GORONTALO – Dinas Kesehatan Kabupaten Gorontalo memperkuat tracking kasus malaria dengan menyasar masyarakat yang memiliki faktor risiko, termasuk pekerja yang memiliki riwayat aktivitas di kawasan pertambangan beserta anggota keluarganya.
Langkah tersebut dilakukan melalui seluruh Puskesmas dengan melibatkan pemerintah kecamatan dan desa. Tracking malaria menjadi tindak lanjut rapat koordinasi penanganan dan penanggulangan malaria yang dipimpin Bupati Gorontalo pada 25 September 2026.
Petugas Puskesmas bersama pemerintah kecamatan dan desa diinstruksikan mengidentifikasi warga yang masuk dalam kelompok sasaran. Penelusuran mencakup riwayat perjalanan, aktivitas di kawasan pertambangan, hingga keluhan atau gejala yang mengarah pada malaria.
Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Gorontalo Afriyani Katili mengatakan, warga yang memenuhi kriteria akan menjalani pemeriksaan sesuai prosedur. Apabila ditemukan positif malaria, pasien harus segera mendapatkan pengobatan hingga tuntas.
“Kita menindaklanjuti arahan Bapak Bupati dengan memperkuat kegiatan di lapangan. Puskesmas bersama kecamatan dan pemerintah desa melakukan tracking terhadap masyarakat yang memiliki faktor risiko, termasuk pekerja yang memiliki riwayat aktivitas di kawasan pertambangan dan keluarganya. Yang kita pastikan adalah siapa yang berisiko, siapa yang sudah diperiksa, dan apabila ditemukan positif harus segera diobati sampai tuntas,” jelas Afriani, Senin (28/9/2026).
Afriyani juga meminta masyarakat yang memiliki riwayat aktivitas di wilayah berisiko tidak menunggu hingga mengalami kondisi sakit untuk memeriksakan diri ke fasilitas pelayanan kesehatan.
“Jangan menunggu masyarakat datang dalam kondisi sakit. Kalau ada riwayat perjalanan atau aktivitas di wilayah berisiko, apalagi disertai demam, menggigil, sakit kepala atau keluhan lain yang mengarah pada malaria, segera laporkan dan periksakan ke fasilitas pelayanan kesehatan,” tambahnya.
Selain tracking dan pemeriksaan, petugas kesehatan turut memberikan edukasi kepada masyarakat mengenai gejala malaria serta langkah pencegahan gigitan nyamuk.
Data hasil penelusuran dan pemeriksaan dari seluruh Puskesmas akan dievaluasi secara berkala. Evaluasi tersebut menjadi dasar untuk menentukan tindak lanjut penanganan di masing-masing wilayah.
Afriyani menegaskan, upaya penanggulangan malaria tidak hanya berfokus pada penemuan kasus, tetapi juga memastikan setiap pasien yang dinyatakan positif memperoleh pengobatan hingga tuntas.
“Target kita bukan hanya menemukan kasus. Yang lebih penting, setiap kasus positif segera mendapatkan pengobatan dan dipastikan tuntas, sementara masyarakat yang berisiko terus kita telusuri. Dengan kerja bersama sampai ke desa, kita ingin penularan malaria dapat dikendalikan,” tutup Afriyani.














