Rupiah Melemah di Tengah Antusiasme Menanti Kebijakan Moneter

Dailypost.id
Uang Indonesia (Rupiah). Foto: CNBC

DAILYPOST.ID Dalam pembukaan perdagangan hari ini, rupiah kembali menunjukkan pelemahan terhadap dolar Amerika Serikat (AS) dengan nilai Rp 15.030/US$1, turun sebesar 0,07% dari nilai sebelumnya. Fluktuasi rupiah ini menjadi perhatian pasar yang sedang dalam sikap wait and see, mengamati perkembangan kebijakan moneter baik dari Indonesia maupun AS.

Perkembangan moneter tidak hanya menjadi fokus di Indonesia, tetapi juga di lima bank sentral besar di dunia, termasuk Bank Sentral Amerika Serikat (The Fed). Para analis dan ekonom juga menanti rapat dari Bank Sentral Eropa (ECB), Bank Sentral Jepang (BoJ), dan Bank Sentral Afrika Selatan.

Khusus untuk Bank Indonesia, rapat Dewan Gubernur akan mengumumkan tingkat suku bunga pada 25 Juli 2023. Berdasarkan polling CNBC Indonesia yang melibatkan 12 analis/ekonom, diperkirakan bahwa BI akan tetap menahan suku bunga di level 5,75% pada bulan ini.

Baca Juga:   Rupiah Melemah, Picu Potensi Kenaikan Harga Barang Elektronik

Pasar juga menantikan hasil rapat Federal Open Market Committee (FOMC) dari The Fed yang akan diumumkan pada Rabu waktu AS atau Kamis dini hari waktu Indonesia. Rapat FOMC bulan ini menjadi momen penting karena akan mempengaruhi ekspektasi pasar terhadap kebijakan moneter The Fed. Meskipun diprediksi ada kemungkinan besar bahwa The Fed akan menaikkan suku bunga sebesar 25 bps menjadi 5,25-5,50%, yang menarik perhatian pasar adalah sinyal kapan pelonggaran kebijakan akan dilakukan.

Berbagai sentimen turut mempengaruhi pergerakan rupiah hari ini. Di sisi internal, investor asing tercatat melakukan net buy di pasar SBN sebesar Rp 4,67 triliun pada 17-20 Juli 2023. Meskipun jumlah ini lebih rendah dari pekan sebelumnya, tetap memberikan dukungan bagi pergerakan rupiah.

Baca Juga:   Awal Pekan, Rupiah Melemah Terhadap Dolar AS

Sementara itu, aturan baru mengenai DHE Sumber Daya Alam juga memberikan berita positif bagi pasar. DHE akan diperketat dengan mewajibkan eksportir untuk menyetor minimal 30% DHE selama minimal tiga bulan. Hal ini diharapkan dapat meningkatkan pasokan dolar AS di Indonesia dan berpotensi memperkuat rupiah di masa mendatang.

Namun, ada sentimen negatif yang datang dari China, dimana Produk Domestik Bruto (PDB) pada kuartal II-2023 hanya tumbuh sebesar 6,3% (year on year/yoy), di bawah ekspektasi yang sebesar 7,3%. Pertumbuhan ekonomi China juga menunjukkan perlambatan dari kuartal sebelumnya, hanya mencapai 0,8% dari kuartal pertama.

Perdagangan hari ini menjanjikan berbagai perkembangan menarik yang dapat mempengaruhi nilai tukar rupiah. Semua mata tertuju pada rapat moneter dan kebijakan yang akan diumumkan oleh bank sentral, baik dari dalam maupun luar negeri. Sementara itu, sentimen positif dari aturan baru mengenai DHE memberikan harapan bagi penguatan rupiah, namun harus tetap waspada terhadap sentimen negatif dari China yang dapat berdampak global.

Baca Juga:   Dolar AS Tembus Rp 17.000! Rupiah Melemah, Bank Naikkan Harga Jual

 

Share:   
https://wa.wizard.id/003a1b
Rekomendasi Produk TikTokShop

Promo Kursi Gaming

Rp5xx.xxx

Belanja Aman di Sini

Kursi Kerja Ergonomis

Rp3xx.xxx

Belanja Aman di Sini

Meja Kerja/Gaming

Rp2xx.xxx

Belanja Aman di Sini

Meja Kerja/Gaming

Rp2xx.xxx

Belanja Aman di Sini

FOLLOW US ON FACEBOOK
FOLLOW US ON INSTAGRAM
FOLLOW US ON TIKTOK
@dailypost.id
ekakraf multimedia