Gorontalo — Hasil monitoring Pengamatan Dampak Kekeringan (PM-AAS) di Kabupaten Boalemo ditindaklanjuti dengan langkah cepat untuk mengantisipasi dampak kekeringan terhadap pertanaman. Penanganan dilakukan di Paketan Ilohiliuma, Desa Mekarjaya, Kecamatan Wonosari, Kabupaten Boalemo, pada areal pertanaman yang mengalami keterbatasan pasokan air.
Berdasarkan hasil monitoring yang dilakukan pada 28 September 2026 oleh petugas Pengendali Organisme Pengganggu Tumbuhan (POPT), Penyuluh Pertanian Lapangan (PPL) bersama pemilik lahan, diketahui terdapat 2,5 hektare areal pertanaman dengan umur tanaman 61 hari setelah tanam (HST) yang terdampak kondisi kekeringan.
Kondisi tersebut terutama dipengaruhi oleh keterbatasan sumber air yang berada cukup jauh dari lokasi pertanaman. Menindaklanjuti kondisi tersebut, Balai Wilayah Sungai (BWS) melakukan mobilisasi mobil tangki untuk membantu memenuhi kebutuhan air tanaman di areal terdampak.
Air didistribusikan menggunakan mobil tangki yang dilengkapi mesin penyiram (sprinkler) sehingga dapat disalurkan langsung ke areal pertanaman. Penyiraman dilakukan secara bertahap dengan memperhatikan kondisi tanaman dan kebutuhan air di lapangan.
Kepala UPT Balintan DKPTPH Provinsi Gorontalo, Abd. Wahid Lahay, mengatakan bahwa langkah penanganan tersebut merupakan bagian dari upaya bersama untuk merespons cepat kondisi pertanaman yang terdampak kekeringan.
“Hasil monitoring di lapangan menjadi dasar untuk segera mengambil langkah penanganan. Karena sumber air cukup jauh dari lokasi pertanaman, mobilisasi mobil tangki menjadi salah satu upaya untuk membantu memenuhi kebutuhan air tanaman agar pertumbuhannya tetap terjaga,” ujar Abd. Wahid Lahay.
Menurutnya, koordinasi antara petugas di lapangan, BWS, POPT, PPL, dan petani sangat penting dalam memastikan penanganan dilakukan secara tepat sesuai kondisi yang dihadapi.
“Yang paling penting adalah bagaimana kita bersama-sama menjaga pertanaman petani agar tidak semakin terdampak akibat kekurangan air. Monitoring akan terus dilakukan sehingga apabila terdapat perkembangan kondisi di lapangan, langkah penanganan dapat segera disesuaikan,” tambahnya.
Penanganan ini sekaligus menjadi bentuk respons cepat terhadap hasil pemantauan lapangan guna meminimalkan risiko penurunan pertumbuhan dan produktivitas tanaman akibat kekurangan air.
Melalui sinergi antara BWS, DKPTPH, POPT, PPL, petani, serta petugas lapangan, diharapkan distribusi air dapat berjalan efektif dan membantu mempertahankan kondisi pertanaman hingga memasuki fase panen.
Monitoring terhadap areal pertanaman terdampak akan terus dilakukan sebagai bahan evaluasi untuk menentukan langkah penanganan berikutnya sesuai dengan perkembangan kondisi kekeringan di lapangan.














