Gorontalo — Upaya memperkuat perlindungan tanaman dan meningkatkan kapasitas Petugas Pengendali Organisme Pengganggu Tumbuhan (POPT) terus dilakukan melalui pembelajaran berbasis praktik lapangan. Salah satunya melalui kegiatan Fieldtrip Peningkatan Kompetensi untuk Mengasah Kemampuan Deteksi OPT dan Dampak Perubahan Iklim (DPI) yang dilaksanakan pada Jumat (25/09/2026).
Kegiatan ini menjadi bagian penting dari Pelatihan Teknik Pengamatan dan Pelaporan Organisme Pengganggu Tumbuhan (OPT) dan Dampak Perubahan Iklim (DPI) yang diselenggarakan oleh Balai Pelatihan Teknik Pertanian. Setelah mendapatkan pembekalan teori, peserta dituntut mampu menerapkan pengetahuan tersebut secara langsung dengan membaca kondisi pertanaman di lapangan.
Fieldtrip dilaksanakan di areal pertanaman Desa Pilohayanga Barat dan Desa Luhu, Kecamatan Telaga, Kabupaten Gorontalo. Di lokasi tersebut, para peserta melakukan pengamatan kondisi tanaman, mengenali serangan OPT, mengidentifikasi potensi gangguan tanaman, serta mengamati kondisi lingkungan yang berkaitan dengan Dampak Perubahan Iklim.
Kegiatan lapangan ini didampingi instruktur dari Direktorat Jenderal Perlindungan Tanaman, yakni Abriani Fensionita, SP., M.Si., Ketua Kelompok Substansi Data dan Kelembagaan, serta Yadi Kusmayadi, SP., praktisi Hama dan Penyakit Tumbuhan (HPT).
Tidak hanya melakukan pengamatan, peserta juga mempraktikkan teknik pengambilan sampel, pencatatan hasil pengamatan, identifikasi OPT, hingga penyusunan data dan pelaporan hasil pengamatan. Interaksi dan diskusi di lapangan memberikan kesempatan kepada peserta untuk menghubungkan materi yang diperoleh selama pelatihan dengan kondisi nyata di areal pertanaman.
Abriani Fensionita mengatakan, kemampuan membaca kondisi pertanaman secara tepat merupakan bagian penting dalam mendukung pengambilan keputusan di lapangan.
“Melalui fieldtrip ini, peserta tidak hanya belajar melihat tanaman, tetapi juga belajar membaca kondisi pertanaman dan mengambil informasi yang akurat sebagai dasar dalam menentukan langkah pengendalian,” ujar Abriani
Kemampuan deteksi dini tersebut menjadi semakin penting bagi POPT dalam mengawal program pertanian, khususnya program PM-AAS. Dengan kemampuan mengenali keberadaan OPT dan faktor risiko akibat perubahan iklim secara lebih cepat dan akurat, informasi dari lapangan diharapkan dapat segera disampaikan sebagai bahan dalam menentukan langkah penanganan.
Peningkatan kapasitas POPT pada akhirnya tidak hanya berorientasi pada peningkatan kompetensi individu, tetapi juga menjadi bagian dari upaya memperkuat sistem perlindungan tanaman dan mendukung pendampingan petani menuju peningkatan produktivitas serta keberlanjutan pertanian di Provinsi Gorontalo.














