Seminar Tata Kelola Tahura Gorontalo Digelar, Mengangkat Tajuk dari Gorontalo Untuk Dunia

Seminar Tata Kelola Tahura Gorontalo. Foto: Istimewa

DAILYPOST.ID , Gorontalo Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Gorontalo menggelar seminar bertajuk ‘Tata Kelola Taman Huta Raya (Tahura) Gorontalo Menuju Keseimbangan Iklim Global’.

Kegiatan yang berlangsung di Hotel Aston Kota Gorontalo ini sukses digelar atas kerjasama pihak Pemkab Gorontalo dan Yayasan Adudu Nantu Internasional (YANI) serta Pemerintah Provinsi (Pemprov) Gorontalo.

Seminar ini merupakan tindak lanjut yang dilakukan oleh Pemkab Gorontalo setelah pada Agustus 2022 lalu permohonan perubahan antar fungsi pokok kawasan hutan dari sebagian Hutan Produksi Terbatas (HPT) G. Boliyohuto menjadi Taman Hutan Raya, telah disetujui oleh Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK), melalui SK Menteri LHK No. 810/MENLHK/SETJEN/PLA.2/8/2022 tentang perubahan fungsi antar fungsi pokok kawasan hutan dari sebagian kawasan Hutan Produksi Terbatas Gunung Boliyohuto, menjadi Taman Hutan Raya Seluas ± 6.208 HA di Kabupaten Gorontalo, Provinsi Gorontalo.

TAHURA sendiri menurut Undang-undang No. 5/1990 tentang konservasi sumberdaya alam hayati dan ekosistemnya adalah merupakan salah satu kawasan pelestarian alam (KPA), untuk tujuan koleksi tumbuhan dan satwa yang alami atau bukan alami, jenis asli dan atau bukan asli, yang dimanfaatkan bagi kepentingan umum sebagai tujuan penelitian, ilmu pengetahuan dan pendidikan, juga sebagai fasilitas yang menunjang budidaya, budaya, pariwisata dan rekreasi.

Peraturan tersebut telah mengatur prinsip pengelolaan kawasan konservasi yang perlu memperhatikan aspek perlindungan, pengawetan dan pemanfaatan. Selanjutnya, didalam Peraturan Pemerintah No. 28/2011 tentang pengelolaan kawasan suaka alam dan kawasan pelestarian alam bahwa, kerangka pengelolaan kawasan konservasi terdiri atas perencanaan, perlindungan, pengawetan, pemanfaatan dan evaluasi fungsi kawasan yang kesemuanya perlu memperhatikan kondisi nyata di lapangan, kondisi masyarakat, termasuk kebijakan nasional, regional dan lokal. Dengan demikian maka pengelolaan ekosistem yang adaptif dan berkelanjutan akan terwujud.

Usulan ini merupakan implementasi visi dan misi Bupati Nelson Pomalingo dan Wakil Bupati Hendra Hemeto. Yakni visi Gorontalo gemilang, mandiri menuju masyarakat madani, dengan salah satu misinya adalah pembangunan berbasis wilayah dan adaptasi perubahan iklim.

Ini merupakan cara pimpinan daerah tersebut dalam mewujudkan kesejahteraan sosial ekonomi masyarakat sekitar kawasan hutan, dengan tetap memperhatikan keseimbangan ekologi daerah tersebut.

Inisiasi tersebut pula berdasar atas laporan ilmiah atas riset kolaborasi yang dilakukan oleh Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Universitas Nasional (UNAS) dan YANI, yang telah dilakukan pada Maret hingga April 2019 lalu.

Dalam laporan riset kolaborasi tersebut, Prof. Dedy Darnaedi, salah satu peneliti yang juga merupakan Guru Besar Biologi UNAS, memaparkan hasil temuan tim riset dihadapan Bupati Gorontalo, yaitu diantaranya terdapat beberapa jenis tumbuhan yang belum pernah dilaporkan ditemukan di SM. Nantu Boliyohuto. Ditemukan pula beberapa jenis pohon berdiameter lebih dari 1-2 m dan berbagai jenis rotan dalam jumlah melimpah. Selain kondisi vegetasi hutan yang masih bagus dengan keanekaragaman tumbuhan khas Kawasan Wallacea, berbagai jenis hewan dijumpai antara lain sebanyak 79 jenis burung, 37 jenis di antaranya burung endemik Sulawesi dan dilindungi, ular phyton (Phyton reticulatus), ular mock viver (Psammodynastes pulverulentus), anoa (Bubalus quarlesi) babi hutan Sulawesi (Sus celebensis), monyet hitam (Macaca hecki) dan babi rusa (Babyrousa babyrusa).

Seminar diawali dengan pengantar oleh Bupati Gorontalo Nelson Pomalingo yang dilanjutkan dengan pemutaran video kawasan yang saat ini telah ditetapkan menjadi Taman Hutan Raya sekitar 6.208 Hektar.

Seminar dibuka secara resmi oleh Penjabat Gubernur Gorontalo Hamka Hendra Noer, yang diwakili oleh staf ahli kemasyarakatan.

Acara seminar dimulai oleh Keynote Speech dari Wiratno, Staf Ahli Menteri LHK (Mantan Dirjen KSDAE-KLHK) yang mencoba membuka wawasan keanekaragaman hayati yang penting untuk dijaga dan dilestarikan. Acara dilanjutkan oleh Wasja, yang saat ini merupakan Kepala Balai Taman Nasional Gn. Halimun Salak memaparkan tentang kelembagaan dan tata kelola di wilayah konservasi. Pemateri selanjutnya diisi oleh Prof. Dedi Darnaedi, Guru Besar Biologi Universitas Nasional yang memberikan pemaparan tentang kekayaan Taman Hutan Raya Gorontalo sebagai penyangga Nantu G. Boliyohuto berdasarkan temuan di lapangan riset kolaborasi yang telah dilakukan pada 2019.

Seminar ini dihadiri dari berbagai instansi diantaranya oleh seluruh OPD dari Pemerintah Kabupaten Gorontalo, instansi LHK Provinsi Gorontalo, instansi vertikal diantaranya BPKH dan BKSDA, unsur pemerhati lingkungan termasuk dari beberapa institusi Perguruan Tinggi yang berada di Provinsi Gorontalo yakni Universitas Muhammadiyah Gorontalo (UMGo), Universitas Gorontalo (UG), Universitas Nadhlatul Ulama (UNU) dan Universitas Negeri Gorontalo (UNG). (rls)

Share:   
https://wa.wizard.id/003a1b
Rekomendasi Produk TikTokShop

Promo Kursi Gaming

Rp5xx.xxx

Belanja Aman di Sini

Kursi Kerja Ergonomis

Rp3xx.xxx

Belanja Aman di Sini

Meja Kerja/Gaming

Rp2xx.xxx

Belanja Aman di Sini

Meja Kerja/Gaming

Rp2xx.xxx

Belanja Aman di Sini

FOLLOW US ON FACEBOOK
FOLLOW US ON INSTAGRAM
FOLLOW US ON TIKTOK
@dailypost.id
ekakraf multimedia