Pohuwato — Masih tingginya angka kelahiran di sejumlah wilayah terpencil Provinsi Gorontalo menyoroti pentingnya literasi kesehatan keluarga sebagai fondasi dalam menekan angka stunting. Hal ini mencuat dalam kunjungan kerja Gubernur Gorontalo, Gusnar Ismail, bersama Wakil Gubernur Idah Syahidah Rusli Habibie, ke Desa Molosipat, Kecamatan Popayato Barat, Kabupaten Pohuwato, Selasa (13/5/2025).
Wakil Gubernur Idah Syahidah mengungkapkan kekhawatirannya terhadap kondisi anak-anak di kawasan tersebut yang tampak kurang sehat dan kekurangan asupan gizi. Ia menilai rendahnya kesadaran masyarakat terhadap program keluarga berencana (KB) berkontribusi terhadap persoalan kesehatan anak di lapangan.
“Tadi saya lihat banyak keluarga dengan anak lebih dari dua. Ini bukan soal jumlah semata, tapi kualitas hidup mereka. Anak-anak terlihat kurus, lesu, dan ini menjadi PR bersama bagi BKKBN dan Dinas Kesehatan untuk memperkuat edukasi KB serta pola hidup sehat,” tegas Idah.
Stunting—yang ditandai dengan gangguan pertumbuhan akibat kekurangan gizi kronis—masih menjadi momok bagi pembangunan sumber daya manusia di wilayah Gorontalo bagian barat. Selain masalah gizi, faktor sosial seperti pola asuh, pendidikan orang tua, hingga akses pelayanan kesehatan yang terbatas ikut memperparah keadaan.
Dalam rangka intervensi jangka pendek, Pemerintah Provinsi Gorontalo melalui Dinas Kesehatan menyalurkan bantuan makanan tambahan kepada keluarga yang memiliki anak dengan risiko tengkes. Bantuan ini mencakup kebutuhan gizi selama tiga bulan.
“Tentu kami tidak berharap bantuan ini menjadi permanen. Ini hanya pemantik agar dalam tiga bulan ke depan terjadi peningkatan berat badan dan tinggi badan anak-anak menuju angka ideal,” ujar Idah.
Selain isu kesehatan, Idah Syahidah turut menyoroti pentingnya peran orang tua dalam mendukung pendidikan anak-anak. Ia menekankan bahwa kemiskinan tak boleh menjadi alasan untuk menarik anak dari sekolah. Akses pendidikan saat ini, menurutnya, jauh lebih terbuka dibandingkan masa lalu.
“Tugas kita sekarang adalah mendorong anak-anak tetap sekolah sesuai usianya. Pemerintah sudah siapkan fasilitas dan program beasiswa, tinggal bagaimana orang tua mau mengarahkan anaknya ke bangku pendidikan,” jelas mantan anggota DPR RI itu. (ad/d09)















