Wisata Hiu Paus Botubarani: Pelajaran tentang Blue Accounting dari Masyarakat Pesisir

Dailypost.id

Oleh: Tiara Abdurahman, Mahasiswa S2 Sains Akuntansi, Universitas Negeri Gorontalo

Ketika berbicara tentang akuntansi, sebagian besar orang mungkin langsung membayangkan laporan keuangan, laba rugi, atau neraca. Namun, ditengah meningkatnya perhatian terhadap isu keberlanjutan lingkungan, akuntansi kini tidak lagi hanya berbica tentang uang. Akuntansi juga mulai digunakan untuk memahani bagaimana sumber daya alam dikelola dan dijaga agar tetap memberikan manfaat bagi generasi mendatang. Slah satu konsep yang berkembang dalam konteks tersebut adalah blue accounting, yaitu pendekatan yang berupaya mengintegrasikan nilai ekonomi, sosial, dan lingkungan dalam pengelokaan sumber daya kelautan.

Konsep ini tampaknya sangat relevan jika dikaitkan dengan wisata hiu paus di Desa Botubarani, Kabupaten Bone Bolango, Gorontalo. Destinasi wisata yang telah dikenal hingga mancanegara tersebut tidak hanya menawarkan pengalaman unik berinteraksi dengan hiu paus, tetapi juga menyimpan pelajaran pentting mengenai hubungan antara kesejahteraan masyarakat dan keberlanjutan ekosistem laut.

Berbeda dengan banyak destinasi wisata yang dikelola oleh pemerintah atau investor swasta, wisata hiu paus Botubarani berkembang melalui keterlibatan aktif masyarakat pesisir. Masyarakat menjadi actor utama dalam penyediaan jasa wisata, mulai dari pengoperasian perahu, pendampingan wisatawan, penyewaan peralatan (snorkeling, dokumentasi, perahu kaca), hingga berbagai usaha pendukung lainnya. Kehadiran wisata hiu aus telah membuka peluang ekonomi baru dan menjadi sumber pendapatan bagi banyak keluarga di desa tersebut. Keberhasilan tersebut menujukkan bahwa masyarakat lokal memiliki kapasitas untuk mengelola potensi sumber daya alam yang dimiliki secara mandiri. Dalam perspektif pembangunan berkelanjutan, kondisi ini merupakan modal sosial yang sangat berharga. Masyarayakat tidak hanya berperan sebagai peenerima manfaat, tetapi juga sebagai pihak yang secara langsung merasakan konsekuensi apabila sumber daya yang menjadi tumpuan ekonomi mereka mengalami kerusakan.

Sebagai contoh, peningkatan jumlah wisatawan dapat dianggap sebagai kabar baik bagi perekonomian masyarakat. Akan tetapi, apakah peningkatan tersebut juga diikuti oleh kondisi ekosistem laut yang tetap terjaga? Apakah keberadaan hiu paus sebagai daya tarik utama wisata masih menunjukkan kondisi yang stabil? Apakah aktivitas wisata yang berlangsung setiap hari tidak menimbulkan tekanan terhadap habitat dan perilaku alami satwa tersebut? Pertanyaan-pertanyaan ini sering kali luput dari perhatian ketika keberhasilan hanya diukur berdasarkan aspek ekonomi. Padahal, keberlanjutan wisata hiu paus sangat bergantung pada keberlanjutan sumber daya alam yang menjadi fondasinya. Tanpa kehadiran hiu paus dan tanpa lingkungan laut yang sehat, aktivitas wisata yang selama ini menjadi sumber pendapatan masyarakat akan kehilangan daya tarik utamanya. Dengan kata lain, manfaat ekonomi yang diperoleh saat ini sesungguhnya berasal dari aset ekologis yang harus dijaga keberadaannya.

Perspektif inilah yang menjadi inti dari blue accounting. Dalam pendekatan ini, laut tidak dipandang semata-mata sebagai sumber pendapatan, melainkan sebagai aset yang memiliki nilai ekonomi sekaligus nilai ekologis. Oleh karena itu, keberhasilan pengelolaan sumber daya laut perlu dinilai secara lebih komprehensif dengan mempertimbangkan keseimbangan antara manfaat ekonomi dan kondisi lingkungan.

Bagi masyarakat Botubarani, penerapan prinsip-prinsip blue accounting tidak harus diwujudkan dalam bentuk laporan keuangan yang rumit. Yang lebih penting adalah tumbuhnya kesadaran bahwa keberlangsungan pendapatan masyarakat sangat terkait dengan keberlangsungan ekosistem laut. Kesadaran tersebut dapat diwujudkan melalui berbagai langkah sederhana, seperti menjaga kebersihan kawasan pesisir, membatasi aktivitas wisata yang berpotensi mengganggu hiu paus, meningkatkan edukasi bagi wisatawan, serta memperkuat pengawasan berbasis masyarakat terhadap aktivitas yang dapat merusak lingkungan.

Dalam konteks akademik, pengalaman Botubarani juga memberikan ruang refleksi bagi pengembangan ilmu akuntansi. Selama bertahun-tahun, akuntansi lebih banyak digunakan untuk mengukur nilai ekonomi yang dapat dihitung secara finansial. Namun, tantangan pembangunan berkelanjutan menuntut adanya cara pandang yang lebih luas. Nilai suatu aset tidak lagi hanya ditentukan oleh kemampuan menghasilkan pendapatan, tetapi juga oleh kemampuannya mempertahankan manfaat tersebut dalam jangka panjang. Di sinilah blue accounting hadir sebagai pendekatan yang menjembatani kepentingan ekonomi dan keberlanjutan lingkungan. Wisata hiu paus Botubarani mengajarkan bahwa keberhasilan pembangunan tidak selalu harus lahir dari proyek besar atau investasi berskala masif. Terkadang, keberhasilan justru tumbuh dari kemampuan masyarakat dalam mengelola potensi lokal yang dimiliki. Namun, keberhasilan tersebut perlu dijaga dengan memastikan bahwa manfaat ekonomi yang diperoleh hari ini tidak mengorbankan keberlanjutan sumber daya yang akan dinikmati pada masa depan.

Pada akhirnya, pelajaran terbesar dari Botubarani bukan hanya tentang keberhasilan mengembangkan destinasi wisata bahari, melainkan tentang bagaimana masyarakat pesisir membangun hubungan yang saling bergantung dengan lingkungan lautnya. Hiu paus bukan sekadar objek wisata yang mendatangkan penghasilan, tetapi juga bagian dari aset ekologis yang menopang kehidupan masyarakat. Karena itu, keberhasilan wisata hiu paus tidak seharusnya hanya diukur dari jumlah wisatawan atau besarnya pendapatan yang dihasilkan, melainkan juga dari kemampuan masyarakat menjaga keberlanjutan sumber daya laut yang menjadi sumber kesejahteraan mereka. Inilah esensi blue accounting yang sesungguhnya: menghitung nilai laut bukan hanya untuk hari ini, tetapi juga untuk masa depan.

Share:   
https://wa.wizard.id/003a1b
Rekomendasi Produk TikTokShop

Promo Kursi Gaming

Rp5xx.xxx

Belanja Aman di Sini

Kursi Kerja Ergonomis

Rp3xx.xxx

Belanja Aman di Sini

Meja Kerja/Gaming

Rp2xx.xxx

Belanja Aman di Sini

Meja Kerja/Gaming

Rp2xx.xxx

Belanja Aman di Sini

FOLLOW US ON FACEBOOK
FOLLOW US ON INSTAGRAM
FOLLOW US ON TIKTOK
@dailypost.id
ekakraf multimedia