan.
Umat muslim haruslah menjadikan Islam sebagai way of life, sebagai panduan cara hidup yang benar. Hidup bukan diatur oleh algoritma yang ditampilkan di linimasa media sosial, melainkan oleh hukum-hukum Allah dalam Al-quran dan hadits.
Penting bagi umat Islam untuk mempelajari agamanya secara kaffah. Muslim harus memahami Al-quran dan hadits agar tidak mudah terpengaruh oleh hal-hal yang dapat mengikis iman, yang justru menjerumuskan manusia pada kesesatan bahkan hingga mengganggu mental.
Sebagai muslim, kita seharusnya sadar penggunaan sosial media yang berlebihan hanya akan menjadikan manusia sebagai komoditas oleh platform-platform kapitalis. Oleh sebab itu, sudah semestinya umat Islam mengembalikan fungsi media sosial seperti awal, yaitu hanya untuk memudahkan manusia dalam berkomunikasi, menjalin pertemanan, dan berbagi informasi. Dengan demikian media sosial bisa menjadi ladang dakwah yang lebih luas dan masif.
Dalam sistem Islam, negara memiliki peran penting dalam mengendalikan pemanfaatan dunia digital. Negara akan menindak dengan tegas konten yang mengandung kemaksiatan dan berpotensi memberi kerusakan pada pendidikan generasi. Sebaliknya, negara mendorong terciptanya konten-konten di platform media sosial yang mengedukasi bagi seluruh lapisan masyarakat.
Negara memanfaatkan platform media sosial sebagai sarana dakwah, baik di dalam maupun luar negeri. Dengan begitu, media sosial bermanfaat untuk mencerdaskan masyarakat sekaligus dapat menyampaikan risalah Islam dengan jelas.
Dengan demikian, tidak akan ada lagi generasi muda yang larut dalam dunia maya yang berakibat buruk bagi mental. Satu-satunya jalan untuk mencapai hal tersebut adalah dengan mewujudkan sistem yang mendukung penerapan Islam secara kafah.
Wallahualam.













