BANDA ACEH – Pemerintah Provinsi Gorontalo tak mau tertinggal dalam era digitalisasi pemerintahan. Dalam upaya membenahi sistem tata kelola data daerah yang masih terfragmentasi, Gorontalo memilih “berguru” pada Provinsi Aceh yang sukses meluncurkan Portal Satu Data dan sistem informasi inklusif hingga ke tingkat desa.
Wakil Gubernur Gorontalo, Idah Syahidah Rusli Habibie, dengan lantang menyatakan bahwa transformasi data bukan lagi pilihan, melainkan keharusan. Hal itu disampaikannya dalam kegiatan Pembelajaran Lintas Provinsi yang digelar di Banda Aceh, Rabu (11/6/2025), sebagai bagian dari kerja sama antara Program SKALA (Kemitraan Australia–Indonesia) dan Kemendagri.
“Gorontalo masih dalam proses menuju Satu Data. Praktik baik dari Aceh menjadi inspirasi besar. Kami berharap implementasi di Gorontalo bisa lebih cepat dan tepat sasaran,” tegas Idah.
Kegiatan ini menghadirkan tiga provinsi dampingan yakni Gorontalo, NTT, dan Maluku, untuk melihat langsung keberhasilan Aceh dalam mengintegrasikan 32 urusan pemerintahan ke dalam satu portal data. Menariknya, Aceh tak hanya unggul dalam sistem teknis, tapi juga dalam inklusivitas data, lewat sistem SIGAP (Sistem Informasi Gampong) yang menjangkau kelompok rentan seperti perempuan, penyandang disabilitas, hingga masyarakat terpencil.
Pemerintah Gorontalo menyadari bahwa selama ini, pembangunan daerah sering terhambat oleh tumpang tindih data, minimnya interoperabilitas antar lembaga, hingga lambatnya proses analisis kebijakan. Semua ini berdampak langsung pada kualitas pelayanan publik.
Dengan semangat belajar dari Aceh, Pemprov Gorontalo membuka peluang terjadinya revolusi data, di mana setiap keputusan berbasis data yang akurat, mutakhir, dan inklusif.
“Kami ingin ada kunjungan balik dari Aceh ke Gorontalo, supaya pembelajaran ini benar-benar dua arah,” tambah Idah Syahidah.
Menurut Yeni Indah Susanti, Kabid Pengelolaan Data dan Informasi Kemendagri, keberhasilan Aceh mengembangkan Portal Satu Data dan SIGAP adalah wujud dari kepemimpinan daerah yang berkomitmen tinggi terhadap keterbukaan informasi dan efektivitas pembangunan.
“Kami berharap Gorontalo bisa mengadaptasi pendekatan ini bukan hanya sistem, tapi juga semangat inklusifitas dan gotong royong data,” ujar Yeni.














