– India saat ini dilanda gelombang panas yang sangat ekstrem, dan telah menimbulkan kerugian yang cukup besar bagi masyarakat. Dilansir dari detikHealth, dalam 30 tahun terakhir, tercatat ada 24 ribu kasus orang yang meninggal akibat gelombang panas. Kondisi ini juga menambah panjang catatan kematian akibat gelombang panas yang terjadi di India.
Pada tahun lalu, gelombang panas ekstrem ini menyebabkan puluhan orang tewas dan puluhan orang lainnya harus menjalani perawatan di rumah sakit. Tidak hanya itu, kondisi ini juga menyebabkan kerugian lainnya, seperti memangkas hasil panen, hingga menyebabkan tempat pembuangan sampah di Delhi terbakar dan menimbulkan asap beracun. Bahkan, di negara bagian Uttar Pradesh, suhu bisa mencapai 115 derajat Fahrenheit atau 46,1 derajat Celcius.
Gelombang panas yang terjadi di India ini diprediksi akan meningkat dan menimbulkan berbagai ancaman kesehatan, termasuk sengatan panas, kekurangan makanan, hingga kematian. Selain itu, gelombang panas juga bisa menghambat perekonomian dan tujuan pembangunan negara.
Dalam penelitian terbaru, disebutkan bahwa India memiliki risiko panas ekstrem yang lebih besar dibandingkan negara lain dan pemerintah setempat masih menganggap remeh ancaman tersebut. India saat ini menghadapi benturan berbagai bahaya iklim kumulatif, yang bisa menimbulkan kerusakan pada kesehatan masyarakat, pertanian, dan sistem sosial-ekonomi dan budaya.
Sekolah di beberapa wilayah di India terpaksa ditutup karena suhu di siang hari bisa mencapai 104 derajat F (40 derajat C) dalam beberapa hari berturut-turut. Perubahan iklim yang terjadi di India membuat negara ini menjadi 100 kali lebih mudah mengalami gelombang panas.
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) RI menegaskan bahwa cuaca panas yang terjadi di Indonesia bukan disebabkan gelombang panas seperti di India. Meskipun demikian, masyarakat di Indonesia juga diimbau untuk selalu menghindari paparan sinar UV dan menjaga kesehatan diri sendiri di tengah cuaca yang panas.
“Gelombang panas menyebabkan beban yang belum pernah terjadi sebelumnya pada kesehatan masyarakat, pertanian, dan sistem sosial-ekonomi dan budaya. India saat ini menghadapi benturan berbagai bahaya iklim kumulatif,” tulis peneliti Cambridge dikutip dari Grist, Selasa (25/4/2023).














