Ekonomi Indonesia Kuartal I 2025: Pemulihan Terkerek, Namun Ancaman Resesi Global Mengintai

Dailypost.id
Ilustrasi

DAILYPOST.ID Jakarta – Pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal pertama 2025 menunjukkan tren positif dengan angka 5,3% year on year, menurut data Badan Pusat Statistik (BPS). Namun, dibalik angka yang terlihat menguat, sejumlah pakar ekonomi dan pengamat menyuarakan kekhawatiran terkait ancaman resesi global yang berpotensi mengguncang perekonomian nasional.

BPS melaporkan bahwa konsumsi rumah tangga tetap menjadi motor utama penggerak ekonomi, didukung oleh peningkatan belanja pemerintah dan investasi swasta. Meski demikian, inflasi yang berhasil dijaga di angka 3,4% year on year tetap menjadi tantangan karena tekanan harga bahan pangan dan energi dunia yang belum mereda.

Rekomendasi Produk TikTokShop

Promo Kursi Gaming

Rp5xx.xxx

Belanja Aman di Sini

Kursi Kerja Ergonomis

Rp3xx.xxx

Belanja Aman di Sini

Meja Kerja/Gaming

Rp2xx.xxx

Belanja Aman di Sini

Meja Kerja/Gaming

Rp2xx.xxx

Belanja Aman di Sini

Gubernur Bank Indonesia, Perry Warjiyo, dalam konferensi pers akhir Mei lalu, menegaskan perlunya kewaspadaan ekstra. “Kita harus waspada terhadap volatilitas pasar keuangan global dan risiko perlambatan ekonomi dunia yang dapat mempengaruhi kinerja ekspor dan arus modal masuk,” katanya. Perry juga menegaskan BI akan terus menjaga stabilitas makroekonomi melalui kebijakan moneter adaptif.

Kritik tajam datang dari ekonom senior Institute for Development of Economics and Finance (INDEF), Faisal Basri. Menurutnya, meski pertumbuhan tercatat positif, struktur perekonomian Indonesia masih rentan. “Pertumbuhan ini sebagian besar disokong oleh konsumsi yang rawan gejolak akibat kenaikan harga komoditas dan inflasi pangan. Sektor manufaktur dan ekspor belum cukup kuat untuk menopang ekonomi di tengah ancaman resesi global,” ujarnya kepada media nasional, Jumat (30/5).

Faisal menambahkan, kebijakan fiskal pemerintah juga harus lebih fokus pada penguatan produktivitas dan diversifikasi ekspor agar ekonomi Indonesia tidak tergantung pada komoditas yang rentan fluktuasi harga dunia. “Reformasi struktural harus segera dijalankan agar pertumbuhan ekonomi berkelanjutan, bukan hanya pemulihan jangka pendek,” tegasnya.

Dari sisi fiskal, Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati tetap optimistis dengan target pertumbuhan nasional yang dipatok 5,1% pada tahun ini. Namun, ia juga mengakui risiko eksternal seperti ketegangan geopolitik dan lonjakan harga energi yang bisa mengganggu stabilitas ekonomi. “Kami siap menyesuaikan kebijakan fiskal dan mendukung program pemulihan ekonomi nasional agar tetap on track,” katanya dalam wawancara eksklusif.

Sementara itu, Direktur Utama Bank Rakyat Indonesia (BRI), Sunarso, menyoroti pentingnya digitalisasi UMKM sebagai pilar utama penggerak ekonomi rakyat. “Digitalisasi dan kemudahan akses pembiayaan menjadi kunci agar UMKM bisa bertahan dan berkembang di tengah tekanan ekonomi global,” jelasnya.

Namun, fakta di lapangan menunjukkan bahwa banyak UMKM masih kesulitan mengakses teknologi dan permodalan yang memadai, sehingga perlu dukungan lebih nyata dari pemerintah dan sektor swasta.

Data kuartal I 2025 menunjukkan pemulihan ekonomi Indonesia yang membaik, tetapi tidak tanpa risiko. Ancaman resesi global, ketergantungan pada komoditas, serta tekanan inflasi tetap menjadi ujian bagi kebijakan pemerintah. Perbaikan struktural dan dukungan terhadap UMKM serta sektor manufaktur menjadi langkah penting untuk menjaga kestabilan dan pertumbuhan jangka panjang. (d09)

Share:   
https://wa.wizard.id/003a1b

FOLLOW US ON FACEBOOK
FOLLOW US ON INSTAGRAM
FOLLOW US ON TIKTOK
@dailypost.id
ekakraf multimedia