, Limboto- Kelurahan Hutuo, Kecamatan Limboto, Kabupaten Gorontalo, kini menjadi saksi terobosan inovatif melalui kolaborasi antara Pengurus TP-PKK dan mahasiswa Farmasi Universitas Negeri Gorontalo (UNG).
Masyarakat disuguhkan dengan peluncuran Kampung Wisata Herbal yang tidak hanya menjadi tempat edukasi, tetapi juga menawarkan nilai tambah ekonomi bagi penduduk setempat.
Lahan yang semula terbengkalai, kini diubah menjadi kawasan edukasi dengan berbagai macam tanaman herbal. Bupati Gorontalo, Prof. Nelson Pomalingo, yang turut menyaksikan peluncuran ini menyampaikan rasa bangganya. Ia menyebut Kampung Wisata Herbal di Kelurahan Hutuo sebagai yang pertama dan satu-satunya di Kabupaten Gorontalo.
“Hari ini saya berbangga karena adanya peresmian Kampung Wisata Herbal, dan tentunya ini sangat saya apresiasi karena ini satu-satunya yang ada di Kabupaten Gorontalo,” ungkap Nelson dengan antusias, Senin (23/10/2023).
Selain menjadi destinasi wisata, Kampung Wisata Herbal diharapkan menjadi pusat produksi produk herbal berkualitas yang dapat dipasarkan secara luas. Bupati Nelson menegaskan bahwa inisiatif ini tidak hanya tentang pembuatan produk herbal, tetapi juga mencakup penyediaan pasar yang luas.
“Saya berharap, Kampung Wisata Herbal ini tidak hanya mendorong produksi, tetapi juga menyediakan pasar yang luas untuk produk-produk herbal ini,” tambah Nelson.
Berbagai jenis tanaman herbal seperti daun jambu, bunga kumis kucing, jahe, temulawak, kunyit, lidah buaya, daun sirih, pegagan, dan sambiloto turut dikembangkan dalam kegiatan ini. Melalui kegiatan ini, masyarakat setempat dan wisatawan diharapkan dapat memperoleh manfaat kesehatan yang berkelanjutan.
Acara peluncuran Kampung Wisata Herbal ini dihadiri oleh sejumlah tokoh, termasuk Ketua TP-PKK Kabupaten Gorontalo, Prof. Fory Armin Naway, Sekda Roni Sampir, Pimpinan OPD, Camat Limboto, Lurah se-Kecamatan Limboto, dan undangan lainnya. Dengan kolaborasi yang unik ini, Kampung Wisata Herbal menjadi bukti konkret bahwa inovasi dan kreativitas dapat mengubah lahan terbengkalai menjadi sumber daya produktif yang memberikan dampak positif bagi masyarakat setempat. (*)












