Oleh : Fitriyah Hanifah | Aktivis Muslimah
Opini — Dalam sepekan terakhir, dua anak ditemukan meninggal diduga akibat bunuh diri di Kabupaten Cianjur dan Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat.Peristiwa pertama terjadi di Kampung Cihaur, Desa Gunungsari, Kecamatan Ciranjang, Kabupaten Cianjur, Rabu (22/10/2025) sore. Warga digegerkan meninggalnya anak laki-laki berusia 10 tahun berinisial MAA. Dia siswa kelas V salah satu SD negeri di wilayah tersebut.Peristiwa serupa terjadi beberapa hari kemudian di Kabupaten Sukabumi. Siswi kelas dua SMP berinisial AK (14) ditemukan tewas gantung diri di kusen pintu rumahnya di Kecamatan Cikembar, Selasa (28/10/2025) malam.Korban diduga mengakhiri hidupnya setelah dirundung di sekolahnya. Hal ini terungkap dari selembar surat yang ditinggalkan korban sebelum mengakhiri hidupnya. (Kompas.id, 31/10/2025)
Peristiwa yang sama terjadi yang melibatkan Dua siswa sekolah menengah pertama di Kecamatan Barangin, Kota Sawahlunto, Sumatera Barat, ditemukan bunuh diri di sekolah selama Oktober 2025.Kedua siswa tersebut adalah Bagindo Evan (15), siswa kelas VIII Sekolah Menengah Pertama (SMP) 7 Sawahlunto, dan Arif Nofriadi Jefri (15), siswa kelas IX SMP 2 Sawahlunto. Bagindo ditemukan tergantung di ruang kelas, Selasa (28/10/2025) siang, sedangkan Arif ditemukan tergantung di ruang OSIS, Senin (6/10/2025) malam.
Rapuhnya Mental Generasi
Dosen sosiologi Universitas Negeri Padang (UNP), Erianjoni, berpendapat, dugaan bunuh diri yang menimpa remaja diatas menunjukkan krisis kesehatan mental pada generasi Z dan generasi alpha. Sejumlah studi memang menyebutkan bahwa gen Z dan gen alpha rentan mengalami depresi dan tekanan psikologis.Semakin tingginya tekanan hidup, kata Erianjoni, terjadi akibat tingginya rata-rata durasi akses gawai oleh remaja di Indonesia sehingga interaksi dengan manusia secara langsung semakin minim. Ketika masalah datang, remaja ini tidak terbiasa curhat ke lingkungan terdekat.
Gejala itu tampak dari hasil Indonesia-National Adolescent Mental Health Survey 2022. Sebanyak 15,5 juta (34,9 persen) remaja mengalami masalah mental dan 2,45 juta (5,5 persen) remaja mengalami gangguan mental. Dari jumlah itu, baru 2,6 persen yang mengakses layanan konseling, baik emosi maupun perilaku (Kompas.id, 3/5/2023).
Kondisi kesehatan jiwa anak-anak Indonesia menghadapi “lampu merah”. Wakil Menteri Kesehatan (Wamenkes), Dante Saksono Harbuwono, mengungkapkan data mengkhawatirkan dari program pemeriksaan kesehatan jiwa gratis yang diselenggarakan oleh Kementerian Kesehatan.Angka temuan menunjukkan lebih dari dua juta anak di Indonesia saat ini berjuang dengan berbagai bentuk gangguan mental. Hasil pemeriksaan yang telah menjangkau sekitar 20 juta jiwa secara keseluruhan, mengungkap besarnya krisis yang tersembunyi di kalangan generasi muda. (republika.co.id,30/10/2025).
Kapitalisme Biang Masalah
Masalah kesehatan mental pada remaja memang bukan hal sepele karena mereka adalah calon penerus pemimpin bangsa. Dalam waktu 25—40 tahun lagi, merekalah yang akan memegang tanggung jawab negeri ini. Namun, dapat kita bayangkan, apabila pada saat masa muda sudah mengalami masalah mental, masa depan negeri ini pasti akan hancur. Jadi, munculnya masalah kesehatan mental pada remaja tidak dapat dianggap enteng dan tidak semua bunuh diri ini disebabkan bullying. Fakta ini lebih menggambarkan bahwa kepribadian yang rapuh pada remaja merupakan faktor yang mendorong mereka melakukan bunuh diri.
Kerapuhan kepribadian anak mencerminkan lemahnya dasar akidah anak. Hal ini adalah implikasi dari pendidikan sekuler yang hanya sekedar mengejar prestasi fisik dan mengabaikan pengajaran agama. Agama hanya diajarkan secara teori tapi tidak meninggalkan pengaruh yang menjasad pada anak.Paradigma batas usia anak juga berpengaruh. Pendidikan Barat menganggapanak baru dewasa ketika berusia 18 tahun. Sehingga sering kali anak sudah balig namun masih diperlakukan sebagai anak dan tidak dididik untuk menyempurnakan akalnya.
Bunuh diri adalah puncak dari gangguan kesehatan mental. Gangguan mental adalah buah berbagai persoalan yang terjadi, mulai dari kesulitan ekonomi, konflik orang tua termasuk perceraian, hingga tuntutan gaya hidup, dan sebagainya. Hal ini akibat penerapan sistem kapitalisme. Berbagai faktor tersebut termasuk faktor non klinis yang mempengaruhi gangguan mental.Paparan media sosial terkait bunuh diri dan komunitas sharing bunuh diri yang semakin banyak mendorong remaja dan anak2 makin rentan bunuh diri. Lantas, bagaimana solusi yang shahih untuk menyelesaikan problem mental generasi?
Sistem Islam Mewujudkan Generasi Tangguh
Islam sebagai sistem kehidupan yang diturunkan oleh Zat Yang Maha Sempurna, menawarkan solusi mendasar bagi berbagai problematik kehidupan, termasuk masalah kesehatan mental generasi. Dalam pandangan Islam, setiap manusia wajib diberi pemahaman sejak dini bahwa tujuan penciptaannya adalah menjadi hamba Allah dan menjalani hidup dalam rangka beribadah kepada-Nya.
Kerangka berpikir ini membentuk cara pandang yang utuh terhadap kehidupan. Seorang muslim diajarkan untuk tidak menjadikan dunia dan pencapaian materi sebagai tujuan utama, melainkan sebagai sarana untuk meraih rida Allah. Ketika menghadapi kegagalan, kehilangan, atau musibah, mereka tidak larut dalam kesedihan, karena telah ditanamkan keyakinan bahwa setiap ujian adalah bentuk kasih sayang Allah dan peluang untuk meraih pahala.
Islam menjadikan dasar pendidikan dalam keluarga, sekolah dan seluruh jenjang pendidikan adalah akidah sehingga anak memiliki kekuatan untuk bertahan dalam menghadapi setiap kesulitan.Tujuan sistem pendidikan Islam adalah membentuk pola pikir dan pola sikap Islam, sehingga pada diri siswa terbentuk kepribadian Islam.
Dalam Islam ketika balig anak juga diarahkan untuk aqil sehingga Pendidikan anak sebelum balig Adalah Pendidikan yang mendewasakan dan mematangkan kepribadian Islamnya.Penerapan Islam mencegah terjadinya gangguan mental, sekaligus menyolusi persoalan ini secara tuntas, karena Islam mewujudkan kebaikan pada aspek non klinis, seperti jaminan kebutuhan pokok, keluarga harmonis, juga arah hidup yang benar sesuai tujuan penciptaan.Kurikulum pendidikan Khilafah memadukan penguatan kepribadian Islami (karakter) dengan penguasaan kompetensi ilmu. Sehingga murid mampu menyikapi berbagai persoalan kehidupan dengan cara syar’iy dan menjadikan mereka generasi punya mental tangguh sebagai penerus peradaban mulia. Wallahu’alam bishawab














